BAB 1. Damn

122 12 7
                                        

Author's POV.

     Sekolah elite berakreditasi A, yaps Melody Geraldine memang sekolah di sekolah elite di Denpasar, sekolah yang berdiri diatas yayasan kristen ini sangat terkenal dengan taraf disiplin nya. Ia bersekolah di Smk Pariwisata Harapan.

Namun Melody seorang yang bodo amat dan ceroboh itu akan membuat banyak ulah bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan lingkungan disekitarnya.

Melody sebenarnya cantik namun karna cara dia berpakaian dan dengan gaya rambut yang suka digonta gantinya itu terkadang suka buat temen-temen sekelasnya pun sedikit ilfeel, tak jarang mereka memanggil melody si buntal atau bahkan kecil tapi lebar. Tapi kulit Melody dan rambutnya sangatlah buat orang sirik padanya, ia dianugerahkan rambut yang lurus dan berkilau layaknya iklan sampho dan kulit yang putih, mulus, dan juga bersih.
***

Seperti biasa anak SMK selalu berbagi gedung dengan sanak saudara yaitu SMA, dimana mereka adalah satu atap dan yayasan. Kabar baiknya adalah mereka bisa bertukar pasangan (*eh upss maksudnya mereka bisa saling berkenalan lalu berteman). Tapi entah apa yang membuat Melody tak tertarik sedikitpun.

~ tapi ada satu sorot mata yang selalu membuat Melody merasa aneh dan deg-degan. Apakah Melody? Ah tidak mungkin dia tak tertarik lagi pula ini 2 bulan pertama Melody disekolah menengahnya~
***

Melody's POV.

"Daniel!!!!!!!! Kamu yang fokus dong. Apa apaan kamu ini? Sebentar lagi kita akan lomba basket, jangan karna cewek kamu tidak fokus ya!"

Sosok tinggi dan menurutku sedikit kekar mengalihkan pandanganku, yaps itu pelatih basket SMA. Aku sedikit merasa bingung kenapa semua tim basket memandangku sengit seperti itu saat aku berjalan sendiri ketika sepulang sekolah.

"apakah pakaianku lusuh? Wajahku yang kusut? Atau karna aku lupa mengancingkan rokku? Ah tidak, apa karna porsi badanku yang berisi dan tumbuh ke samping ini?" Ucapku lirih namun pandanganku tak tergoyahkan dan kupandang lurus sambil mencari cari dimana letak sepeda motorku.

"DAMN!!!!!!"
Teriakku spontan saking kagetnya. Siku seseorang menabrak punggungku dan itu membuatku sangat nyeri.

"Maaf aku gak liat kamu lagi keluarin motor." Senyumnya bagaikan Lee Min Hoo, oh god aku menarik ucapanku tentang tidak ketertarikanku dengan sanak saudara satu atap itu (SMA).

Oh tidak!! Tubuhku berguncang sangat keras, aku merasakan gempa yang luar biasa dalam hatiku. Keringatnya, senyumnya, tingginya, mata sipitnya, dan kulit putih bersihnya, membuat tubuhku kaku dan dingin

"Daniell!!!!!!!! Tadi saya sudah katakan kamu ini yang fokus, ambil bola nya bawa kesini dan push up 30x!" Kudengar teriakan sang pelatih terdengar sangat murka karna kami telah bertatapan layaknya adegan romantis ftv. Aku harap pertemuan kebetulan ini bisa terjadi esok.
------------------////-----------------

*Teeeeeetttt teeeettttttt teeeettttt*
Jam 1 omg!!! Kali ini aku telat, lagi?! Ahh tuhan hukuman apa lagi yang akan aku dapatkan. Apakah sehoror kemarin? Atau bahkan lebih horor dari annabelle? Insidious? Conjuring? Ah apalah itu. Aku berlari setelah memarkirkan motorku dilapangan basket lalu berlari sekuat tenaga.

"What???" Teriakku dalam benakku. Aku memang kemarin mengharapkan bertemu dia tapi tidak dalam kondisi ini tuhan.

"Heyy, kamuuu..." dia menarik gantungan baymax yang ada pada tasku.

Jangan sekarang aku mohon ini waktu yg tidak tepat. Ini jam 1 aku harus pergi sebelum labu dan tikus itu berubah ke bentuk semula ( ini bukan cinderella anggap saja ini pertemuan yang tidak tepat layaknya dongeng itu.)

okay sekarang aku tau kenapa sampai dia memanggilku. Wajahku merah padam seperti sedang memakan 2 bungkus bon cabe mentah mentah. Sesampai di kelas semua anak menertawaiku, bukan karna bajuku, rambut, sepatu, atau wajahku. Tapi karena aku tidak melepaskan helm ku sewaktu diparkiran tadi.

"Eh kamu itu lulusan mana sih? Bego kok dipelihara hahaha." semua anak dikelas menertawai ku sepenuh hati dan menyoraki ku tulalit.

--Okay enough! Aku tak menghiraukan seorangpun, ini duniaku bukan mereka, lagi pula aku tak pernah meminta sebutir nasi pada mereka jadi apapun yang kulakukan bukan urusan mereka.--

Yeayy gimana kak? Mau lanjut lagi? Yuk divote dan dikoment biar bacanya makin greget. Terima kasih sudah mau mampir:)

Ms. TulalitWhere stories live. Discover now