Tanda Tangan

22 0 0
                                        

     Engkau harus tahu bahwa aku sangat menyukai begitu banyak artis. Pertama, banyak dari mereka sangat luar biasa cantik dan tampan, membuat banyak lelaki dan perempuan di dunia ini tergila-gila, termaksud aku. Kedua, mereka biasanya sangat kaya. Rumah mereka amat bagus dan luas, bandingkan dengan rumahku (atau tepatnya rumah sewaan) yang luasnya tidak lebih dari 8x10 meter saja. Belum baju mereka, kendaraan mereka yang bisa jadi lebih mahal daripada gajiku selama 50 tahun kerja ke depan. Ketiga, mereka sangat populer. Banyak orang berusaha menjadi terkenal, tapi menurutku hanya dua jenis manusia di atas muka bumi ini yang patut jadi terkenal; pertama adalah para politikus, presiden, menteri dan pejabat lainnya, dan yang kedua pastilah artis-artis itu. Pilihan pertama tidak mungkin bagiku. Memengaruhi begitu banyak orang dalam kata-kata indah tidak mudah, dan buat apa kuhabiskan sisa umurku cuma untuk menebalkan kantung mata ? Pilihan kedua tiba-tiba menjadi SANGAT realistis.......

     Alasan terakhir adalah aku orangnya pekerja keras dan fanatik, dan juga narsis. Aku merasa diriku cantik tampan, bagai bidadari bidadara yang turun dari surga, berpostur indah, memiliki suara bagus, sehingga menjadi artis harusnya menjadi jalan yang mudah bagiku. Uh, takdir memang sialan ! Andaikan saja aku tinggal di tempat yang mewah, penuh dengan produser dan orang-orang terkenal, memakai baj mewah, memiliki tempat tinggal luas. Hidupku seperti berkebalikan seratus derajat. Aku akan naik pesawat pribadi, bukan naik angkot yang masih minta tawar harga. Tamanku akan kulengkapi dengan bunga-bunga indah dan langka, bukan dengan kecoak kampun sebelah dan tikus got yang hidup dan hitam....Demi pelampiasan semua hasrat dan nafsuku, aku jadi seorang fans artis yang fanatik. Aku pernah mengikuti penyambutan artis internasional yang sangat terkenal di bandara di negara ini. Dia sangat terkenal dan amat tampan rupanya. Saat seluruh orang yang menyambut berteriak histeris, aku melakukan satu tindakan yang harus kulakukan pada saat itu juga : Aku menerobos kerumunan dengan kencang, mengambil ancang-ancang kencang-kencang dan sejurus kemudian kutonjok petugas yang mengawal jalannya artis itu sampai pingsan, dan dua orang petugas lainnya sampai merek terjungkal. Tanpa menunda kuajak artis itu berfoto denganku, walaupun mukanya menunjukkan (sedikit)... kepanikan. Akhirnya kedua petugas tadi menangkapku dan aku didisiplinkan dengan kasar selama seharian itu....

    Kefanatikanku tidak hanya berhenti di situ. Aku mempunyai sebuah buku, yakni sebuah buku tanda tangan para artis. Setiap artis yang pernah kutemui, mulai dari penyanyi organ nikahan desa sampai artis internasional. Mulai artis umur 3 tahun sampai yang ada di pantai jompo. Bahkan aku berencana membuat buku yang kedua setelah yang pertama selesai. Sayangnya, belakangan ini tidak ada artis yang muncul. Tetanggaku sudah nikah semua. Artis internasional tinggal sedikit yang datang, takut nanti petugasnya ditonjok lagi ( Serius, lihat Tweetnya !).

     Namun, keinginan kadang memang dapat menggerakkan kekuatan aliran energi bumi. Tiba-tiba saja, artis yang bernama ATP, seorang artis internasional yang sedang naik pamor, berencana mengadakan konser di sini ! Tergelitik kegembiraan yang tidak jelas ini, kutanyakan pada setiap orang mengenai tanggal, tempat konsernya. Kutanyakan pada temanku di klub fans, di sekolah, kutanyakan pada mbok di pasar, tiang listrik, kucing tetangga, kecoak dan tikus yang kubenci. Namun usahaku belum banyak berbuah, dan pada suatu malam aku menagis sesunggukan. Pada akhirnya kesabaran yang akan menentukan, kan ?

     Pada suatu sore yang indah dan cerah, saat aku memainkan kucing di halaman depan, kucingku mengeong, memberikan sinyal-sinyal aneh kepadaku. Lalu aku menyalakan radio, dan sayup sayup terdengar tanggal berapa ATP akan mengadakan konser di negeri ini. Duhai, betapa gembira aku ! Dengan sigap kubeli tiket peswat sehari sebelum datangnya dia. Sudah dapat kubayangkan rambutnya yang halus bergoyang-goyang, mukanya yang manis mengeluarkan senyum yang memecah belah perasaan, suara yang merdu nan menaklukkan hati ! Hari-hari itu tidak menjadi tenang; pada akhirnya buku legendaris milikku akan menjadi lengkap ! ( Omong-omong kucing itu sekarang sudah kuanggap keluarga sendiri.)

