PART 1

9 0 0
                                        

Namaku Mercy Meddina, berusia dua puluh tahun. Hari ini kali pertama ke Jakarta, yang mana tempat tinggalku berada di Australia. Maksud tujuan ke Indonesia untuk menemui kekasih, demi dirinya hanya bermodalkan satu koper saja aku berangkat. Meggi Julian namanya, lima tahun lebih tua.


Meggi sih sebenarnya pacar kedua, sedangkan cinta sejati aku itu cuma Melvin seorang. Namun, hubungan jadi renggang dikarenakan ia pergi ke Jerman untuk melanjutkan gelar doktornya. Kesempatan mendua terjadi ketika Meggi liburan ke negaraku setahun lalu.

Awalnya seorang teman memperkenalkan pria bertubuh atletis itu kepadaku. Ternyata kami saling suka. Baru sebulan pacaran dengannya namun keluarga Meggi mengharapkan kita segera menikah.

Meggi pun enggak bisa menampik
Dia langsung menghampiri orangtuaku untuk minta restu. Awalnya Ayah dan ibu tercengang, karena tahunya aku pacaran sama Melvin anak dari sahabat karib mereka.

Pada akhirnya ayah ibu nerima etiket baik Meggi. Cincin pertunangan bebahan dasar emas putih memperindah jari manisku. Pria itu membelinya di Jakarta sebelum berangkat ke Australia. Sepuluh gram beratnya, bermata berlian cantik nan indah.

Langit biru saksi kisah cinta kita, di hamparan rumput hijau acara pertunangan kami terselenggarakan. Para sahabat serta saudara memenuhi acara. "MERCY.. MERCY.. MERCY...," panggil para hadirin.

Bukannya merasa bahagia, tapi hati bersalah pada seseorang nan jauh di mata. "Akankah Melvin membenciku?" bertanya - tanya seorang diri.

"Mercy, ayo cium," pinta seluruh tamu. Dan aku tersontak, lamunan buyar entah ke mana.

Ppprrroookkk..., ppprrroookkk..., suara tepuk tangan dari semua orang di sini. Kami tersenyum, berpelukan, dan berciuman penuh kemesraan. Padahal hanya menggelar pertunangan saja, tetapi sudah sejauh ini langkahnya.

Enam bulan kemudian-Aku dan Meggi bertemu di kota kelahirannya. Setiba di bandara Meggi menjemput.

Tapi ada yang aneh, selama perjalanan kami enggak ada saling tegur sapa. Padahal sebelumnya dia orang yang romantis.

"Pertunangan macam apa ini? Kenapa ada jarak di antara kita?" Umpatku dalam hati.

Dia tetap melajukan kemudi ke arah jalan TOL. Satu jam kemudian sampai di sebuah restoran.

"Mercy, tolong jauhi aku," kata Meggi selang sepuluh menit seusai memesan makanan.

"Kenapa?" tanyaku heran.

"Kamu selingkuh?" tandasku lagi.

"Lebih baik akhiri saja hubungan kita ini," timpalnya.

"Alasannya??? JELASKAN???" aku mulai geram.

"Mau fokus kerja," pungkasnya.

"BOHONG," sahutku.

Lalu Meggi pergi meninggalkanku seorang diri.

"MEGGI TUNGGU...?" teriakku berlari kencang.

Tapi sayang, dirinya bagaikan kilat yang langsung menghilang tanpa terlihat lagi sosoknya.
Dan aku??? Benar-benar enggak tahu Jakarta. Kedatanganku dari Australia ternyata mendapat kejadian seperti ini, shock banget.

MercyOnde histórias criam vida. Descubra agora