01

19 2 0
                                        

Gadis berumur 18 tahun ini memulai hari seperti hari-hari 3 tahun yang lalu. Masih sama dan tidak ada yang berbeda. Hanya saja hari ini gadis itu di pusingkan lagi dengan uang.
Uang yang selalu mengejar dunianya, lelah dan bosan dengan masalah uang.

Tapi apa boleh buat, gadis itu memerlukan uang sekarang.

"La udah rapih belum? Nanti telat" Teriak Naya di dapur menunggu Aqilla sang adiknya.

Tak lama Lala sudah rapih dan cantik seperti dirinya. Lala mempunyai rambut coklat yang panjang sebahu, mata kecoklatam dan bulu mata yang indah. Lala berusia 12 tahun menjinjak 6 SD yang berarti akan ada tour perpisahan sekolah. Yang pasti akan membutuhkan uang lagi.

Lala dan Naya berjalan beriringan ke luar rumah tak lupa mengunci pintu. Nanya menghampiri sepeda berwarna Baby blue yang sangat manis. Lala duduk di belakang. Hari ini seperi biasa pula Nanya mengantarkan adiknya ke sekolah dengan sepeda kesayangannya.

Sesampainya di sekolah Lala, gadis itu berpamitan berjalan ke gerbang sekolahnya. Untung saja jarak rumah dan sekolah Lala tidak terlalu jauh jadi Nanya tidak membutuhkan tenaga extra.

Nanya memarkirkan sepedahnya, berjalan menuju kelas. Tetapi jalannya di halang oleh laki-laki yang Nanya tidak tahu, karena sedari tadi Naya menundukan kepalanya.
Yang terlihat hanya sepatu mahal dan bermerek. Perlahan Nanya menaikan kepalanya dan melihat siapa laki-laki itu.
Siapa lagi jika bukan dia.

"Minggir" ucap Nanya tanpa menatap pria itu.

Pria itu hanya mengendus sebal tepat di depan wajah Naya.

"Siapa lo ngusir gue, miskin"

Nanya tetap tidak menghiraukan pria itu, Nanya berjalan mencari celah untuk dirinya berjalan. Tetapi nilil pria itu tetap menghalang jalannya.

"Tck, mau lo tuh apa sih!"

"Mau gue? Lo di keluarin dari sekolah ini" bangganya pria itu mengucapkan kalimat itu. Yang jelas-jelas membuat Nanya jijik dengannya.

"Bahkan nyokap lo lebih simpatik ke gue, lo yang anaknya mungkin gak di anggap" Naya meledek pria itu sambil terkekeh.

Pria itu sesaat tercengang dengan ucapan wanita miskin itu.

Nanya menertawakan dirinya. Lalu berjalan melewati pria itu yang masih kaget dengan ucapan Kanaya.

Kanaya duduk dengan Qansa, papah Qansa pengusahan besar di Indonesia. Terkadang Kanaya merasa tidak pantas di dekat Qansa, karena perbedaan yang yang jauh di bandingkan Qansa.

Kanaya bersekolah disini karena mendapat beasiswa yang mengharuskan Kanaya bersekolah di sekolah highclass.

Setiap hari Kanaya selalu membawa bekal ke sekolahnya, hari ini ia makan siang bersama Qansa di meja ujung kantin.
Kanaya tidak mau menjadi pusat perhatian warga sekolah ini.

Saat Kanaya ingin memasukan roti ke mulutnya sebuah tangan menenggolnya, dan rotinya terbuang ke lantai.
Dan di hitungan ke tiga, seseorang menginjak roti Kanaya dengan sangat keras.

Kanaya hanya melihat dan menghela napas pasrah. Bekalnya hilang sudah.

"Uhh sorry senggaja" ucap seseorang di samping Kanaya.

Kanaya tetap tidak menghiraukan pria tersebut, percuma saja. Pria itu mendekat ke telinga Kanaya lalu membisikan sesuatu "Makanan lo gak pantes di bawa-bawa ke sekolah ini. Karena apa? Karena murahan, sama seperti pemiliknya"

Cukup Kanaya bersabar atas semua tingkah laku pria ini. Semakin di diamkan, semakin dia membuat ulah.

Kanaya berdesis kesal, berdiri dari kusri kantinnya. Dan menatap pria itu, Karell.

"Orang kaya lo gak pernah mikirin gimana hidup yang sebenarnya kan? Orang kaya lo gak pantes buat dihargain! Dan orang kaya lo gak pantes buat di hormati."

"Orang kaya lo cuma mikir hari ini mau ngabisin uang berapa banyak dan hura-hura pakai uang orang tua!"

Kanaya meninggalkan Karell, sekuat mungkin Kanaya menahan bulir-bulir air matanya agar tidak jatuh ke pipinya. Napasnya naik turun menahan amarah.

Kanaya berjalan ke perpustakaan, ke ruang bu Ida.

"Assalamulaikum bu" ucap Kanaya memasuki ruang bu Ida.

"Waalaikumsallam"

Kanaya mengambil uang yang ada di kantong bajunya, lalu menyerahkan kepada bu Ida.

"Saya baru punya 500 ribu, 200 nya kalo saya sudah punya uang ya bu. Saya ambil setengah buku dulu"

"Sebetulnya sih tidak boleh, tapi karena kamu anak beasiswa yasudah ibu bolehkan"

Kanaya bernapas lega, akhirnya ia tidak harus meminjam buku Qana melulu.

💙💜💙

"Sa gua duluan ya, mau ke Cafe mbak Vina" Kanaya yang masih membereskan buku dan alat tulisnya.

"Iya, hati-hati ya"

Kanaya berjalan ke parkiran sekolah, aneh kenapa anak-anak melihatnya sambil tertawa-tawa.

Kanaya sudah biasa menjadi pusat perhatian, tetapi ini aneh seperti tidak biasanya.

Kanaya sangat mengenali sepeda Baby bluenya. Tapi mengapa sedikit aneh.

Sepedahnya sekarang penuh dengan coretan warna-warni dan terdapat tulisan spidol.

'ANAK MISKIN'

'ANAK BEASISWA AJA BELAGU LO'

'DAPET DUIT DARI MANA LO? PELACUR DASAR!'

'MURAHAN!'

Dan banyak lagi kata-kata yang tidak seharusnya Kanaya lihat. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, Kanaya hanya pasrah melihat sepeda kesayangannya.
Dan saat Kanaya menaiki sepedanya, Kanaya baru menyadari bahwa sepedanya pun di bocori oleh siswa tidak bertanggung yang jawab.

Yeah. Kanaya tahu ulah siapa ini, siapa lagi kalau bukan. Karell Asthon William.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 15, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hate MyselfWhere stories live. Discover now