We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bagian 1 Pertemuan

28 6 6
                                        

Sorot mata Aiden tampak begitu sendu ketika tatapannya terus tertuju pada jendela kaca di hadapannya, jauh di bawah sana, kendaraan barlalu lalang macet, pemandangan yang untuk Aiden, sejujurnya agak sedikit membosankan. Aiden berbalik, baru saja sebuah suara memanggil Aiden. Aiden sadar itu hanya bagian dari fantasinya. Entah mengapa akhir-akhir ini fantasi semacam itu tak luput mengganggunya. Aiden melirik jam di pergelangan tangannya, pemuda itu hampir terlambat.

Aiden lantas menarik jas hitam yang sebelumnya ia sampirkan pada sandaran sofa, pemuda itu bergerak cepat, memperbaiki ikatan dasinya. Aiden meraih tas, memasukkan berkas yang sebelumnya bertumpuk di mejanya, pemuda itu ingat hari ini harinya untuk presentasi.

“Aku segera berangkat,” Aiden menutup ponselnya. Jalanan tampak sangat macet hingga Aiden memutuskan untuk memutar balik mobilnya dan mengambil rute yang agak jauh.

Pemuda itu jelas sadar bahwa yang dilakukannya saat ini mendekati salah, atau bahkan memang salah. Mengemudi di atas kecepatan rata-rata bukanlah Aiden, namun keterpaksaanlah yang memaksa pemuda itu untuk melakukannya kali ini. Aiden baru sadar, sejujurnya waktunya telah banyak terbuang untuk merenungkan banyak hal. Aiden selalu mencoba untuk pura-pura tak peduli, namun rasa rasanya itu adalah hal lain. Ada sesuatu yang memberontak keluar dari dadanya, namun bagaimana pun, pemuda itu tetap berusaha keras untuk menahannya. Rindu. Hal yang sebelumnya Aiden tak mengerti.

Aiden mengernyitkan dahinya, seorang gadis tengah berdiri di tengah aspal, melambaikan tangan, memaksa Aiden memelankan laju mobilnya, berhenti.

Gadis itu mengetuk jendela kaca mobil Aiden. Pemuda itu menurunkan kaca mobilnya, namun tak berniat mengatakan sepatah kata pun, bahkan tentang alasan gadis itu menghalangi jalannya.

“Apa anda dapat memberiku tumpangan? Aku harus ke perusahaan ini untuk menyaksikan sebuah presentasi penting, aku tak punya banyak waktu, jadi bisakah?” gadis itu mengeluarkan kalimatnya begitu cepat, seraya menunjukkan gambar sebuah perusahaan dari layar ponselnya. Aiden sadar itu perusahaan yang sama dengan perusahaan yang hendak ditujunya. Aiden hanya mengangguk membolehkan, sorot matanya datar.

Gadis itu dengan langkah cepat membuka pintu samping mobil Aiden pada sisi lainnya, bergegas masuk dan menutup pintunya dengan kasar.

“Maafkan aku,” Gadis itu tersenyum malu. Namun Aiden tak begitu memedulikannya. Mobilnya kembali melaju. Tak ada percakapan di antara mereka. Sepanjang jalan didominasi kebisuan. Aiden lebih fokus menyetir sedangkan gadis di sampingnya harus berusaha menahan diri untuk tak menumpahkan isi perutnya di mobil Aiden.

“Apa kau gila?” gadis itu baru kemudian bersuara saat mobil memasuki parkiran perusahaan.

“Apa aku tampak gila?” Aiden bertanya balik.

“Maksudku… cara menyetirmu, itu berbahaya,”  Aiden tak menjawab, pemuda itu turun terlebih dahulu. Gadis itu cepat-cepat menyusul.

“Ah, aku seharusnya tidak mengatakan itu.” Tepat sesaat gadis itu merutuki dirinya sendiri, selembar kartu terjatuh dari dokumennya, kartu nama, Flora Fernandes.

Kepingan Kisah dari Masa LaluStories to obsess over. Discover now