Kriiing Kriing..
Bunyi bel kebebasan yang dinantikan seluruh murid akhirnya berdering. Pelajaran hari itu telah selesai. Murid-murid Kaeru Gakuen pun bersiap-siap untuk pulang dan melupakan semua materi pelajaran hari itu— ralat —maksudnya bersantai bersama teman-teman setelah seharian dibebani oleh tumpukan soal dan materi yang belum tentu semuanya bisa masuk ke otak. Hal itu pun berlaku juga untuk tokoh utama kita yang masih setia tertidur dengan mengubur wajahnya diantara dua lengan yang ditekuk di atas meja. Menikmati suasana di pojok kelas paling belakang yang dasarnya memang jarang ribut.
Namun kenikmatan itu hancur ketika sebuah monster menyerang.
BLETAK!
"Oi, Kuro! Bangun, sudah waktunya pulang!"
Sebuah tangan yang berdosa telah mendarat dengan sempurna di atas kepala sang pemilik nama. Pelakunya adalah lelaki berambut pirang jabrik tajem-tajem dengan mata merah menyala yang mengenakan kaos berwarna merah polos dan dibalut lagi dengan gakuran dan celana panjang yang sangat kebesaran. Penampilan seperti itu pun sering membuatnya disangka preman, ditambah dengan muka seram yang alisnya hampir selalu menekuk ke bawah dan serentetan kata kasar yang selalu keluar dari mulutnya. Dia menenteng tas di pundak dengan maksud langsung pulang, namun melihat sang sohib masih nyasar ke alam sana— alam mimpi —mau tidak mau sebagai teman yang "baik" dia harus membangunkannya.
Menderita rasa sakit di kepalanya, Kuro pun bangun melihat sebuah wajah yang sudah terlalu sering dilihatnya dari kecil, Bakugou Katsuki. Dengan muka yang masih setengah-sadar-setengah-tidur alias mabok, Kuro menguap sebentar dengan mulut sebesar goa Jepang, lalu mengatakan, "Are, sudah waktunya pulang?"
"Udah daritadi, semprul."
"Hoo.."
Mengeluarkan muka (sok)polos (sok)tidak berdosa, Kuro bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya—dia tidak mau repot-repot mengeluarkan satupun alat tulisnya demi kenyamanan tidur, katanya. Katsuki masih menunggu Si Surai Hitam yang rambutnya bagai sarang burung dan emo kiri itu tersadar sepenuhnya sambil menatap pakainnya yang seakan-akan tidak pernah diganti. Kemeja putih yang dipakai asal-asalan dan gakuran yang tidak dikancing, ditambah dengan celana yang agak ngatung dan syal merah yang membalut lehernya itu seakan-akan membuatnya terlihat seperti hikkikomori.
"Ossu, Kurocchi! Katsukicchi!"
Belum juga Kuro sadar, muncul satu pejantan lagi dengan cengiran ramah mendekati mereka. Rambutnya berwarna biru dongker mendekati ungu dan sangat lepek. Bajunya sangat santai dan simpel—kemeja putih lengan pendek yang kancing paling atasnya terbuka dan celana yang sedikit kebesaran. Melambaikan tangan dengan ceria dan wajah yang (mungkin)tanpa dosa. "Nee, ayo pulang bersama!"
Kuro baru menyadari adanya satu insan yang dia kenal dekat lagi. Fujiyama Haruto, namanya, dan sudah bersama-sama sejak SMP. Sampai sekarang Kuro masih sering merasa lucu dengan marga Haruto yang sangat-sangat tidak lazim.
Tiga sohib itu pun berjalan dalam berisik—lebih tepatnya, yang dua sedang asik berceloteh sementara yang satu tidak terlalu memperhatikan karena otaknya masih me-loading kejadian ini itu sambil menatap kosong ke arah hutan di samping sekolah yang sudah jadi tempat mainnya dari dulu.
"..o"
"u..ro"
"KUROOO!!!"
Telinga Kuro berdenging sesaat setelah Katsuki mendonasikan suara serak-serak tingginya tepat di telinganya.
"Kau itu mendengarkan omongan kita nggak sih?!"
"...Ha? Emang pada ngomongin apa?"
Katsuki tepok jidat. Ngomong sama kawannya yang satu ini apalagi dia baru bangun tidur memang butuh kesabaran plus plus.
KAMU SEDANG MEMBACA
None
Fiksi RemajaPetualangan mendebarkan Amatsuki Kuro dan kawan-kawannya yang tidak pernah dia perkirakan. Semua berawal dari deringan bel kebebasan yang sama sekali tidak berarti "bebas" untuknya. j [Work In Progress]
