Yang dimedia itu Arvin oke!!!
***
Gadis berambut hitam sepunggung memfokuskan pandangan ke papan tulis, dimana seseorang sedang mengerjakan soal didepan sana.
"Woi," teriak temannya dari belakang, yang hanya diabaikannya.
"Yaelah Rye, jangan pura-pura gak denger dah. Woi!" panggil Shinta -temannya- lebih keras.
Gadis yang dipanggil 'Rye' itu akhirnya menoleh kebelakang. "Apa sih?" tanyanya dengan nada agak kesal.
"Santai dong. Gue gak paham sama yang dikerjain Arvin, maksudnya apaan dah? Gila angka semua isinya," keluh Shinta.
Sekarang memang sedang pelajaran matematika, dan Arvin sedang mengerjakan soal yang diberikan guru dipapan tulis.
"Lo kata gue paham? Udah ah, sekarang gua mau ngeliatin Arvin dulu," respon Ryena dan langsung menghadap papan tulis lagi.
"Kok ngeliatin Arvin sih? Bukannya ngeliatin soalnya?" heran Shinta.
"Rye!! Ryena!!" panggilnya lirih, merasa bingung, yang sama sekali tidak ditanggapi oleh yang dipanggil.
Tanpa sadar, Ryena tersenyum samar saat Arvin menyelesaikan soal tersebut.
Bu Yuli -guru matematika- memeriksa jawaban muridnya tadi dan menganggukkan kepalanya saat selesai memeriksa. "Bagus Arvin, sudah bisa menguasai materi."
Dikursinya, Ryena dapat melihat Arvin juga tersenyum samar, puas atas soal yang bisa ia kerjakan.
"Untuk PR, coba kalian kerjakan halaman 20 nomor 1 sampai 10," perintah Bu Yuli yang dihadiahi keluhan dari siswa-siswi.
"Jangan pada ngeluh deh, itu soalnya dikit, gampang lagi," lanjut sang guru.
"Banyak itu, Bu. Susah lagi," keluh Shinta frontal, membuat seisi kelas menoleh ke arahnya dan langsung membenarkan ucapannya.
"Paling gampang itu, kan kalian nanti bisa nanya ke Arvin. Yaudah, sekian materi dari Ibu," Bu Yuli pun pamit dan langsung membuat kelas X-1 menjadi sangat berisik.
Dapat Ryena lihat dari ujung matanya, tempat duduk Arvin sudah ramai dikelilingi teman-teman sekelasnya.
"Vin, nanti PRnya gue nyontek ya."
"Lu kan baik, pinter lagi, bolehlah kasih liat gua PR MTK."
"Gue kan temen lu, gak boleh pelit kalau sama temen."
"Kasih gua contekan lah ayo."
Begitulah anak-anak X-1, meskipun merupakan kelas unggulan, tetap saja kalau ada PR hobinya nyontek.
"Kantin yuk," ajak Shinta. "Laper gue."
Ryena melirik Arvin sekilas sebelum mengiyakan ajakan Shinta.
*****
"Lo liat Arvin tadi kan Shin? Keren gak sih dia bisa ngerjain soal MTK yang dikasih tadi? Padahal itu kan termasuk susah," heboh Ryena sambil memakan batagornya.
Shinta yang masih sibuk memakan bakso hanya meliriknya sekilas. "Hmm," responnya singkat.
"Ihh, lo kebiasaan dah, kalau udah makan pasti gua dikacangin terus," protes Ryena.
"Lagian orang lagi makan diganggu," protes Shinta balik.
Gadis berambut sepunggung itupun hanya menghela nafas kesal mendengar respon sahabatnya. Ia pun memilih melanjutkan melahap batagornya.
YOU ARE READING
DIFFERENT
Teen Fiction"Seharusnya aku sadar diri, seharusnya aku mundur ketika aku tau dia yang kamu harapkan, bukan aku." Kisah klise, tentang seorang pengagum cowok most wanted sekolah. Singkirkan tentang bayangan cowok hobi tawuran, badboy, dan semacamnya. Karena Arvi...
