Wangi kopi menyeruak melewati bulu-bulu hidung yang halus. Perlahan aku membuka mata yang berat ini. Siapa gerangan yang membuat kopi? Rasanya aku ingin secangkir kopi, terasa begitu berat mata ini. Aku menoleh kebelakang. Oh ternyata si calon barista ini lagi latihan. Mungkin kalau aku coba pura-pura mengetes kopi buatannya, aku akan dikasih diskon, atau kalau aku beruntung malah dikasih gratis.
"lagi latihan ya?" tanyaku sembari tersenyum manis, tapi mataku ini semakin menyipit.
"eh? Bangun? Hehe iya nih. Mau cobain?" yes! Ga perlu minta udah dikasih. Aku mengangguk.
"boleh deh. Ngantuk banget. Wanginya enak," kemudian ia mulai meracik sesuatu yang aku ga ngerti. Aku memandang seisi ruangan. Kemudian beralih pada sosok pria berambut cepak berkacamata yang sedang memakai grindr kopi. Kali ini cita-citanya ingin jadi seorang barista. Cita-cita beberapa bulan lalu untuk menjadi seorang gitaris ia tinggalkan. Meski masih sering berlatih main gitar, tapi kopi menjadi obsesi selanjutnya. Meski pahit, kau akan selalu merasakan manis bila mencari di setiap sesapan kopi. Begitu katanya.
"mau pakai krimer?" ia berbalik badan. Tapi tatapan matanya menyiratkan sebuah kekagetan.
"susu dan krimer. Kamu tahu aku ini pengecut sama kopi pahit." Jawabku sambil bertopang dagu dan menaruh senyum termanis. Berharap ia akan memberiku potongan harga pada segelas kopi ini.
"ahahah. Kamu harus coba kopi asli. Selalu ada-"
"rasa manis bila mencari di setiap sesapan kopinya" potongku. Aku hapal sekali kalimat itu. Semenjak hobinya berkeliling mencari kopi paling enak, ia selalu bercerita begitu.
"kira-kira aku sekalian buka kedai kopi atau melamar jadi barista dulu?" tanyanya sembari kembali meracik kopi.
"kurasa kamu harus melamar dulu. Di perusahaan raksasa duyung hijau." Lagipula siapa yang tidak tahu perusahaan rakasasa itu? Tapi respon yang kudapat malah membuatku kaget. Ia menoleh dengan tatapan serius. Ah, kenapa ini? aku ingin bertanya tapi sepertinya ruangan ber-AC ini semakin dingin bersamaan dengan tatapannya barusan. Aku yang gugup Cuma bisa mengedipkan mata.
"their taste is not as great as mine." Ia memalingkan muka. Aaah ini masalahnya. Ya memang biasanya kalau bisnis franchise begitu. Semakin banyak toko, semakin berkurang kualitasnya. Ah, ia merasa disepelekan.
"oh oke. Atau kedai kopi terkenal di area Padjadjaran saja. Disana, kan banyak kedai kopi yang enak?" usulku. Semoga kali ini tidak menyakiti perasannya. Ia berbalik dan membawa secangkir kopi, berjalan pelan menuju mejaku. Ia menatap kopi yang baru dibuatnya dengan senyum kecil. Kepulan asap malah memberi efek yang menyejukkan. Ia menaruh kopi tersebut diatas meja dan duduk di depanku.
"looks great, must be taste great." Aku menatap secangkir kopi yang masih mengepul, kemudian menatapnya. "aku boleh langsung minum?" tanyaku meminta izin. Ia mengangguk. Aku menyesapnya perlahan. Hm ini sih kopi seleraku. Aku mengangguk-angguk memberi isyarat bahwa ini enak sekali.
"kamu sudah selesaikan skripsi?" pertanyaannya langsung membuat kopi manis ini terasa beegiitu asam. Aku langsung mendongak bertemu matanya. Kemudian berkedip-kedip seperti orang yang cacingan. Ia masih pada tatapan yang teduh dan senyum manis kecilnya. Oh Tuhan kalau boleh, tolong cabut lesung pipinya. Pasangkan satu untuk pipi kiriku. Aku menelan sisa kopi di mulut.
"I'm working on it." Kilahku. Berharap topik ini ga akan berlanjut jauh.
"Cepat skripsinya diselesaikan. Aku mau melamar." DEG! Aku melotot saking kagetnya. Rasanya jantungku mau copot. Melamar? Aku ga pernah kepikiran akan dilamar, bahkan di umur segini. Apalagi skripsiku belum selesai.
"kamu bilang aku harus melamar dulu, kan jadi barista. Mungkin aku akan buka kedai kopi." Lanjutnya. Sepotong kelegaan tapi juga kekosongan mengisi ruang pengap di paru-paruku akibat kekagetan tadi. Aku menatapnya.
"ah itu bagus." Aku berusaha untuk menutup kekonyolanku tadi.
"cepat diselesaikan, ya. Kamu harus datang tiap hari kalau aku benar jadi barista."
"hm? Kenapa?" kebiasaan cacinganku mengedipkan mata kambuh, kalau sedang bingung dan gugup.
"mungkin kopinya ga akan manis kalo ga ada kamu." Ia langsung bangkit menuju buffet tempat grindr kopi diletakkan dan mencoba merapikan kekacauan barusan. Tapi yang kulihat dia seperti melarikan diri.
Oh Tuhan, kalau kamu mau tau keadaanku, pipiku panas banget. Mungkin kamu bisa memasak telur diatas pipiku. Ruangan yang tadi terasa sejuk langsung terasa pengap.
***
Halo, pembaca sekalian! Terima kasih sudah mau mampir, ya. Semoga ceritanya mengalir dan kalian suka. Maaf kalau ada yang aneh dan janggal ketika dibaca, ini tulisan pertama milik saya di Wattpad. Mohon vote dan komennya ya, kritik dan saran juga membantu penulis memperbaiki tulisan ini. Trims~
BINABASA MO ANG
Secangkir
Romance"Mungkin kopinya ga akan manis kalo ga ada kamu." Digan, barista, a 7 years bestfriend. "Fio, gua udah pernah bilang belum ke elu, lu punya mata dan bibir yang bagus." Klei, ladies man, a 4 years bestfriend. "10 menit lagi saya tunggu tambahan 3 ju...
