Selalu ada yang istimewa di setiap pergantian tahun. Ada yang mencentang wish lists, ada yang membuat wish lists baru, ada yang menertawakan tulisan "tahun ini berat badanku harus turun 10 kilo" karena pada kenyataannya tidak ada lemak yang terbakar satu ons pun, ada pula yang menangisi seseorang yang telah menghilang dalam kehidupan mereka bersamaan dengan hilangnya tahun yang lama. Selalu ada yang istimewa setiap pergantian tahun, entah manis entah pahit, pasti selalu ada.
Hari ini, adalah hari terakhir di bulan Desember. Kami sudah berencana untuk melewatkan malam pergantian tahun bersama di Jogja. Aku tersenyum melihat kesibukan suamiku memindahkan kursi-kursi di teras belakang ke ruang tengah. "Butuh beberapa tempat duduk agar semua orang bisa duduk." begitu katanya saat aku bertanya untuk apa memindahkan kursi. Cucu-cucuku sibuk berlarian dari halaman depan, ke ruang tengah, ke lantai dua, lalu ke ruang tengah lagi. Mereka meributkan sesuatu yang tak begitu jelas di mata tuaku.
"Qila! Dio! Awas nabrak Eyang!" teriak Liza, anak pertamaku, saat kedua anaknya yang hanya selisih dua tahun itu hampir menabrak suamiku. "Kembalikan hape Mama, jangan buat mainan!"
"Mama itu Kak Qila gak,, mau gantian main game nya. Kan culang namanya."
"Kan belom game over dek. Nanti kalo udah game over Kakak kasih!" timpal kakak Dio.
"Qila, kasih hape Mama. Mama hitung sampai tiga ya. Satu... Dua..." belom sampai hitungan ke tiga Qila sudah mengembalikan ponsel milik mamanya. Ia tahu, kalau hitungan ketiga sudah disebut dan ia belum menuruti perintah mamanya, maka tidak akan ada kudapan setelah makan malam nanti.
"Yah Mama, kan Dio belum sempet main game-nya."
"Nanti ya Dio, Mama mau telpon Papa dulu. Udah hampir dua jam masa belom pulang juga."
Aku tersenyum di balik kaktus-kaktus kecil yang sedang aku siram dengan semprotan. Aku memperhatikan mereka semua. Mereka sangat berharga bagiku. Bayangkan betapa bahagianya seorang perempuan tua sepertiku bisa menghabiskan malam pergantian tahun bersama keluarga yang sangat kucintai. Aku sering berpikir, bagaimana jadinya jika aku dulu memilih sesuatu yang berbeda yang mungkin tidak akan menjadikan Liza dan Luna juga cucu-cucuku, Dio dan Qila, ada di dunia ini.
Pepatah kuno itu sering berkata bahwa hidup adalah pilihan. Memang benar. Apa yang kita peroleh hari ini adalah konsekuensi dari keputusan kita kemarin, sebulan yang lalu, atau satu tahun yang lalu. Apa yang tidak kita miliki hari ini adalah bagian dari konsekuensi itu juga.
Apa yang akan terjadi pada hidupku jika aku memilih orang lain untuk menjadi teman hidupku?
Lagi-lagi, pertanyaan itu muncul. Aku melihat suamiku yang mulai kelelahan. Peluhnya menetes di pelipisnya. Aku mendatanginya dengan selembar tisu di tanganku lalu mengelap keringatnya. Aku menatap pria keriput itu dalam. Dia tersenyum. Senyum yang ketika kami masih muda, mampu meyakinkanku untuk memilihnya.
###
This is the beginning for the next chapters guys. Semoga mulai terbangun getar-getar cintanya hehe
love,
Vatma Anggraini
YOU ARE READING
Let Go
RomanceHani adalah seorang perempuan yang lahir dan tumbuh di keluarga yang sederhana. Dia sangat dekat dengan ayahnya. Baginya, ayahnya adalah sosok yang hebat dan pelindung terbaik bagi dirinya dan keluarganya. Hani juga mempunyai sahabat bernama Reihan...
