Heltix, tahun 1802
Di belakang rumah besar La Adele terlihat begitu banyak orang yang berbaris secara teratur. Wajah mereka tertunduk merautkan kesuraman, sama seperti ketika kau menghadiri pemakaman. Kebanyakan dari mereka terdiri dari para pria dan wanita yang sudah separo baya. Mengenakan pakaian segelap abu-abu, cokelat, bahkan hitam yang identik dengan kematian. Di pinggang mereka terlilit ikat pinggang tebal dan lebar berwarna cokelat gelap. Mereka tampak seperti anggota suatu komunitas tertentu. Di tangan mereka tergenggam sebuah buku tebal yang halamannya bisa mencapai ratusan lembar.
"Buka halaman 1058, bacakan ayat 125," perintah seorang yang berada di barisan paling depan. Tubuhnya terbalut dalam jubah kebesaran hingga menutupi kepalanya. Tudungnya yang lebar membuat wajahnya tidak bisa dilihat dari sudut manapun. Hanya tangan dan jarinya yang mengkerut sedang memegang sebuah buku tebal. Dari bahasa tubuhnya, nampak bahwa dia adalah seseorang yang terbiasa menjadi panutan.
Satu persatu dari mereka membuka buku tebal tersebut dan mencari halaman yang di maksud. Mereka mulai membaca satu per satu kalimat yang tertera dalam buku tersebut. Serempak, seperti sebuah paduan suara professional. Satu menit ... dua menit ... lima menit ... hingga hampir 20 menit berlalu, barisan manusia itu baru bisa menyelesaikan ayat 125. Sang pemimpin itu membuka pentutup kepala yang di pakainya. Seorang pria dengan bekas luka yang memanjang di kedua pipinya. Luka torehan itu cukup dalam hingga membentuk sebuah cekungan. Ia menyeringai, memperlihatkan senyum dingin yang begitu menakutkan. Kerutan di ujung matanya menunjukkan bahwa sebenarnya ia sudah terlalu tua untuk menjadi pemimpin. Tapi, siapa yang peduli dengan itu? Toh mereka masih mengikutinya. Dengan wajah penuh kebencian, ia berjalan menuju sebuah batu lebar yang ternyata sebuah altar dengan dua kaki penyangga yang juga terbuat dari batu alam. Terdapat 10 anak tangga untuk menuju ke sana. Satu persatu, pria tua itu menaiki anak tangga tersebut seraya menggumamkan sesuatu, layaknya merapal sebuah mantra. Pria itu juga menggerakkan jemarinya. Jari-jarinya membentuk sebuah kode isyarat. "Yang bersalah harus dihukum, tidak ada yang dapat menggantikan darah seorang pendosa melebihi dirinya sendiri dan juga keluarganya."
Di atas altar, ia menyiramkan cairan pekat seperti minyak berwarna hitam. Beberapa orang datang dengan membawa kain putih yang kini lusuh, gunting, pisau, tali dan sebuah cambuk berbahan jalinan kulit. Pria itu kembali merapal mantra atau mungkin Cuma bergumam. Ia menoleh ke belakang, memerintahkan beberapa orang. "Bawa dia kemari." Tiga orang pria maju dengan menyeret seorang wanita yang bahkan tidak melawan. Namun mereka seakan kesulitan membawanya. Bahkan salah satu dari pria itu sempat mengerang kesakitan ketika wanita itu sedikit mendorongnya. Mereka membawa wanita itu ke altar seperti sebuah persembahan.
"Ikat tangan dan lehernya dengan kuat," perintah si pria tua itu lagi. Awalnya wanita itu memberontak, namun sabetan cambuk dari para pengawal menghentikan usahanya.
Kali ini wanita itu melawan. Altar batu itu goyah, lalu di sekelilingnya bergetar dan membuat orang-orang yang berada di bawah berlari kesana kemari. Sang pemimpin mencekik leher wanita itu dengan kukunya yang tajam dan gempa itupun mendadak berhenti. Kemudian ia melilitkan sebuah kain lusuh yang telah diolesi darah dari seeokor burung gagak ke leher wanita itu. Kemudian pria itu menariknya perlahan ke atas hingga wanita itu tercekik. Tanganya juga diikat ke atas pada sebuah balok kayu. Pria tua bercodet itu tersenyum sadis, "Tenanglah, anakku! Kau akan terlahir kembali."
Wanita itu membelalakkan mata, pupilnya membesar karena terlalu terkejut, pelan-pelan ia menggelengkan kepalanya ketika melihat kilatan pisau mendekati dadanya yang hampir telanjang. Wanita itu dibiarkan tergantung dengan ikatan di tangan dan lehernya. Secara ajaib, tumpukan kayu di sekelilingnya tiang penyangga tempat wanita cantik itu terikat mendadak berkilat dan menyala. Kilatan apinya sedikit demi sedikit mengenainya, tetapi ia tidak bisa menjerit. Suaranya tetap tercekat di tenggorokan. Sang pemimpin mendekat dan membawa sebuah gunting. Ia perlahan memotong rambut wanita itu hingga pendek. "Kau terlihat cantik dengan rambut barumu, sayang." Jilatan api itu semakin menyala terang dan membara ketika mereka kembali membaca buku tebal yang mereka pegang.
YOU ARE READING
The Other Soul
FantasySelama hidupnya, Ester Ghaozan selalu dihantui oleh mimpi-mimpi aneh mengenai penyihir, iblis dan hal-hal yang tidak masuk akal lainya. Hingga ia menemukan sebuah buku kuno, buku yang mengungkap tentang semua misteri yang selama ini dialaminya. Bahk...
