1

27K 1.8K 267
                                    


Reynald menatap Stephanie yang cemberut di hadapannya. Malam minggu, dan mereka kembali bertengkar seperti biasa. Bukan hal aneh jika akhirnya malam minggu mereka diakhiri dengan perdebatan.

"Kak, jangan bertengkar terus napa??"

Reynald menoleh pada Stephanie dan mencubit hidungnya. "Kamu yang mulai."

"Kakak tuh yang selalu bahas masalah ini."

Reynald terkekeh. Kadang, pertengkaran mereka bisa membuat mereka tidak saling bicara selama berhari-hari. Namun kadang, bisa juga tidak berefek apa-apa seperti sekarang ini.

"Kamu tidak ingin seperti Adrienne?"

"Menikah muda maksudnya?"

Reynald mengangguk.

"Tidak. Sama sekali tidak."

Reynald menatap Stephanie dan menghela napas. Walau keras kepala, Reynald begitu mencintai gadis yang duduk di hadapannya ini. Sudah berulang kali mereka 'mendiskusikan' hal ini, tetapi tetap belum ada titik temu.

Reynald menyadari umurnya semakin menua. Sudah banyak temannya yang mulai memasuki gerbang pernikahan atau bahkan sedang menunggu buah hati mereka. Sedangkan dia? Stuck.

Reynald tidak menyalahkan Stephanie. Gadis itu memang berbeda dengan Adrienne. Semua tujuan hidupnya sudah direncanakan dengan rapi dan matang. Reynald hanya mencoba. Siapa tahu hati Stephanie tergerak dan gadis itu berubah pikiran.

"Bagaimana beasiswamu?" Reynald mengalihkan pembicaraan agar si cantik ini tidak terus-terusan berwajah cemberut.

Stephanie tersenyum. "Tiga hari lagi pengumumannya. Aku takut tidak lolos, Kak."

Reynald mengacak rambutnya. "Kamu pasti lolos. Gadisku kan cerdas!"

Stephanie menyeringai padanya. "Kalau aku nggak lolos, aku langsung jadi istri Kakak."

Reynald mengangkat alisnya. "Jangan bilang kamu bercanda?"

Stephanie menatapnya lama dan menggeleng. "Tapi jangan doakan aku tidak lolos!"

Reynald terbahak dan kembali mengacak rambut Stephanie. Gadis itu tentu hapal dirinya. Reynald memang memegang teguh kalimat, "Hanya Doa yang Mampu Merubah Takdir", dan dia sungguh percaya itu.

"Kakak sendiri, apa rencana kakak kalau aku diterima di Oxford?"

"Aku akan mengejarmu."

Ganti Stephanie yang terbahak mendengarnya. "Dan pekerjaanmu?"

"Gampang. Ada Om Ted!"

Stephanie memutar bola matanya dan Reynald bangkit dari duduknya. Dia meraih tangan Stephanie dan menggenggamnya lembut, bersiap mengantar gadis itu pulang.

Dia bersyukur setidaknya akhir malam ini, mereka tidak bertengkar hebat atau bahkan saling mendiamkan. Baginya itu cukup untuk malam ini. Karena sejatinya, dia benci bertengkar dengan Stephanie.

Kadang, dia merasa iri pada hubungan Max dan Adrienne yang seolah mulus-mulus saja. Pertengkaran mereka hanyalah berputar pada sikap overprotective Max yang membuat Adrienne kesal. Selebihnya mereka selalu penuh cinta. Tapi lagi-lagi tidak ada yang perlu disalahkannya. Bukankah itu pilihannya untuk menjalin hubungan dengan Stephanie?

Ponsel Reynald bergetar di sakunya saat dia membuka pintu apartemennya. Alisnya berkerut saat melihat nama Daddy-nya di layar. Tidak biasanya ayahnya menelepon malam-malam begini kecuali ada yang gawat.

"Ya, Dad?"

"Reynald! Hotel kita di Italia terbakar. Kamu bisa terbang ke sana malam ini?"

Chasing After You (Tersedia CETAK dan EBOOK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang