Kado?

80 13 0
                                        

Hari ini tepat pertambahan usiaku ke 23 tahun. Usia yang tidak muda namun belum cukup kuat untuk bertahan melawan keegoisan. Di usia ini pula aku mendapat kado spesial dari ayahku. Kado yang tidak di inginkan oleh siapa pun. Kado yang bahkan aku tak siap dan tak ingin menerimanya. Kado yang terlalu sadis di bebankan kepada gadis usia 20 tahun. Tapi, aku bisa apa? Bukankah pemberian orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya?. Ya, kini aku percaya dengan prinsip itu setelah 20 tahun terakhir menghianati prinsip itu.

Disini aku terduduk mengahadap kado yang ayah berikan kepadaku. Kado yang memiliki banyak makna, kado yang menjadi status atau penghalang. Batu nisan ini terlihat masih segar dan baru. Gundukan tanah makam juga terlihat beda diantara yang lain. Kini aku mengerti mengapa haikal memintaku untuk pulang dan tinggal bersamanya dan ayah.

***

Hari itu aku terpaku di depan rumah yang menjadi saksi kesengsaraanku. Kebencianku lebih besar dari rasa lelahku mesikipun aku baru menempuh perjalanan yang cukup jauh. Jika bukan karna haikal memintaku untuk pulang, aku tidak akan memijakan kaki ku di tempat ini. Dengan berat aku menekan bel yang setia menemani pintu selama bertahun-tahun. Tak lama kemudian keluar seorang laki-laki tua membuka pintu. Laki-laki yang sudah tidak asing lagi bagiku.

"dari mana saja kau! Apa kau tidak langsung pulang? Kami dari tadi menunggumu" oceh lelaki itu. Dia lelaki yang mendapat gelar ayah memang selalu mengoceh. Aku hanya diam dan masuk kerumah melalui ayah yang tak kupedulikan sama sekali. Aku langsung menuju ke kamar haikal.

Melihat haikal yang terbaring pulas di tempat tidur membuatku merasa bersalah. Aku menyelamatkan diri sendiri tanpa membawa adikku. Dia pasti sangat menderita hingga jatuh sakit dan meminta aku untuk pulang dan menemaninya. Aku mengambil tangannya dan menggernggamnya erat.

"Haikal, kakak di sini. Kamu kenapa? Maafkan kakak dek" ucapku pelan sambil mengelus kepala adiku yang tak banyak berubah.

Semalaman aku terjaga di sebelah adiku yang tidur dengan pulas. Aku tak berani mengusik istirahatnya. Biarlah pagi-pagi dia melihatku dan mengatakan apa yang terjadi.

Pagi harinya, aku menyiapkan sarapan seadanya dan menyajikannya di meja makan. Kebiasaan yang tidak lepas dari diriku sejak kecil.

" Apa yang kau lakukan? Harusnya kau di kamar saja. Tidur !" teriak ayah yang mengganguku.

"aku bukan sepertimu. Kenapa haikal? Apa yang Ayah perbuat hingga Haikal sakit?" aku menatap ayah dengan tajam. Ayah hanya terdiam membisu.

" Apa ayah memukuli Haikal, seperti ayah memukuli ku dulu?!" aku tak kuat menahan air mata yang mengalir deras di pipiku. Aku benci harus mengingat masa kecilku yang pahit. Ayah masih terdiam seribu bahasa. Dia hanya terdunduk dan mengarik nafas panjang.

" soal itu, ayah minta maaf karna...."

" apa belum cukup ayah kehilangan ibu dan aku? Apa ayah masih akan seperti ini? Apa kematian ibu dan kepergianku belum membuat ayah puas ?! apa ayah juga akan membunuh Haikal?" aku bertanya dalam teriakan ku.

" kematian ibu bukan karna ayah, kau tahu itu. Ibu meninggal karna serangan jantung" dia mencoba membela diri.

" ibu mana yang tidak terkena serangan jantung ketika melihat anak gadisnya di pukuli...."

" Kak Wenda ! " sahut anak laki laki yang berlari ke arah aku lalu memeluku erat. Segera aku menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku berpura-pura tidak ada obrolan yang terjadi tadi dan sarapan dengan normal. Setelah sarapan Ayah pergi entah kemana. Sedangkan aku, mengajak Haikal duduk di taman belakang rumah yang paling sempurna untuk menenangkan diri.

Aku sedikit heran dan kagum. Bunga yang ada di ada di taman masih hidup dan terlihat indah. Haikal benar-benar adiku yang sangat perhatian. Di sela-sela waktu sekolah dia masih sempat untuk merawat taman peninggalan ibu. Aku dan Haikal duduk di atas rumput yang tak pernah mengeluh. Aku melihat adiku yang tidak pernah ku jumpai selama hampir 3 tahun. Setelsh lulus SMA aku mendapat beasiswa ke Melbourne. Aku mengurus semuanya sendiri dan pergi. Saat itu lebih baik aku hidup sendiri dari pada bersama ayah yang selalu kasar terlebih saat kematian ibu. Dan kini, aku ingin membawa Haikal pergi bersamaku. Mesikupun tidak mudah aku akan tetap berusaha.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 08, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Knowing HeartWhere stories live. Discover now