Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Seperti itulah yang terjadi di dunia ini.
Perkenalkan namaku Arina Putri Callista. Aku sering dipanggil Arin. Aku sekarang menginjak kelas 12. Pagi ini aku terbangun seperti biasa aku bersiap untuk ke sekolah. Sesampai di sekolah aku bertemu dengan para sahabatku Nina dan Ani. Mereka menyapaku setelah melihat aku sampai di kelas
"Musam bangetnya mukanya rin" ujar Nina yang tak berhenti menggangguku setiap kali aku sampai di kelas.
"You know lah muka dia musam gara-gara masih belum bisa move on" Ani kemudian memperjelas ejekan dari Nina. Aku membalas mereka dengan senyum terpaksa.
Seperti itulah cara mereka berdua menggangguku. Mereka mengenalku sebagai cewek yang tak bisa moveon. Tak bisa disalahkan juga seperti itulah memang yang terjadi kepadaku. Entah sejak kapan aku mengenal cinta,sejak kapan juga aku merasa tak bisa melupakan seorang pria,dan sejak kapan aku merasa cinta itu menyakitkan.
Banyak hal yang telah terjadi dihidupku bahkan aku kadang berfikir kalau hidup ini tak pernah berpihak kepadaku. Ada banyak alasan yang kadang membuatku merasa hidup ini tak pernah berpihak. Alasan yang pertama karena ayahku meninggal saat aku masih duduk dikelas 6 SD. Aku sangat dekat dengan ayahku. Alasan yang kedua adalah aku harus menyaksikan perjuangan ibuku begitu keras untuk menyekolahkanku. Alasan yang ketiga aku baru mengerti akan cinta dan saat itu juga aku harus sakit karena cinta.
Dan sudah 2 tahun ini aku masih menyimpan rasa untuknya. Berharap suatu hari dia kembali dan mengajakku kembali bersamanya.
"Bengong aja teruss. Pasti udah stalking adli lagi yah. Terus kamu dapetin foto dia bareng pacar barunya terus kamu....." Nina mulai membaca kondisiku. Lebih tepatnya menebak.
"Terus dia nangis semalaman dan hari ini dia bengong karena masih mikirin hal yang dia lihat semalam" ani melanjutkan penjelasan Nina.
"Hmmmmm. Gak juga sih semalam aku gak stalking adli sama sekali. Aku beneran udah mau moveon. Gak mau lagi inget tentang dia apa lagi cari tau tentang dia" aku membela diri.
"Kamu udah bilang itu dari kita kelas 10 arin. Dan sampai sekarang kamu belum bisa ngebuktiin kata-katamu yang KATANYA mau moveon" Ani membantah pembelaanku.
Akupun menunduk tak tau harus berkata apa lagi. Mereka berdua paling tau seperti apa aku dan bagaimana kondisiku.
Tiba-tiba notif dihpku bunyi aku lihat,satu orang telah mengikutiku ditwitter dan dia minta followback. Yah dia seorang cowok setelah aku cek dulu akunnya ternyata dia udah punya pasangan. Ya sudahlah dia mungkin hanya ingin berteman akupun followback cowok yang aku sendiri tak tau siapa dia. Setiap cowok yang hadir dihidupku selalu aku harapkan dia lah yang membuatku bisa melupakan masa laluku. Tapi sampai sekarang belum ada sosok cowok yang tuhan kirimkan untuk membantuku melupkan masa laluku.
