PROLOG

1.1K 35 3
                                        

Ini ceritaku yang kedua.. Nggak tau cerita ini bakal gaje atau nggak.. Semoga aja nggak..
Aku udah buat daftar jadwal update untuk semua ceritaku..
wkwkwk..
Kalau misalnya telat update maafin aja.. Karena memang ini tanggal tua.. Jadi kuota + duit belum cair.. wkwk..

Happy reading guys..

-----------------------

Aku berjalan menelusuri trotoar untuk menuju ke kedai kopi. Sesampainya disana, aku melihat Jack yang tengah menatapku dengan tersenyum. Aku menaikkan satu alisku keatas, aku jadi bingung sendiri ketika melihatnya berdiri didekat pintu kedai kopi tersebut. Apa dia bekerja sebagai pelayan ? Aku menggelengkan kepalaku, bodoh sekali. Mana mungkin Jack sangat billionaire muda itu bekerja sebagai pelayan. Dasar konyol.

Aku mulai mendekatinya dan ingin bertanya, namun ia sudah lebih dulu menanyaiku. "Kau mau kemana ?"

Aku menjawabnya dengan memajukan daguku kearah kedai kopi dan ia langsung tersenyum lebar padaku.

"Lalu, kenapa kau disini ? Bukankah kau sangat anti untuk meminum kopi ?" Tanyaku menyelidik dan ia langsung terkekeh padaku. Aku malah menjadi semakin sinting dibuatnya, kenapa ia malah terlihat aneh seperti ini.

"Aku kemari sebenarnya bukan untuk meminum kopi.. Tapi untuk menemui kekasihku." Aku mengangkat satu alisku keatas sambil berkacak pinggang. Ia tertawa kembali.

"Jadi kau sudah memiliki kekasih ? Aku baru tau.." Ucapku sambil tersenyum.

"Sebenarnya aku sudah lama berpacaran dengannya, tapi–"

"Tapi kau tidak menceritakan padaku.. Right ?" Selaku dan itu membuatnya menjadi merasa bersalah. Aku bisa melihat tampangnya. Dari dulu, pria itu memang tidak pernah berubah. Ia selalu saja cemas ketika melihatku saat marah. Hey, ayolah.. Aku hanya bercanda.

"Bukan begitu, Ella.. Aku hanya malu.." Jawabnya, astaga.. Aku tertawa terbahak-bahak ketika mendengar pernyataannya tadi. Malu.. Sejak kapan Jack Parker malu ?  Aku semakin histeris untuk tertawa, aku terduduk dikursi dan aku bisa melihat tampang Jack yang sedang kesal.

"Jangan menertawaiku.. Aku menyesal mengatakan itu padamu sekarang." Ucapnya yang langsung duduk dihadapanku.

Aku menetralkan diriku. Ia masih menatapku kesal "Ayolah, Jack.. Aku hanya tidak percaya kalau kau juga bisa malu.."

"Terserah kau saja.." Ia menghempaskan tangannya keudara. Sepertinya ia masih kesal padaku. Aku langsung beranjak dari dudukku dan menatap Jack yang sedang memejamkan matanya.

"Apa kau akan tidur disini ?" Tanyaku dan ia langsung membuka satu matanya.

"Tidak.. Aku hanya lelah saja, sudah 1 jam aku menunggunya.. Tapi, dia tidak datang juga.." Ungkapnya padaku. Aku duduk kembali dan menatapnya lekat. Aku yakin, Jack akan curhat padaku dan menurutku, curhatannya kali ini akan terdengar menarik. Dari cuhatan yang dulu pernah ia sampaikan padaku memang tidak pernah ada yang penting, yah walaupun menurutnya itu sangat penting.

Dulu ia pernah curhat padaku mengenai ikan koinya yang tidak pernah memiliki anak dan setelah itu ia mengajakku kerumahnya. Ia mengajakku ke taman belakang dan bisa ku lihat ada sebuah kolam besar disana. Lalu, ia mengajakku kesana. Aku mengerutkan dahiku dan menatapnya. Dia bilang kalau itulah ikan koi yang tidak pernah beranak. Tentu saja itu membuatku langsung melebarkan mataku, pantas saja ikan koi itu tidak memiliki anak, disana hanya ada satu ikan koi dan satu ikan cupang. Ingin rasanya aku mencekik lehernya sampai ia mati. Namun aku masih punya hati, aku semakin jengkel. Sampai perang dunia ke 1000 pun, ikan koi itu tidak akan pernah memiliki anak. Mana ada ikan koi berpasangan dengan ikan cupang setelah itu memiliki anak ? Mustahil sekali.

Baiklah, sekarang aku mulai serius mendengarkan ceritanya mengenai kekasihnya yang entah itu siapa.

"Aku sudah menghubunginya berkali-kali, namun ia tidak mengangkat teleponku." Ucapnya.

"Mungkin, ia sedang sibuk.." Ia menggelengkan kepalanya.

"Aku malas sekarang, sejak dulu dia memang tidak pernah berubah.. Sifatnya masih sama, tidak tepat waktu.."  Aku diam, entah bagaimana caranya aku menanggapi ucapannya itu. Aku sangat bingung, masalahnya aku tidak pernah tau dengan masalah cinta.

"Sepertinya aku harus–" Tiba-tiba ucapannya terhenti, aku menatapnya sambil mengerutkan dahiku.

"Ada apa ?" Tanyaku.

"Celyn.." Ucapnya tanpa menatapku sama sekali, ia langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkanku begitu saja, kemudian masuk kedalam mobil. Bisa ku lihat kalau mobil itu melaju begitu kencang. Sebenarnya ada apa dengan pria itu ?

"Sudahlah.. Sejak dulu Jack memang menyebalkan." Ucapku pada diriku sendiri dan masuk kedala kedai kopi.

Langkahku terhenti dan jantungku langsung berdegub sangat kencang. Aku langsung memutar badanku dan bergegas untuk pergi, namun suara khas lelaki itu memanggil namaku.

"Quella."

Aku menelan ludahku susah payah. Ini saatnya aku akan mati..

Bukan.

Ini saatnya aku akan luluh kembali.

------

To be continue..

Digantung dulu ya teman-teman.. Happy reading.

The ChanceWhere stories live. Discover now