Masih jelas teringat di memoriku, hari dimana kita tertawa bersama. Hari itu, kita mulai akrab. Berawal dari hari itu, kita semakin dekat.
Hari Sabtu.
Dimana aku mulai menyadari ketulusan hatimu, dimana aku mulai menyadari bahwa kamu berbeda dengan mereka. Dimana aku mulai merasa nyaman dan aman bila bersamamu.
Kita bukanlah dua orang yang saling jatuh hati lalu menjalin hubungan untuk saling memadu kasih.
Kita hanyalah sepasang teman yang kian dekat, tanpa ikatan apapun. Sampai akhirnya rasa nyaman itu perlahan hadir.
Kebaikan yang kamu lakukan untukku semata-mata hanya untuk membantu, hanya untuk menolong, hanya untuk meringankan bebanku sebagai teman. Kepedulianmu padaku, sebagai bentuk perhatianmu kepada temanmu. Ya, aku hanyalah seorang teman bagimu.
Desember 2015,
Pertama kalinya kita sangat dekat sebagai seorang teman.
YOU ARE READING
Tak Terucap
RandomHanya curahan hati yang tak mampu diucapkan, sebab tertahan di tenggorokan. Sakitnya ditinggalkan, sesaknya mencinta sendirian, lelahnya menanti hati yang tak pasti, dan perihnya kenangan bersama mantan terurai menjadi satu dalam cerita ini. *Jangan...
