Dingin malam menemani, simpang siur suara jangkrik yang khas menjadi pengiring tidurku. Kulihat jarum jam berhenti di angka sepuluh, mataku terasa berat, namun masih banyak hal yang harus kukerjakan. Aku baru menyadari bahwa bertumbuh dewasa juga berarti semakin banyak masalah kehidupan yang harus dihadapi. Ya, beginilah hidup yang kujalani setiap hari. Bagaikan roda mobil yang tak pernah berhenti berputar di satu jalan yang tak berujung, selalu menghadapi aspal yang sama tiap harinya. Aku tahu semua ini akan berhenti ketika Sang Pencipta memanggil, seperti Mama yang sekarang sudah terlepas dari masalah dunia.
Sekitar pukul dua belas malam, tubuhku sudah terbungkus oleh selimut biru yang senada dengan warna dinding kamarku. Kulihat indahnya langit yang dihiasi titik-titik cemerlang dan bulan sabit yang menyembunyikan dirinya dibalik gumpalan tipis awan malam. Perlahan-lahan semua itu meredup hingga akhirnya hanya kegelapan yang tersisa.
Aku berada di ruangan yang penuh dengan dokter dan suster. Mereka mengerumuni satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Di wajah mereka tersirat rasa takut dan panik. Kudengar suara yang sangat kukenal sedang memanggil-manggil namaku. Suaranya sangat lemah dan parau. Para dokter dan suster langsung menyediakan tempat untukku di samping ranjang itu. Aku berlutut di samping wanita yang telah memperjuangkan nyawanya agar aku bisa merasakan hidup di dunia ini. Tangannya yang gemetar menggenggam tanganku, mulutnya dengan pelan mengucapkan, "Jangan khawatir, Sayang. Mama selalu ada buat kamu," suaranya tersendat, "Di sini," sambungnya sambil melepas genggamannya dan menunjuk dadaku.
Air mata terus mengalir di pipiku, ditemani isak tangis yang tiada hentinya. Tangan kiri Papa merangkulku, tangan kanannya menggenggam tanganku, di atas tangan Mama yang sudah memejamkan matanya. Aku menangis karena Mama tak kunjung bangun ketika aku mengguncangkan lengannya. Aku tak mengerti mengapa tubuh Mama bergeming, mengapa Mama berhenti bernapas. Apakah Mama masih tersiksa sekarang?
