Gadis itu berjongkok didepan gundukan tanah dengan nisan putih bertuliskan 'Airen'. Tangannya terulur menyentuh nisan putih tersebut, mengusapnya dengan perasaan tak menentu. Marah, sedih, kecewa, terluka, menyesal, semuanya bercampur menjadi satu ketika melihat namanya terukir dipermukaan nisan itu sedangkan dirinya masih bisa menyentuh ukiran namanya. Gadis itu ingin menangis. Tapi ia tidak menangis. Ia juga ingin marah. Tetapi ia hanya diam, bahkan mengeluarkan suara pun ia tak sanggup.
"Ilen ..." Suara Adrian menginterupsi lamunan Iren. Ilen menengok ke samping kiri, menatap laki-laki yang begitu dicintainya dan juga dicintai gadis yang menempati gudukan tanah didepannya.
"Sudah sore, ayo kita pulang." Kata Adrian seraya merengkuh pundak Iren.
Iren tak bergeming. Ilen. Ingin sekali ia mengatakan bahwa dia bukan pemilik dari nama itu. Dia Iren bukan Ilen. Tetapi lidahnya kelu. Bibirnya bahkan tak sanggup membuka. Tanpa aba-aba gadis itu berdiri, membuat Adrian yang sedang melingkarkan tangan kanannya dipundak Iren ikut berdiri. Laki-laki itu lantas membimbing Iren menuju mobilnya.
Ϡ
"Ilen ... makan dulu nak ..." Kata Andini, wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya Adrian. Ya, setelah kepergian saudara kembarnya dua minggu yang lalu, Iren atau yang orang-orang disekitarnya mengiranya Ilen tinggal bersama keluarga Adrian. Kedua orang tua Iren sudah meninggal, dan kerabat-kerabatnya banyak yang tinggal di Jepang.
Sebelumnya Iren tinggal berdua bersama Ilen di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Bekerja dengan baik sebagai model dan membantu Ilen mengelola restoran peninggalan ayah mereka. Namun, setelah kecelakaan naas yang menimpa saudara kembarnya dua minggu yang lalu, kondisi Iren menjadi mengkhawatirkan. Hidup layaknya mayat hidup. Itu sebabnya Orang tua Adrian yang notabene adalah calon mertua Ilen sekaligus teman dekat ibunya dulu, memutuskan untuk membawa Iren ke rumahnya.
"Kamu mau mama suapi ?" Tawar Andini yang dijawab dengan gelengan kepala dari Iren. Mata coklat milik Iren menatap berbagai makanan yang tersaji di depannya dengan tatapan datar. Batinnya mengatakan bahwa ia tidak berhak memakan semua ini. Wanita paruh baya yang duduk di seberang meja makan itu menyiapkan semua ini untuk calon menantunya. Ilen. Bukan untuk dirinya.
"Ilen sayang, kamu harus makan. Kamu mau aku suapi ?" Ujar Adrian lembut. Tangan laki-laki itu terulur meraih tangan kekasihnya. Iren menoleh ke samping kiri dan mendapati Adrian tengah menatapnya dengan tatapan terlembut yang tak pernah Iren lihat. Sakit. Rasanya benar-benar sakit. Tatapan itu bukan untuknya. Perhatian orang-orang di rumah ini juga bukan untuk dirinya. Disini, Di dunia ini, hidupnya ... seharusnya milik gadis yang menempati gundukan tanah bernisankan namanya. Airen. Seharusnya bukan di rumah ini ia berada dan ... "Agrh ..." Jeritan keras keluar dari mulut Iren yang selama dua minggu terkatup rapat.
Ϡ
Airen membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Ia berusaha untuk duduk tetapi sepasang tangan kekar menahan pundaknya. "Jangan banyak bergerak dulu, istirahatlah." Iren mendongak mendengar suara yang sangat dikenalinya itu. Sebenarnya apa yang terjadi padanya ? Apa tadi ia pingsan ? Entahlah yang jelas sekarang tubuhnya terasa lemas.
Iren memandangi Adrian yang juga tengah memandangnya. Tatapan gadis itu sulit dijelaskan. Ada rasa cinta yang begitu besar dalam tatapan mata coklat milik Iren saat melihat Adrian. Namun lebih dari itu ada perasaan yang tak bisa diungkapkannya ketika mendapati manik mata Adrian menatapnya sebagai gadis lain.
Tangan Adrian bergerak menyentuh pipi chubby Iren, mengusapnya lembut dan penuh perasaan. Matanya masih setia menatap gadis yang selama empat tahun terakhir menjadi kekasihnya. Betapa sedih hatinya ketika melihat kondisi kekasihnya seperti sekarang ini. Kehilangan kembarannya seolah membuat dirinya seperti kehilangan nyawanya sendiri. Hanya bedanya gadis didepannya ini beraga sedangkan kembarannya tidak.
YOU ARE READING
Airen
Short StoryDicintai sebagai orang lain atau dibenci sebagai dirimu sendiri. Diantara kedua hal itu, manakah yang seharusnya kupilih ? -Airen-
