PROLOG

11 8 0
                                        

Gadis itu masih saja menendang batu itu dari sekolah hingga sepenjang jalan menuju rumahnya sekarang. Entah apa yang di pikirkan oleh anak itu, yang jelas wajahnya sungguh tidak enak untuk di lihat.

''Semua lelaki sama saja!'' ketusnya.

Sapaan ramah dari orang-orang yang dilewatinya sama sekali tak di gubris.

Gadis malang. Ternyata ia mengetahui kakak kelasnya menyukai gadis lain dan bahkan tak mengenal dirinya.

Ia menunduk melihat batu yang ada di bawah sana seakan apa yang ia sepak-sepak sekarang adalah kepala kakak kelasnya yang baru saja menghancurkan perasaan dia.

''Cih! Aku jamin ia akan menyesal!''

Ia berteriak kencang seraya menendang batunya dengan sangat kuat.

'Tak'

''Aduh!''

Sang gadis sontak mendongakkan kepalanya. Dan ia terkejut saat melihat seorang wanita tengah terduduk tak jauh dari hadapannya.

''Tuhan! Maafkan saya bu''

Tanpa di perintah ia pun meminta maaf dan menghampiri wanita cantik itu.

''Saya sungguh tak sengaja bu''

Buku-buku yang berserakan itu pun di pungut satu persatu olehnya. Ia melihat ada serpihan kaca yang berserakan disitu.

''Aw!''

Sial. Entah karna tak berhati hati atau apa, kaca itu menembus kulit jarinya dan....berdarah. Ia melihat wanita tersebut yang dari tadi senantiasa berdiam diri melemparkam tatapan aneh.

'Apa yang dilihatnya' batin sang gadis.

''Maaf bu, saya ceroboh. Sekali lagi saya minta maaf''

Wanita itu hanya diam. Tak lama ia melepaskan bando tali yang melingkar di kepalanya dan membalut tangan gadis yang terluka itu.

''Siapa namamu?''

Sekian lama akhirnya wanita itu pun berbicara.

''Airel. Airel Alquinsha''

Setelah berdiri dan mengambil buku-bukunya tadi, wanita itupun melenggang pergi meninggalkan Airel. Sendirian.

''Aneh'' gumam Airel.

Saat gadis itu berjalan belum jauh dari tempat kejadian tadi, ia teringat kembali dengan batu yang di tendang olehnya beberapa menit lalu.

''Aku sudah bersumpah akan menendang dan memasukkannya ke parit di depan rumah'' katanya sambil berbalik.

Dan begitu terkejut saat sampai di tempat semula. Ia menemukan toples kaca berukuran kecil ada disitu.

Seharusnya ini adalah puing-puing yang berserakan tadi. Tapi mengapa sekarang itu hilang dan malah ada toples disini?

Pertanyaan itu berputar putar di kepala Airel. Tempat ia berdiri sekarang benar-benar bersih dari yang namanya serpihan kaca.

Ia menggaruk halus pelipisnya. Dari mana toples ini?

Tunggu.

Airel melihat jari manisnya. Dan sungguh itu membuat jantungnya berhenti sedetik.

Lilitan bando itu  mengilang. Dan lukanya sekarang sudah sembuh. Bahkan tidak ada bekas disana. Sedikitpun.

Airel celingukan melihat kemana wanita aneh tadi pergi. Berharap belum jauh karna orang itu sungguh mencurigakan.

AirelStories to obsess over. Discover now