Semburat warna jingga menghiasi atap langit. Semilir angin senja menari-nari di pelupuk mata. Membius setiap mata untuk segera terlelap. Burung-burung terpacu mengepakkan sayap menuju ke peraduannya. Tidak peduli dengan riuhnya jalanan yang mulai padat. Lalu lintas penuh dengan mobil, motor, dan kendaraan umum. Tidak kurang-kurang, jeritan klakson yang saling bersautan tak mau mengalah. Betapa kontras antara langit dan bumi kala senja.
Pada perbatasan antara langit dan bumi, terlihat seorang gadis yang duduk termangu di atap gedung. Rambut panjangnya yang lurus terhempas angin senja. Tubuhnya tinggi semampai, dibalut wajah keruh dan lusuh. Pandangannya lurus nan kosong, seakan tidak ada titik fokus yang menjadi pusat perhatiannya. Sejurus kemudian, kedua matanya tertunduk. Mengamati apapun yang ada di bawah kakinya. Ia melihat lalu-lalang kendaraan yang melintas tepat di bawah kakinya. Gedung ini cukup tinggi, desirnya.
Seirama dengan kepalanya yang tertunduk, kedua mata itu telah dipenuhi buliran bening. Semakin lama semakin deras, disusul isak yang sulit diterjemahkan. Siapa yang mengira, buliran bening itu berasal dari sepatah kata dokter sebulan yang lalu.
"Sudah stadium lanjut, kemungkinan sisa waktu hanya 2 bulan." Kata seorang dokter yang menangani gadis itu. Dan siapa yang tahu, percakapan itu adalah awal dari keputusasaan yang berlarut-larut. Baginya, tak ada lagi hangatnya mentari pagi, harumnya bunga Seruni, lezatnya buah Durian, dan merdunya kicauan burung Perenjak. Yang ada gumpalan mendung, anyir darah yang membeku, dan rintihan hati. Segalanya terasa pahit dan getir. Ia tidak pernah menyangka, jika darah yang sering tiba-tiba mengalir dari gusinya merupakan suatu pertanda kanker darah.
Sudah sebulan ia tak sempat berbicara. Pikirannya disibukkan dengan gundukan prasangka dan kecewa. Obat dari dokter selama ini sudah ia abaikan. Tuhan, tak dapat lagi aku bernyanyi riang dengan tim paduan suara di kampus, tidak mampu lagi aku diskusi di kelas, dan mungkin pertukaran mahasiswa ke Jepang kemarin adalah perjalanan ke luar negeri terakhirku. Gadis ini memutar kembali siluet jejak prestasi yang begitu gilang-gemilang. Apa yang ia inginkan, dengan sekuat tenaga ia berusaha meraihnya. Seakan selalu mendapatkan lampu hijau dari Tuhan. Namun kini, semua seakan terenggut. Kembali ia menangisi takdir. Mengapa bukan yang lain?
Gadis itu bangkit. Ia pandangi langit yang semakin memudar, mungkin untuk terakhir kalinya. Tak lama, ia mulai memejamkan mata dan mengambil napas dalam. Perlahan jemari kakinya mulai merangsuk ke depan, tepat di bibir atap gedung. Ingin sekali ia merobohkan tubuhnya. Mengakhiri hidup yang tidak adil menurutnya.
"Rinai!" Tiba-tiba seorang pria jangkung datang dengan nafas yang memburu. Peluh dari dahinya mengembun. Wajahnya yang terlihat pucat dan carut-marut, kini semakin keruh ketika tahu sosok yang dicari berdiri di ujung gedung. Ia tidak berani bertanya apa yang dilakukan gadis itu.
"Rin, sudah sore. Mari kuantar pulang!" kata pria itu.
"Untuk apa? Memintaku makan, minum obat, lalu istirahat?" buliran bening kembali menggantung di kelopak mata Rinai. "Sudah tidak ada harapan lagi, Fajar! Sebentar lagi aku akan mati." Air matanya semakin pecah, mengalir di antara pipi yang mulai tirus. Rinai mulai sesenggukan dan tak mampu menguasai diri.
Pria yang bernama Fajar itu hanya membisu. Membiarkan Rinai menangis, menumpahkan segala emosinya. Tanpa dikomando, Fajar duduk di ujung gedung, menggantungkan kedua kakinya dan menunggu tangis Rinai mereda. Sisa nafas yang memburu tak mampu ia tutupi.
"Baca catatan ini!" perintah Fajar sambil menyodorkan sebuah buku tulis lusuh berwarna hijau yang ia keluarkan dari tas punggungnya. Dengan hati-hati Rinai membuka buku itu. Kini Rinai berada tepat di samping Fajar. Duduk sama menggantungkan kakinya. Gampang sekali membujuk gadis ini. Gumam Fajar dalam hati, bibirnya mengulum tanpa ia sadari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rinai di Ujung Senja
Short StoryManusia dilahirkan dengan takdir yang berbeda-beda. Suka atau tidak, tentu kita tidak bisa mengelak. Kecewa? Mungkin itu bagian dari kodrat manusia. Namun di balik rasa tidak suka dengan takdir yang menimpa kita, Tuhan masih memberikan kesempatan un...
