"Iya-iya. Terserah lo. Gue berangkat!" ujar seorang pria yang baru saja keluar dari gerbang rumah nya. Kata-kata nya terdengar sangat malas._. sudah hampir setiap hari pria ini mendengar tentang kakak dan ibu tiri nya yang selalu saja berengkar akibat saling menyalahkan kematian kakak nya 2 tahun lalu. Padahalkan sudah 2 tahun lalu, tapi masih saja diungkit.
Pria ini yang diketahui bernama Iqbaal masuk kedalam mobil Lamborghini nya yang berwarna hitam. Mengabaikan seruan ibu tiri nya yang memanggil nama nya. Menyalakan mesin nya dan melesat dengan cepat menuju kampus nya. Meninggalkan ibu nya yang sepertinya marah dengan nya akibat tidak ingin mendengar penjelasan nya.
Mobil hitam Iqbaal berjalan menembus jalanan ibu kota yang cukup padat. Kabut sisa semalam masih membekas dan menghalangi sebagian jalanan._. membuat sedikit menghalangi pandangan. Mobil berhenti dikarenakan lampu lalu lintas berwarna merah menyala dengan terang. Membuat siapapun kendaraan yang melintas, memberhentikan kendaraan nya.
Otak Iqbaal memaksa nya untuk mengingat kejadian saat dirumah. Saat dimana Ibu tiri dan kakak perempuan nya bertengkar. Sang ibu menyalahkan kakak nya bahwa ia lah yang menyebabkan Kakak laki-laki nya itu meninggal karena dia lah yang membawa kakak laki-laki nya ke sebuah diskotik. Sedangkan sang kakak perempuan menyalahkan ibu nya karena ibu tiri nya itulah yang selama ini bersikap acuh tak acuh dan kasar pada kakak laki-laki nya itu.
Naufal Azhar. Kakak laki-laki nya itu meninggal akibat kecelakaan mobil di jalan tol saat pukul 4 dini hari, 2 tahun lalu. Mobil nya menghantam keras pembatas jalan. Dan sialnya, saat itu Naufal sengaja tidak memakai sabuk pengaman nya. Mobil depan ringsek._. menurut hasil otoupsi, Naufal menyetir dalam keadaan mabuk.
TIN .. TIN
Suara klakson yang memekakan telinga membuyarkan lamunan Iqbaal, Iqbaal menoleh ke kanan dan kiri nya. Beberapa kendaraan sudah melintas, saat Iqbaal melihat kebelakang menggunakan spion, banyak mobil yang mengantri dibelakang dan memuncul kan kepala nya. Berbicara dengan suara yang meninggi.
Iqbaal memindahkan perseneling mobil nya dan menginjak pedal gas nya.
"Hallo, bro! Kebiasaan lo. Kalau pagi muka nya pasti ditekuk" sapa teman nya yang berambut kribo saat Iqbaal duduk dan menghampiri teman-teman dikantin. Sudah menjadi kebiasaan Iqbaal saat sampai di kampus. Kekantin, dan bergabung dengan teman-teman nya dengan muka yang ditekuk.
Iqbaal hanya tersenyum tipis dan memperhatikan teman-teman nya satu persatu. Mereka semua memesan minuman yang sama. Teh hangat. Tidak ada makanan.
"Lo mau minum teh, Baal? Gue pesenin" teman Iqbaal lainnya, pria bermata sipit sudah ingin bangkit dari duduk nya. Namun dengan cepat Iqbaal menahan nya.
"Gak usah, Al. Thanks" tolak Iqbaal lembut dan tersenyum tanpa memperlihatkan jajaran gigi nya yang dilindungi oleh kawat behel tersebut. Al? Alvaro Maldini atau akrab yang disapa Aldi
Bastian. Pria yang berambut kribo sedikit pirang ini memang teman Iqbaal sejak SMA. Ia dan Iqbaal menempuh 1 jurusan yang sama di kampus ini. Oh ya, satu lagi. Pria bermata sipit itu, Aldi. Aldi adalah sepupu dari Bastian. Sejujurnya Aldi juga belum lama mengenal Iqbaal, tapi Aldi sudah tahu seluk beluk kehidupan Iqbaal, dari Bastian.
"Ck! Udahlah, Baal. Gak usah dipikirin. Bawa enjoy aja, kan ada kita berdua. Ya, gak, Al" Bastian menyikut Aldi dan mengedipkan sebelah matanya. Bastian sudah tahu penyebab Iqbaal menekuk wajah nya. Ya Bastian sudah tahu jika dipagi hari dirumah nya selalu terjadi keributan.
"Yo'i"
Iqbaal membalas nya hanya senyuman tipis. Dibawa enjoy? Bagaimana bisa?
"Oh ya, Baal. Gimana kabar nya kak Natasha? Kakak cewek lo yang cantik itu." tanya Bastian diakhiri dengan suara tawa nya yang khas. Hampir setiap pagi Bastian menanyakan tentang kakak perempuan nya itu. Bastian memang tertarik dengan pesona Natasha Wilona -kakak nya- yang bisa dibilang memikat hari para kaum Adam.
