babak pertama. akhir dari sebuah awal

9 0 0
                                        

         Sebut saja Alea, perempuan berdarah jawa 23 tahun. Seorang remaja cantik yang tumbuh didalam keluarga yang kental syariat Islamnya, Hari ini merupakan hari yang paling ia idam-idamkan, kenapa? Akhirnya setelah setahun bergelut dalam pekerjaan yang menyiksa batin, pikiran dan waktu luang ia pun bisa menikmati udara segar, layaknya seorang tahanan yang telah menikmati masa bebasnya. Setiap orang punya masa sulitnya, masa dimana ia terjatuh, hendak bangun, lalu bangkit.
         2 November 2016 setelah memutuskan resign tidak perlu waktu lama untuknya mendapatkan pekerjaan lain apalagi dengan gelar sarjana teknik kimia dan predikat cume lude yang ia raih rasanya sangat mudah bukan? Dengan melewati berbagai situasi penolakan dan ekspresi keluarga bahwa ia memutuskan untuk resign. Keputusan ini mengantarkannya pada akhir sekaligus awal karirnya.

       Jauh menerawang kisah 1 tahun yang lalu.

"Alea!
Suara itu tiba-tiba muncul, perempuan itu mendongakkan wajah yang semula tertunduk di tumpukan buku-buku yang ia bawa. Sambil menoleh kanan kiri dan kedepan, terlihat seorang wanita yang kira-kira berumur 27 tahun barangkali seniornya.
"Aku?
Jawab Alea kebingungan, sambil menunjukan telunjuk tepat di Batang hidungnya kemudian Wanita itu tersenyum dan menghampirinya.
"Anak baru kan?
Alea mengangguk pelan. Awal dari sebuah episode baru telah di mulai..

Pengalaman merupakan ibu dari ingatan dan ayah dari kebijakan _aristoteles

Pengalaman membuat kita lebih bijak dalam menghadapi kehidupan dan akan terus di ingat selamanya. Begitu pun dengan episode kali ini yang harus di lewati Alea, belajar dari pengalaman telah begitu banyak jenis orang yang ia temui di sebuah tempat yang selalu orang sebut 'kantor', dalam kamusnya ia mengkategorikan sifat partner kerja dan siapapun yang bersangkutan menjadi 2 golongan, golongan kuat dan golongan lemah. Pada golongan kuat dibagi jadi 2 lagi yaitu golongan kuat 1 variabel yaitu yang 'kehilangan muka' barangkali waktu mau berangkat kerja dia lupa bawa mukanya hehe alias cari muka/cari perhatian dan posisinya cukup kuat membuat pertahanan, orang-orang seperti ini biasanya mau cari aman sendiri, didepan baik dibelakang amit-amit. Naudzubillahimindzalik...
Golongan kuat selanjutnya adalah golongan kuat 2 variabel yang suka mengadu, mengadu domba,  bergosip, kasus kali ini lebih kompleks lagi karena penyakit yang satu ini yang paling banyak pengidapnya. Orang-orang ini bukan hanya mencari keuntungan pribadi namun juga untuk menjatuhkan orang lain, mengkambing hitamkan seseorang, pokoknya banyak merugikan orang lain. Nah golongan yang lainnya adalah golongan yang lemah, golongan lemah pun dibagi menjadi 2 yaitu golongan 'imitasi' dan golongan 'apatis'. Golongan imitasi berisi kumpulan orang-orang yang sebenarnya baik tapi terkadang ikut-ikutan. Orang ini cenderung mencari aman pribadi meski sebenarnya ia tidak terlalu ingin ikut campur dalam suatu masalah, rentan dipengaruhi cenderung tidak punya pilihan lain selain menuruti atau menjadi bagian dari golongan kuat. Golongan lemah kedua adalah golongan 'apatis' golongan ini merupakan gambaran orang-orang yang biasa-biasa saja, tidak ingin ikut campur dalam hal apapun, lebih banyak berdiam diri bukan berarti takut namun lebih menghindari masalah atau justru muak melihat tindak tanduk golongan kuat sehingga bersikap cuek. Golongan ini cenderung jadi bahan bully dan korban dari golongan kuat.
Dan pada akhirnya golongan kuat merupakan karyawan sejati kantor tersebut. Karena yang benar-benar bertahan lama datang dari golongan kuat yang barangkali secara fisik dan psikis lebih siap menghadapi segala tantangan dan situasi terburuk sekalipun.

Doooooorrr!!
Suara bising seketika memecah imaji Alea yang keluar secara liar. Sesosok wanita itu lagi ternyata, namanya Rahma ia yang paling senior rupanya.
"Lalu, mbak Rahma ini termasuk digolongan yang mana?
Umpat Alea dalam hati.
"Lamunin opo toh Jul Jul" suaranya kembali menggelegar, perlu diingat wanita yang selalu ia sebut mbak Rahma kalau ngomong memang over bising. Suaranya bisa terdengar sampai radius 500meter.
"Alea mbak, bukan Jul jul" jawab Alea lembut.
"Nama lu Alea Juli Wardah kan?
Seru mbak Rahma, dengan nada yang kembali meninggi.
"Wardi bukan Wardah" bisik Alea pelan, sambil membetulkan posisi duduknya yang khusyuk.
"Siapapun nama lu, pokoknya lu dipanggil sama mamih". Wanita itu kemudian berlalu sambil menggerutu,  entah apa yang menjadi grutuannya Alea langsung buru-buru pergi menemui 'mamih'. Mamih merupakan sebutan dari manager QA disana.

