Bab 1

25 9 1
                                        

Pagi ini Andra sedang jogging bersama temannya-Dira. Sejak pukul 5 dini hari kedua gadis itu sudah berkeliling lapangan monas hingga sekarang menunjukkan pukul 6.30. Beberapa kali mereka istirahat di bawah dahan pohon yang tumbuh di sekitar lapangan monas itu untuk sekedar mendinginkan badan dan mengusap keringat yang bercucuran.
"Ca, udahan yuk capek nih gue. Mana sekarang perut gue keroncongan lagi" ucap Andra ke Dira sambil terus memegangi perutnya yang keroncongan. Andra memanggil Dira dengan panggilan Ica karena nama kepanjangan Dira adalah Aisyah Dira Adriani.

"Ya deh, gue juga udah laper ni. Kita makan ketoprak di tempat biasa aja yuk"

"Oke deh kalo gitu. Kita duduk sebentar untuk ngelurusin kaki, udah itu baru kita cabut" kata Andra yang hanya dibalas dengan anggukkan oleh Dira.

Mereka duduk dibawah pohon sambil meluruskan kaki mereka agar tidak varisesan. Setelah kurang-lebih 5menit, mereka selesai beristirahat dan berjalan menuju abang ketoprak yang biasa jadi langganan mereka. Setiap minggu pagi abang itu selalu standby di depan lapangan monas. Mereka selalu sarapan ketoprak abang itu setiap kali mereka ke lapangan monas untuk jogging atau sekedar mampir pagi di hari weekend.

"Bang, kayak biasa ya" Dira bicara sama abang ketoprak sambil ngangkat tangan kanannya.

"Oke dek Dira. Sedikit kacang dan paling pedes kan?"

"Ih si abang tau aja" ucap Dira yang dibalas cengiran dari si abang ketoprak.

Andra duduk menghadap matahari terbit sedangkan Dira membelakangi matahari. Andra memang suka menikmati panas matahari pagi yang memasuki pori-pori kulit wajahnya. Andra dan Dira sibuk memainkan permainan switch colour di handphone masing-masing. Secara bersamaan mereka mengangkat wajah ketika mencium aroma ketoprak yang menggiurkan dari hadapan mereka.

"Wihhh, udah jadi ketopraknya"

"Kayaknya enak ni, ra"

"Pastinya ca. Gue udah nggak sabar ni" Andra meletakkan handphonenya diatas meja dan menyendokkan ketoprak. Baru saja Andra ingin menyuapkan ketoprak kedalam mulutnya, suara Dira menghentikannya.

"Andra sayang, kamu belum baca do'a nak. Biasain kalo mau makan itu baca do'a dulu sayang" ucap Dira dengan cengengesan.

"Apaan sih lo udah kayak nyokap gue aja. Gue udah baca do'a kali" rutuk Andra dengan wajah yang di tekuk. Kenapa sih bunda waktu itu ngomong kayak gitu di depan Ica? Batin Andra kesal.

Dira makan sambil tertawa karena melihat wajah Andra yang merengut dan itu ekspresi yang sangat lucu menurut Dira. Andra yang merasa ditertawakan menatap Dira sinis dengan mata yang sedikit disipitkan. Merasa risih, akhirnya Andra merebut sendok yang dipegang Dira saat dia sedang tertawa terbahak-bahak. Saat itu juga wajah Dira menjadi cemberut dan balik menatap Andra sinis. Sekarang giliran Andra yang menertawakan ekspresi wajah sahabatnya itu.

"Hohohoho. Muka lo..... ngeselin banget..... kalo lagi di tekuk kayak gitu, hohoho sumpah deh" kata Andra--meletakkan tangan kanannya di samping muka yang menunjukkan angka dua tanda piss-- terbata-bata karena nggak bisa nahan tawanya.

"Heh, kalo makan tuh diem dong. Makan kok sambil ngobrol" suara bass dari samping Dira membuat tawa Andra terhenti dan sontak membuat Dira juga terdiam.

Mereka berdua menoleh ke arah suara berasal. Ternyata di meja sebelah mereka ada dua cowok yang salah satunya lagi menatap mereka sinis dan satunya lagi makan dengan santai seperti tidak terusik dengan keributan yang dibuat Dira dan Andra namun Dira tidak begitu jelas melihat wajah cowok itu karena wajahnya sedikit tertutup topi. Dira membalas tatapannya dengan tatapan yang lebih sinis dibandingkan tatapan cowok itu.

"Emang apa masalah lo? Kita mau ketawa kek, kita mau ngobrol kek, emang apa urusan lo?" Dira bicara dengan suara yang lantang.

"Emang bukan urusan kita, tapi suara kalian itu ngeganggu tau gak!" Jawab cowok itu --yang Dira rasa adalah orang yang menyuruh Andra untuk diam-- dengan nada yang datar.

HELPLESSWhere stories live. Discover now