     Untuk mempersingkat cerita, mari kita menuju ke hari di mana ATP akan datang. Dua jam sebelum ATP datang ke negeri ini, aku telah sampai ke ibu kota, demi mendapatkan barisan depan saat penyambutan. Namun, keheranan muncul saat kulihat betapa sepinya orang yang membawa embel-embel ATP, semuanya terlihat sibuk mengurus bagasi dan tiket pesawat mereka masing-masing.

     Dengan rasa ingin tahu yang luar biasa, aku menemui seorang penjaga toko yang di tokonya ditempeli poster ATP :

     "Maaf, Pak , permisi. Kalau boleh tahu kapan ATP sampai ya pak ? Kok, bandara masih sesepi ini ?" Bapak penjaga toko melirik sebentar, lalu memandangku selayaknya aku ini orang gila.

     "Benar-benar tidak tahu ?" Tanyanya, belum tahu aku bisa kapan saja meninju muka dia. Right on the face. Tapi demi menemui ATP dan melengkapi buku tanda tanganku yang legendaris ini, kutahan seluruh tsunami emosiku. 

     "Benar, Pak. Buat apa saya bohong ?"

     "Kamu tidak lihat beritakah ?"

     "Emmm.......Mungkin......" Jawabku ragu. Berapa lama aku sudah mendekam di sini, menunggu kedatangan pujaan hati?

     "Baru beberapa jam yang lalu dia kena serangan jantung. Meninggal di tempat. Tidak ada konser. Semua tiket hangus. Makanya baca berita. Beli, nih, empat ribu saja." Jawab penjaga toko, lalu mengalihkan pandangannya ke pertandingan bola yang masih berjalan.

     Badanku gemetar......Jadi, aku tidak akan mendapat tanda tangannya ATP ? Air mata satu dua keluar dari ujung mata, rasa marah, rindu, benci meluap ! AHHHH ! Ingin rasanya ku berlari menangis dan meninju semua orang di bandara sampai pingsan, lalu aku pulang saja dan bunuh diri, biar jasadku jadi santapan kucing itu.... Malangnya aku !

     Hei, tapi bukankah kata orang cinta itu tidak akan dibatasi oleh kematian ? Bukankah jasad ATP akan tetap untuk sementara waktu berada di bawah tanah ? Tiba-tiba aku tidak jadi bunuh diri, tiba-tiba aku jadi bersemangat.....

     Akan  kulengkapi buku itu, akan kugali kuburnya dan kuminta tanda tangannya.

    Setelah melalui pencarian yang begitu panjang, dengan bekal seadanya dan tiket pesawat, akupun sampai di kuburan tempat jasad ATP berada. Lucu - Kukira ATP akan menyewa penjaga siluman untuk menjaga kuburannya, dan aku harus bersyukur bahwa tidak ada yang perlu kutonjoki hari ini. Aku berjalan masuk, memanjat pagar, sekop dan cungkilan di dalam ransel. Dengan seksama aku amati satu persatu kuburan yang ada, sebelum pada tempat yang cukup pojok aku menemukannya : tanahnya masih gembur lagi segar berbau bunga.

    Dengan perlahan, aku mulai gali kembali kuburnya itu. Perlahan tapi pasti, peti jasadnya mulai terlihat, kayunya memantulkan sedikit cemerlang yang muncul dari lampu-lampu kuburan. Dengan sigap kuambil cungkilan dan kubuka peti jasadnya.

     Di sanalah ia terbaring : tenang, damai, dan cantiknya malah makin menjadi.

     Kukeluarkan buku tanda tanganku, dan nyaris kubuka mulutku untuk bertanya, " Boleh minta tanda tangan ?"

     Bodoh. Maut memang tidak memisahkan cinta, tapi yang ini jelas terpisahkan. Mana bisa orang mati menandatangani ?

     Untung aku bawa HP. Setelah mendapat posisi yang cukup pas, aku mengambil swafoto bersama dia. Walaupun kualitas fotonya kurang bagus, tapi setidaknya aku punya bukti bahwa aku pernah bertemu bersama dia; bukan hanya tanda tangan, bahkan foto bersama !

    Awalnya aku khawatir : Kalau ketahuan orang, bisa-bisa aku dipenjara di negeri yang begitu asing  bagiku. Tapi bila koleksiku sudah lengkap, mana aku peduli ?



Sukabumi, 

21 Agustus 2015

     




Tanda TanganStories to obsess over. Discover now