Tahun 1800 di London adalah tahun di mana kehidupan dipetak-petakkan seperti kandang babi. Kualitas A ditempatkan spesial dan kualitas D sampai F akan dibaurkan dalam satu kandang. Bukan berdasarkan usia atau kelamin, melainkan kualitas dirimu atau kualitas keluargamu.
Galbraith adalah keluarga bangsawan yang dihormati di daratan Britania Raya. Bagaimana tidak, keluarga mereka adalah jalan hidup bagi orang-orang yang menetapkan diri di tanah Dunvegan, Isle of Skye itu. Satu-satunya penghasil pangan yang memegang penuh kuasa akan keberlangsungan hidup masyarakat Isle of Skye. Hidup yang dipetakkan jauh sebelum orang-orang tersebut menghirup udara segar, dimana Galbraith berada di kandang kualitas A sebagai pemimpin generasi terpandang dari empat generasi berjalan.
Generasi keempat dipimpin oleh seorang laki-laki berambisi besar berhati kecil, Fitzgerald Galbraith. Seorang lelaki yang hidup untuk mencintai wanita, hingga kenyataan datang dan menamparnya, membangunkannya dari angan pemuda naif yang konyol. Ia menikahi cinta pertamanya, Emily Dean. Gadis desa rupawan yang sama sekali tidak mencirikan Galbraith dari sisi manapun. Drama keluarga dimulai dari pertentangan, penghinaan, hingga pertumpahan darah, semuanya dikarenakan kedatangan Emily ke landing mereka. Para tetua Galbraith tidak pernah setuju atas pernikahan tersebut, bahkan setelah mulut mereka mengatakan persetujuan, diam-diam mereka sedang mengasah pisau untuk menusuk Emily suatu hari nanti. Bagi mereka, Emily adalah noda bagi Galbraith. Jika noda tersebut dibiarkan begitu saja, maka sama saja halnya merusak Galbraith selamanya. Melihat Emily melangkahkan kaki ke dalam Galbraith Landing saja, benar-benar telah berhasil menyakiti harga diri para tetua Galbraith. Sampai di sana, mereka berjanji akan menyeret kaki wanita itu keluar dari tanah suci leluhur mereka, Galbraith Landing.
Galbraith Landing terdiri dari 278 anak tangga menuruni tebing curam, yang berakhir di perkebunan tua Galbraith . Jalan masuk ke sana melewati lahan terbuka luas yang membentang sekitar 300 meter dari tepi tebing sampai memasuki hutan. Di tengah lahan terdapat sebuah kastel tua dengan lebih dari 100 ruangan yang masih terawat dengan baik. Terdapat 270 pekerja, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih, bagian dari sebuah kepercayaan lama keluarga tua tersebut. Di mana 70 orangnya mendapatkan kelayakan untuk menginjak kastel Galbraith dan yang lainnya harus puas dengan merawat ternak dan perkebunan di luar dinding kuno kastel Galbraith. Landing tersebut telah berdiri selama empat generasi, sebagai pusat bisnis keluarga Galbraith.
Dari tahun 1800, empat tahun berjalan setelah pernikahan Fitzgerald Galbraith dan Emily, semuanya berjalan dengan sangat baik, tidak sekalipun Fitzgerald menyesali keputusannya untuk menikahi wanita yang ia kasihi. Nyatanya, hidupnya berjalan dengan penuh warna dan arti, kebahagiaan yang tidak ternilai oleh apapun. Kehidupan pernikahan yang sempurna, jika mereka melupakan arti penting kehadiran seorang penerus. Empat tahun bukan waktu yang singkat, normalnya tiga penerus harusnya telah hadir dan menyempurnakan kehidupan mereka berdua. Sayang, pencipta tidak pernah memberikan kehidupan sempurna kepada ciptaannya.
"Lord Galbraith, persuntinglah seorang gadis bangsawan untuk mendapatkan keturunan dan mengembalikan martabat keluarga ini." Suara rapuh itu berasal dari Kendrick Galbraith, dengan wajah memelas dan tangan bergetar, menatap Fitzgerald dengan keputusasaan.
"Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu, Ayah?" Franklin bersuara, nadanya tinggi dan dipenuhi amarah, membungkam seluruh mulut yang baru saja akan mengeluarkan hinaan yang lebih menyakitkan dibanding kalimat Si Tua Kendrick.
"Hahahaha!" Tawa menggelegar Fitzgerald membuat wanita yang duduk di sebelah kanannya menitihkan air mata. Emily, wanita itu, tak mampu mengangkat kepalanya dan menatap suaminya lagi. Sedangkan beberapa pasang mata tetap setia menghujam Emily dengan tatapan hina yang menusuk.
"Jangan kau pikirkan apa yang kau dengar hari ini, Fitzgerald. Kami hanya sedikit terguncang." Suara Franklin memecah keheningan yang tercipta setelah Fitzgerald tertawa keras.
YOU ARE READING
Red White
FantasyBukankah dalam benakmu selalu teringat bahwa si jahat merah dan si baik hati putih? Konyol. Terkadang, orang-orang lupa kenyatan bahwa keduanya adalah bawang. Sejenis, sama-sama membuat mata orang lain perih. Kisah ini adalah kisah antara Red dan W...
