Jejak langkah tak sempat bergeming ketika langkah yang lain mendahuluinya. Ada sembilan ribu sembilan ratus dua puluh tiga manusia berkaki dua dengan jejak tumpang tindih, semakin lama semakin cepat, menunggu hujan yang mengalir turun dari atap koridor untuk menghapusnya.
Teriakan disana, permintaan tolong disini, dan orang-orang tak bertanggungjawab dimana-mana.
Suara kereta yang hendak berangkat memanggil langkah-langkah itu agar lebih cepat lagi,
Lebih cepat,
Lagi lebih cepat.
Tak ada waktu yang bisa dimundurkan sebab langkah itu mengarah ke depan
menuju gerbong yang sedikit lagi penuh--
dimana orang-orang kelelahan langsung terlelap di kursi tanpa peduli langkah yang dijejakkannya sebelum ini
Lalu kau memasang headset di tengah lubang telingamu
Dengan harapan tak ada yg mengajakmu bicara
Kemudian teriakmu, "berangkat sekarang sajalah, pak masinis!"
(Suatu sore, 22 Agustus 2017)
_________________
Puisi ini aku buat untuk menghargai setiap permulaan yang terjadi pada hidup. Karena tidak pernah ada kata terlambat untuk mengawali sesuatu yang 'seharusnya' kita lakukan sejak lama, misalnya seperti berbuat baik ataupun mengejar mimpi.
But afterall, a poet is depend to their readers. So, u can make your own meaning :)
YOU ARE READING
The Last Destination : Love And Happiness
PoetryApakah kau mengetahui tujuan akhir dari seluruh langkah terseok yang kau jalani hingga sejauh ini? Percayalah padaku : itu sama sekali bukan surga Bukan 72 bidadari yang setengah dari mereka berambut sepundak, bukan juga istana pribadi dengan sungai...
