Prolog

226 20 4
                                        

"Mau sampai kapan kalian kayak gini?!"

Mr. Han setengah membentak keduanya. Ia memelototi keduanya dengan tatapan frustasi, kehabisan ide untuk menghadapi kelakuan mereka. Ia berkacak pinggang di depan keduanya yang kini tengah menundukkan kepalanya.

Dibalik ekspresi menyesal mereka, tangan mereka usil bermain-main. Dibalik punggung mereka, keduanya malah asyik bermain gunting-batu-kertas—untuk menentukan siapa yang bakal mentraktir tteobokki sepulang sekolah kali ini.

"Maaf.." Keduanya kompak mengucapkan maaf dengan suara sendu. Selang beberapa detik, keduanya berusaha menahan tawa.

"Sinb, lo kalah lagi. Gantian lo yang traktir." Mulut Yerin bergerak berbisik pada Sinb.

Sesi batu-gunting-kertas kali ini dimenangkan Yerin oleh gunting jagoannya. Dengan kedua jarinya, ia bergerak seperti tengah menggunting-gunting jari Sinb.

"Eish.." Sinb mengumpat pelan.

Keduanya asyik dengan dunia mereka sendiri. Padahal di depan mereka, tengah mengoceh Mr. Han karena ulah mereka yang  'membabak-belurkan' siswi lainnya.

Sebenarnya bukan salah mereka sedari awal. Sekelompok siswi penguasa sekolah beranggotakan tiga orang itu memang sudah terkenal seantero School Of Performing Arts itu. Kelompok itu berisi anak-anak dari anggota komite sekolah, yang mana memiliki pengaruh besar di sekolah.

"Cepatlah pulang. Sudah tidak ada orang disini." Ucap Mr. Han tiba-tiba.

Keduanya mengangkat kepala dan tersenyum lebar. "Benar?" Tanya Sinb berbinar-binar.

Mr. Han mengangguk, "hm. Aku tahu kalian tidak salah. Pulanglah, sebelum terlalu gelap."

Mr. Han, guru yang satu ini memang yang terbaik. Sedari tadi ia berpura-pura memarahi keduanya. Ia tahu sejak awal, bukan merekalah yang mengawali pertengkaran tadi.

"Bagaimana dengan hukuman membersihkan toiletnya?" Yerin bertanya dengan penuh harap.

"Gampang, udah pulang sana. Tapi lain kali, gak usah ladeni mereka, toh kalian tau sendiri kelakuan mereka kayak gimana. Enggak semua guru kayak saya." Mr. Han tersenyum, "jangan kena masalah lagi, janji."

Keduanya tersenyum lebar, menunjukan deretan gigi-gigi putih yang terselip satu cabe di gigi Yerin.

"Terimakasih, Mr. Han!" Keduanya membungkuk dengan semangat dan langsung berlari keluar menyusuri lorong sekolah.

"Ckckck.. Dasar."

...

"YERIN-AH, BERAT ANJIR!" Keluh Sinb berteriak karena mendadak Yerin menaiki punggungnya dari belakang.

"Yerin?"

Sinb berhenti, "unnie.." Ia terkikik dan menjatuhkan Yerin dari punggungnya.

"AW! Anjir lu Sinb, SINI LU!" Yerin mengelus-elus pantatnya yang ia gunakan untuk mendarat. Ia segera bangkit dan mengejar Sinb penuh dendam.

Sinb buru-buru berlari, "MAAP YER GUA KAGAK SENGAJA!" Ia tertawa terbahak-bahak sambil terus berlari.

Keduanya saling mengejar bak pasangan di film Bollywood. Sesekali Sinb menengok kebelakang untuk memastikan posisi Yerin yang semakin dekat.

Sinb terus saja tertawa seperti orang aneh. Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang. Keduanya terlihat bahagia sekali seakan tak ada orang lain di sekeliling mereka.

"EH, EH—"

"KETANGKEP! SINU LU SINB!" Yerin memeluk Sinb dari belakang dan mulai menjitaki kepalanya berkali-kali. "Hm? Masih berani?" Kali ini ia beralih menggelitiki pinggang Sinb.

Sinb tertawa terpingkal-pingkal hingga terbaring di tanah. Ia menggeliat menghindari serangan tangan Yerin. Keduanya tertawa terbahak-bahak bersama dan duduk dibawah bersebelahan.

"Lah, nih warung tteobokki nya."

Keduanya saling menatap, dan tersenyum lebar. Yerin mengalungkan tangannya di bahu Sinb, "yuk, masuk!" Serunya.

"Bu, tteobokki nya satu. Lo?" Sinb menoleh kearah Yerin.

"Bu, aku pesen tteobokki-nya.. Berapa porsi ya?" Yerin berdehem pelan, "pesen lima aja deh!"

"Buset!"

———————————

Duit gua ㅠㅠ
-Sinb

———

Vote and Comment! 💟

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 24, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

For YouWhere stories live. Discover now