BAGIAN SATU

536 26 11
                                        

JUDUL : TAUBAT

PENULIS : ARI SETIAWAN BIN ABDUL GAFUR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

PROLOG

Cinta bagiku adalah sebuah penantian

Penantian panjang tak berujung

Menelusuri jalan terjal, liku, dan berbatu

Cinta bagiku adalah sebuah asa

Asa yang membumbung tinggi di awang-awang

Terlihat dan tak bisa digapai

Cinta bagiku adalah sebuah aib

Aib yang membuatku malu

Untuk saat ini dan hingga kumati [*]

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Aku sangat meyakini, penggalan lagu Kata Pujangga yang dipopulerkan oleh Bang Haji Rhoma Irama telah menjadi kiblat bagi kaum lelaki ketika jatuh cinta. Ketika jatuh cinta, seorang lelaki akan merasakan jantung berdegup kencang tatkala melihat wanita yang dicintainya. Atau, dia akan pusing merangkai kata-kata indah ketika hendak menuliskan surat cinta untuk wanita idamannya. Demikian hebatnya, sang pencinta akan dibuat bahagia, perasaan melambung ke angkasa, dan tiada waktu yang tersisa karena semua telah dihabiskan untuk memikirkan orang yang dicinta.

Namun, tidak denganku. Aku berbeda dari lelaki pada umumnya karena memiliki cinta yang unik. Aku pencinta sesama jenis. Terkadang terselip iri kepada mereka yang memiliki kesempatan merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Dengki semakin merongrong karena manusia pelaku maksiat diberi kesempatan memiliki pasangan. Sedih ketika merasakan cinta, tapi selalu dijatuhkan kepada sosok lelaki. Cinta ini pada akhirnya kupendam, hanya aku yang tahu, hingga terpaksa berpaling dan menampik rasa kemudian membiarkan hilang begitu saja.

Cinta yang kurasa hanya sebuah mimpi dan sirna ketika terjaga. Keinginan untuk memiliki dapat diibaratkan sebagai pungguk merindukan bulan. Aku memiliki cinta, tapi tak memiliki wadah untuk menempatkannya. Kepada siapa harus kutitipkan cinta ini? Kepada siapa akan kupercayakan perasaan ini agar selalu dijaga dan dirawat? Setangguh-tangguhnya seorang lelaki, jika dihadapkan pada cinta yang tak pernah dimiliki, tak ada bedanya dengan cangkang tanpa isi, kosong. Hatiku kosong.

* * *

"Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" meluncur sebuah suara dari seorang receptionist.

Aku membalas senyum wanita muda itu. Sapaan hangatnya selalu sama seperti hari biasa, menjaga profesionalisme pekerjaan meski sekarang malam hampir berada di puncak. Langkah kini terhenti, posisiku tepat berada di depannya.

"Kamar nomor 225, di mana ya, Mbak?" tanyaku.

"Ada di lantai dua. Bapak naik tangga, terus belok ke kanan, lurus aja sampai ketemu kamar nomor 225 di sebelah kiri. Ada yang lain, Pak?" jawabnya penuh sahaja.

Tangan wanita muda itu masih menunjukkan letak tangga yang berada di pojok sana. Senyumnya juga selalu terjaga.

"Oh, nggak ada. Makasih!" jawabku singkat.

"Sama-sama. Selamat berkunjung!" tuturnya kemudian.

Kubalas senyum sekadarnya.

Mungkin, aku bisa dibilang cukup sering mengunjungi hotel ini. Sebab, tanpa perlu bertanya pun aku telah mengetahui letak kamar 225. Namun, berbasa-basi dan menyapa wanita tadi merupakan sebuah kesenangan untukku.

TAUBAT (Gay's Story)Stories to obsess over. Discover now