Parallel.1

42 7 3
                                        

Dunia ini bukan hanya milik manusia. Bukan manusia penguasa bumi ini. Dan belum tentu pula hanya bumi yang memiliki manusia.

Parallel universe.

"Aguungg cmon' wake up babe, you'll go to school today won't you? Cmon' hunnie" suara penuh kasih namun memekikkan telinga itu membangunkan Agung, lelaki 17 tahun yang baru saja tinggal di Indonesia. Agung mengerjapkan matanya yang tersorot matahari dari jendela kamarnya. Agung lalu bersiap untuk pergi ke sekolah. Sekolah barunya. Agung adalah putra sulung. Dia tinggal di Australia sejak kecil. Sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia satu bulan yang lalu.

------

"Mornin' guys" sapa Agung kepada keluarganya yang sudah mengelilingi meja makan. "Biasakan pakai bahasa Indonesia. You aren't in Aussie anymore Gung. We have our own language" kata sang Ayah. Agung hanya mengangguk lalu duduk dan melahap sarapannya. "Ibu aku berangkat ke sekolah bersama siapa?" Tanya Agung. "Kamu bisa naik motor Gung. Jangan manja" kata Ibunya yang tengah membereskan sisa sarapan keluarganya. "I hope I'm not here" ucap Agung lalu berlalu tanpa pamit meninggalkan meja makan.

------

Agung telah sampai disekolah barunya. Dikelas XII mipa4 Agung memperkenalkan dirinya.
"Hi teman-teman. Nama saya Agung. Saya tinggal di Anggrek residence nomor 11. Mohon bantuannya" kata Agung memperkenalkan diri. "Baik anak-anak. Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Bu guru. Mata Agung menyapu seisi kelas. Agung merasa diamati oleh teman-temannya. Namun ada sepasang mata yang mengamatinya dengan berbeda. Seorang gadis bermata indah dengan rambut yang di kuncir kuda tampak mengamati Agung dengan rasa yang lain. "Beautiful eyes" batin Agung ketika mengamati gadis manis yang juga mengamatinya.
"Baik, silahkan duduk Agung" suara dan tepukan di bahu Agung , menyadarkan Agung dari dunia mata indah milik gadis yang duduk di pojok itu. Agung langsung duduk di kursi yang kosong. Cukup jauh dari tempat gadis bermata indahnya itu.
"Hai Agung, aku Nara" sapa seorang gadis berbehel yang duduk didepannya. "Oh, hai Nara" jawab Agung seperlunya.

------

"Gaung, kamu curang. Kamu yang membuatku rindu tidak pernah bertanggung jawab atas perbuatanmu" gadis berambut coklat itu terus menatap gambarnya bersama seorang pria. Gadis bernama Firdha itu selalu menatap gambar itu saat senja mulai datang. Firdha selalu merindukan Gaung, kekasihnya. Gaung dan Firdha telah lama berpisah dan tidak berkomunikasi. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu, Gaung yang merupakan seorang astronot diutus untuk meneliti sebuah planet. Hingga saat ini Gaung tak pernah diketahui kabarnya. Entah masih hidup atau sudah meninggal. Firdha selalu menunggu Gaung kembali. Meskipun itu mustahil. Tapi Firdha percaya bahwa cinta Gaung untuk Firdha itu nyata dan selalu benar. Firdha sangat yakin terhadapnya.
"Firdha" suara seorang pria membangunkan Firdha dari lamunannya. "Eh? Edgar?" Firdha menjawab laki-laki yang disebut Edgar itu. "Kamu lagi apa Fir?" Tanya Edgar. "Nunggu Gaung" jawab Firdha datar sambil menatap kilau senja di utara. "Bukannya kemaren kamu udah nunggu Gaung?" Tanya Edgar lagi. "Yaa, tapi kemaren Gaung belum datang" Firdha menjawab Edgar tanpa menoleh dari kilauan senja. "Kamu ngga cape nunggu Gaung?" Tanya Edgar memastikan. "Nggak" Firdha menjawab singkat lalu beranjak meninggalkan Edgar. "Gaung udah bahagia di tempat lain Fir" Edgar berkata lirih.

ParallelWhere stories live. Discover now