Danis menghembuskan napasnya saat melihat kekacauan yang dibuatnya barusan. Yeah, memang bukan salahnya sih namun tetap saja dia menyesalinya. Menyesal tindakan cerobohnya membuat dia menjadi pusat perhatian.
"Lo.. Kenapa?" Danis mengernyitkan alisnya bingung. Dia melihat seorang cewek bertanya dengan sorot penasaran.
"Lo ngomong sama gue?" Tanyanya balik.
Cewek itu mengangguk lalu tersenyum canggung, "lo anak baru ya?" Danis mau tak mau mengangguk.
"Pantes" Gumamnya pelan. Dia berusaha untuk bergumam sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh cowok didepannya ini. Namun sayangnya, Danis cukup peka untuk mendengarnya, dengan ragu dia bertanya dengan sorot penasaran yang berusaha ia tutupi rapat-rapat.
"Pantes kenapa?"
"Pantes muka lo kaya orang baru. Tapi muka lo gak sebaru itu untuk seukuran anak SMA hehe"
WHAT!!
Dengan dongkol, Danis mendelik pada cewe disebelahnya, sialan. Apa katanya? Gak sebaru itu untuk seukuran anak SMA? Jadi maksudnya dia tua? Setua itukah?
Memikirkan perkataan cewe tersebut membuat Danis mau tak mau menjadi kesal. Dia mencoba untuk mengabaikan perkataan tersebut dan meninggalkan cewe itu dengan rasa dongkol yang teramat dalam.
Lebih dari itu, dia gengsi.
Jelas. Disaat semua cewe memujanya, cewe yang entah dia tak tahu namanya baru saja menyebutnya tua- meskipun secara tidak langsung-
Danis mengumpat, benar-benar sialan.
Lebih sialan lagi jika dia harus terjebak untuk waktu yang lama disini.
YOU ARE READING
Beside you
Teen Fiction"Lo tau apa yang lebih gila dari ini?" Tanya Danis pelan. . "Engga. Emang apa?" Tanyanya balik. . "Gue harus terjun kesekolah setelah udah 3 tahun lulus!" Pekik Danis geram. . "Yaelah, itung-itung ada imbalannya. Terima aja, nanti bos marah lagi h...
