apa sih yang sebetulnya aku pikirkan selama ini?
oke, aku memang sudah cocok untuk menikah, tapi pacaran aja nggak pernah.
please banget buat keluargaku yang kompakan ngatain aku bakalan jadi perawan tua, berhenti sekarang atau aku bakal loncat dari tower sekarang juga.
suatu hari ada sahabatku yang tanya, panggil aja dia Tari, "kenapa kamu nggak pacaran?"
ngelirik ke dia pakai muka curiga, "kenapa tahu-tahu tanya gitu?" tanyaku skeptis, cukup dengerin curhatku kenapa sih, Tar? no comment gitu.
"gini lho, topik ini nggak cuma sekali kamu bahas ke aku. Wajar aja aku tanya." jawab tari datar sambil makan camilan coklat yang dia bawa.
aku mengehela napas, menatap nanar taman kota jogja di salah satu taman di kampus bergengsi disini.
"nggaklah Tar, nggak ada yang mau sama cewek gendut item macam aku gini." ini bukan merendah ya ini fakta.
Tari menatapku sedetik terus melengos sambil tersenyum kecil.
"denger ya, nggak semua cowok peduli ma fisik. pasti ada kok yang mau sama kamu."
aku memutar bola mataku, enggan menatap Tari, "kalau kamu yang ngomong sih mungkin aja kejadiannya di kamu, secara sih kamu cantik modis iya, heran juga kamu mau sahabatan sama aku. nggak semuanya sih iya, tapi cowok-cowok yang isa nerima keadaan aku yang pasti cowok jelek atau cowok yang nggak punya gairah hidup."
Tari sosok yang setara sama selena gomez, nggak melebih-lebihkan sih. Badan langsing berisi, muka cute tanpa make up. siapa sih yang isa nolak cewek manis begini?
Di bandingkan sama aku, item gemuk, gagal diet terus walaupun udah nyoba macam-macam olahraga, masih aja nggak isa nurunin berat badan. why? cuma tuhan yang tahu kenapa.
Tari menatapku masam. Saat gini aja dia masih terlihat imut, cowok diseberang kami mencoba memberikan sinyal untuk menarik perhatian Tari, yang sayangnya sejak kami duduk disini diabaikan olehnya.
"Beb, please banget ya pikiranmu jangan sesempit itu. gimana kalau aku kenalin seseorang?" Tanya tari sambil menyeringai yang disambut raut panikku. oh, no.
"Yak, stop. masih inget kasus jajang dulu yang kamu kenalin di awal semester?" Tanyaku pada Tari.
Tari pasang wajah bingung, lalu mendongak ke atas. matanya membulat setelah ingat sesuatu. "oh, si jajang anak geografi itu ya? iya iya, aku jodohin dia ke kamu. Tahulah dia kan bukan tipeku. emang kenapa sama dia?" tanyanya polos.
aku membelalak tak percaya padanya, aku berkata hampir berteriak padanya, "Tar, dia hampir bunuh diri setelah dia tahu salah sasaran chatting, dia kira aku itu kamu. Apalagi naasnya kamu nggak minta ijin ke aku ngasih nomor aku ke dia dan dia anggap nomor itu nomormu, sekarang seenaknya bilang mau ngenalin lagi gitu?"
aku mulai beranjak pergi.
"eh tunggu dong, kenapa sih? maksud aku baik kan. Biar kamu nggak galau lagi soal cowok." Tari berdiri mengikutiku disusul kor kecewa serentak cowok-cowok diseberang.
aku berhenti mendadak dan menatap Tari, "oke, aku bikin perjanjian sekarang."
Tari berhenti untuk menatapku bingung. Menunggu.
"Aku cuma akan menerima lamaran pertama dari seorang lelaki."
"lamaran pertama?" Tari membeo.
"Lamaran siapapun yang pertama kali adalah yang aku terima. Aku malas urusan pacaran atau perjodohan. Hanya lamaran, titik."
Kataku kemudian dengan mantap.
Tari menatapku tercengang. "Jadi...kamu nggak mau pacaran, tapi langsung nikah?", Tanya tari ragu-ragu.
Aku balas tersenyum padanya, "Iya, hanya pelamar pertama" jawabku mantap dan lanjut melangkah pergi. Di dalam hati aku mulai ragu. Sebetulnya aku cuma asal sebut, karena kesal dengan Tari, Tapi...Benarkah sumpah ini aku akan lakukan? Bagaimana kalau orang itu bukan sosok yang bisa aku cintai?
Tiba-tiba aku berhenti, teringat sesuatu, dan berbalik menatap Tari yang masih bengong ditempat, "oh ya Tar, tempat jual obat diet dimana ya?"
VOUS LISEZ
i choose you
RomanceDin menyadari kalau selama ini dia sulit untuk percaya cinta. Sampai suatu ketika terucap sumpah yang membuat dia harus memilih diantara cinta atau sumpahnya. Apa yang akan dipilih oleh Din? Apakah Din siap menerima konsekuensi ucapannya? selamat m...