Tok tok tok!
"Permisi Bu, ibu panggil saya?" Seru Alea yang masih terengah-engah nafasnya sempat sesak karena dalam benaknya sekarang entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini barangkali riwayatnya akan tamat hari ini. Seorang wanita dengan kacamata yang melorot memandangnya dari bawah ke atas. "Iya silahkan duduk" jawab wanita itu. Seketika mengaburkan imaji yang sempat di reka dalam benak Alea. Alea hanya menuruti perkataannya dan duduk dengan pasrah, sebab ia tahu kali ini hanya ada 2 kemungkinan seseorang dipanggil di ruangan QA manager kalau bukan untuk pemberian laporan maka untuk diomeli.

"Mba Alea Julia Wardhi, saya pikir anda sudah sangat berpengalaman di bidang anda namun saya salah!

Wanita itu terus menimpali Alea dengan berbagai pernyataan terus mengoceh tanpa titik, beragam bahasa seperti Jawa, Sunda, Melayu dan sebagainya kurang  cukup menampung kosa katanya. Bisa dibayangkan ekspresi wajah Alea yang pucat pasi.
Tuuuuuuuttttt....

Setengah jam berlalu, Alea keluar dari ruangan QA manager terlihat di beberapa sudut ruangan segerombol wanita yang baru saja menguping mulai mencibirnya.
"yang katanya lulusan cume lude ternyata sama kayak kita yang cuman lulusan SMA, melempem juga di depan mamih"
Ssssuttt ada orangnya! Jawab salah seorang yang lain, semua mata tertuju padanya bah seorang narapidana yang baru keluar dari masa kurungan, seolah buronan kelas tinggi.

Namun Alea hanya tersenyum simpul menatap orang-orang yang melihatnya.
W

aktu menunjukkan pukul 17.00 WIB
Beberapa karyawan telah pulang, hanya ada bagian-bagian tertentu yang terkena sift. Dari atap gedung terlihat orang-orang berhamburan meninggalkan kantor seperti gerombolan semut yang keluar dari sarangnya namun tidak begitu dengan Alea, gadis malang itu ternyata mengamati 'segerombol semut yang berhamburan'. Dengan sesekali menghela nafas panjang, angin berhembus begitu kencang hingga mengibar-ngibarkan hijabnya sambil mengeratkan kedua tangan seolah sedang memeluk dirinya sendiri. Lambat laun gerimis kecil mulai membasahi pipinya, gadis itu menangis tersedu.

"Kamu teh belum pulang? Tanya
Seorang lelaki sambil menyodorkan saputangannya.
Seketika Alea menyeka air mata yang membasahi pipi dan mengabaikan saputangan lelaki itu.

"Gapapa kalo kamu gamau, cuman teh bahaya sore-sore mojok sendirian disini awas tar kesambet!
Sambung lelaki itu sambil memasukkan kembali saputangannya kedalam saku.

"Tur, loe tahu ga kenapa gue suka banget kalau sore ke sini?
Alea bertanya sambil terisak, lelaki yang ia sebut Guntur mulai bertanya-tanya.

"Saat semua orang senang menyambut fajar, ternyata gue disini lebih seneng mengantarnya kembali ke peraduan, senja. Warna-warna itu?
Sambil menunjuk pada belahan langit yang berwarna merah kuning kecoklatan.
Setelah melihat itu, rasanya tenang lega dan damai. Itu menunjukkan kalau gue berhasil melewati hari ini" sambung Alea.

"Lea, kenapa Lo ga pindah aja dari sini? Lelaki itu mulai melontarkan pertanyaan Alea pun mantap wajah Guntur yang penuh kecemasan.
Maksud gue, maneh teh udah punya tittle bagus dedikasi tinggi pula atuh pindah aja pekerjaaan ini mah tidak cocok untuk orang-orang baik seperti kamu, wajah alea mulai menampakan kebingungan hingga menampakkan lipatan di keningnya.
Disini cuman tempatnya orang-orang egois dan mau menang sendiri, kalau ga marah-marah yah dimarahin".

"Ada yang pernah bilang, jadilah terbaik atas apa yang kamu pilih. Gue mau buktiin itu, gue harus menang dalam pilihan gue sendiri". Jawab Alea.
Awan mulai berarak mengiringi matahari terbenam, semburat merah kuning kecoklatan bersatu apik nan menawan, detik-detik menakjubkan sedang berlangsung. Senja, kepadanya aku menyimpan harapan untuk hari esok yang lebih indah." Desis Alea.

"Gimana BTW, Siapa orang yang bilang gitu?
"Bilang apa?
"Harus jadi yang terbaik atas apa yang kita pilih?
"Ada, orangnya udah gaada!
(Gaada dihati,, bisik Alea dalam hati)
"Inalillahi udah gaada....
"Sutttt ngawur kamuuu tur, senyuman mulai merekah di pipinya, Alea beranjak pergi.
"Lea lagi sunset Lo ga mau selfie apa? Teriak Guntur, kekonyolannya membuat Alea tertawa.
"Ada yang bilang juga, kalau ga semua moment indah itu harus di abadikan oleh kamera tur. Momen indah itu bisa di abadikan dalam wujud kenangan" teriak Alea sambil berlari meninggalkan Guntur.

"Siapa yang bilang le? Orang yang udah gaada itu yah? Jawab Guntur sambil berteriak.
Tawa Alea pun pecah, gadis itu bergegas hendak menuju tempat yang ia kehendaki.

Tobe continue...

passionWhere stories live. Discover now