1. My name is Grace

127 7 0
                                        

" Sini sayang jangan jauh jauh dari mama. Berhenti sayang, nanti kau jatuh. Ayolah....mama capek mengejarmu sayang."

" No mam, ayo sini kejar Grace kalo bisa hahahaha. Ah...mama gitu aja ga bisa kejar." Gadis imut dengan rambut pirang pucat itu terus saja berlari lari. Menggoda mamanya yang sudah kelelahan.

"Sudah Grace, berhenti. Grace!!! Awas.......!"

Ciittt....
Bruk!!!!

-----------------##--------------------

"Mama!"

Gadis itu menjerit tertahan. Terbangun dari mimpi buruk yang entah sudah berpuluh-puluh kali ia alami. Sejak delapan tahun yang lalu. Sejak kecelakaan mengerikan itu terjadi.

"Oh God."
Gadis itu sekali lagi mendesah. Mengatur nafasnya yang terengah engah. Diliriknya jam dinding di sudut kamarnya. Oh, baru jam dua pagi. Dan itu berarti ia harus berpikir lagi, yeah...mencari kesibukan atau apapun agar bisa kembali tidur. Kegiatan yang ia rasa sangat sulit dimulai. Terutama di tempat baru seperti ini. Kamar asrama ini tidak terlalu luas, dindingnya berwarna biru laut. Tidak banyak perabot, hanya ranjang, lemari pakaian dan meja belajar di sudut. Dan satu lagi, cermin berukuran 50x160 berbingkai putih bersender di sudut yang lain.

--------------##---------------

Drrtdrtdrrrtt....

Ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

"Jangan lupa ini hari pertamamu di kampus. Jangan bangun kesiangan. Dan jangan pakai jeans robek sialanmu itu. Okay Grace!!"

Yaa itu Amanda Thompson. Sahabat karibnya.

"Yes mam." Ketik gadis itu singkat.

Buru-buru Grace menuju kamar mandinya. Tak sampai lima belas menit gadis itu sudah siap di pelataran asramanya. Menunggu Amanda yang akan menjemputnya pagi ini.

Tak selang berapa lama sebuah mobil berwarna merah menghampirinya.

"Grace!!!!" Teriak gadis didalam mobil. Kepalanya melongok keluar dari jendela mobil. Dilihatnya sahabat kecilnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"No way, jangan bilang kamu mau pakai baju ini ke kampus!" Amanda mendelik mengerucutkan bibirnya ketus.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Dilihatnya lagi penampilannya hari ini. Tshirt longgar lengan pendek. Ripped jeans warna biru pudar plus sneaker putih.
"Tentu saja Gracia sayang. Kita mau ke kampus, bukan naik gunung. Oh c'mon kau mau merusak reputasiku di kampus huh??"

Hhhhh, cepat Grace masuk ke dalam mobil itu diiringi decakan sebal Amanda.
" Ayo berangkat, katamu aku tidak boleh terlambat bukan?" Grace melempar tas selempangnya di kursi belakang. Tangannya mencubit gemas gadis disebelahnya yang masih melongo menatapnya tak percaya.

"Oh ya, jangan panggil aku Gracia lagi. Namaku Grace. My name is Grace." Tambahnya sedikit ketus. Kali ini dengan nada yang tidak biasa. Dan Amanda tahu apa makna dari ucapannya itu.

Ucapan sahabat kecilnya.
Sekali lagi ia melirik Grace. Gadis itu tidak banyak berubah meski sudah hampir 4 tahun mereka tidak pernah bertemu. Kulit putih pucat, wajah tirus dengan mata sayu hidung lancip dan bibir mungil. Setidaknya kalo Grace mau merawat dirinya seperti gadis gadis lain sebayanya sudah tidak diragukan lagi pasti ia akan sangat cantik. Tak terasa Amanda mendesah lirih. Sedikit iri.

"Sudah, jangan komplain lagi. Aku tahu aku terlahir cantik meski berpakaian seperti ini" tegur Grace seperti mendengar isi dalam pikirannya.

"Ih kepedean deh hahahaha" timpal Amanda melempar boneka Teddy di dashboard mobil ke muka Grace. Sekali lagi mereka tertawa terbahak bahak satu sama lain.

BEAUTIFUL GRACEWhere stories live. Discover now