It's all started here

66.5K 5.5K 394
                                        

Candi Prambanan, Yogyakarta, 2017

Aku berusaha menikmati tour yang seharusnya untuk dua orang namun aku tetap ambil walau aku hanya sendiri. Tetapi, tidak peduli seberapa keras aku berusaha, aku tetap merasa dunia menghimpitku dari segala sisi. Apalagi sepertinya mataku punya magnet sendiri untuk menemukan pasangan yang juga sedang menikmati pemandangan di komplek candi ini.

Berani sekali pacaran dan datang ke Prambanan. Apakah mereka tidak pernah mendengar mitos bahwa kalau pacaran ke Prambanan mereka bisa putus nanti?

Tunggu sebentar. Mari doakan saja semoga hal itu terjadi pada mereka.

Jangan hakimi aku. Aku sedang sinis pada semua hal yang berpasangan, ku bahkan membenci sepatuku sendiri sekarang. Kalian bisa menyebutku gila atau apapun. Terserah.

Aku sudah bilang 'kan kalau tour ini seharusnya untuk dua orang? Nah, tour honeymoon yang aku booking empat bulan lalu ini terpaksa aku nikmati sendiri karena calon suamiku memilih lari ke pelukan tetanggaku. Saat aku menanyakan alasannya, dia menyalahkanku. Katanya semua ini terjadi gara-gara aku tidak pernah mau menghangatkan tempat tidurnya.

Jadi, sementara aku bekerja keras sibuk untuk menutupi biaya pernikahan, dia malah pergi ke tetanggaku yang dengan senang hati menyambutnya dengan baju terbuka. Si brengsek itu memutuskan meninggalkanku beberapa hari sebelum hari-H karena perempuan itu ternyata sedang mengandung anaknya.

Tadinya aku memang menyalahkan diriku sendiri juga karena tidak mau menyerahkan mahkotaku padanya, tetapi aku sudah melewati fase itu. Sekarang aku malah bersyukur tidak membiarkannya menyentuhku  di bagian terlarang.

"Mba Laras?" Aku mendongak mendengar namaku dipanggil, menemukan Pak Suryono, pemandu tourku, memandangku dengan senyum.

"Ya, Pak?"

"Anu, saya mau izin ke belakang dulu," ujarnya dengan aksen jawa yang medok.

"Oh, iya, silakan. Saya bisa keliling sendiri dulu."

"Terima kasih, Mba," ujarnya sebelum berjalan sangat cepat menjauhiku lalu akhirnya berlari menuju toilet.

Bangkit dari tempat duduk, aku berjalan mengikuti rombongan ibu-ibu yang berbicara dengan lantang seolah hanya ada mereka di tempat wisata ini, mulut-mulut nyerocos membicarakan teman mereka yang tidak ikut serta. Aku memutar bola mata, menghela napas, menahan keinginan untuk menyumpal mulut mereka. Ada bagusnya yang dibicarakan tidak mendengar semua perkataan teman mereka, aku harap aku tidak pernah mendengar gunjingan tetangga dan teman kantor saat pernikahanku gagal. Sayangnya, dalam keluargaku sendiri ada yang suka bergosip dan pada akhirnya aku mendengar semua gunjingan mereka.

Membuka brosur mengenai Candi Prambanan, aku menjauhkan diri dari kelompok ibu arisan bermuka dua dan berjalan dengan cepat ke candi Siwa. Di dalam kepala terngiang perkataan Pak Suryono. Beliau bilang di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, tempat mempunyai aturan dan adat istiadatnya sendiri. Dia tidak pernah lupa untuk mengingatkan bahwa kita boleh menikmati wisatanya tapi kita juga tidak boleh lupa dengan aturan dan ada-adatnya. Selain untuk menjaga kelestarian budaya, cara itu juga dilakukan untuk menghormati leluhur, tidak peduli walau kepercayaan kita berbeda.

Aku mengernyit saat akhirnya sampai di depan tangga candi Siwa. Begitu ramai, orang-orang berdesakkan naik dan turun, beberapa orang naik dan duduk di atas stupa yang jelas-jelas terdapat tulisan dilarang naik dan duduk di sana.

Aku menggelengkan kepala dan berjalan memutar, bermaksud ke ruangan lain di candi Siwa. Memutar searah jarum jam, pertama melihat ruangan Agastya, di sini tidak terlalu ramai, walau masih ada yang bandel. Aku memutuskan naik. Setelah dengan susah payah mengambil foto dan tersenyum palsu dalam foto, aku turun. Melakukan hal yang sama pada ruangan lain tempat Ganesha berada.

Shades Of TwilightStories to obsess over. Discover now