Siang itu, Ni Luh Sapta Kartini, atau yang kerap disapa Atta itu terlihat duduk di bawah pohon yang berada di pinggir lapangan upacara. Ia tak sendiri, melainkan bersama kedua sahabatnya. Yaitu, Ni Putu Galuh Febriana, dan Ni Luh Puji Astuti yang sedang beristirahat seusai mengikuti pelajaran olahraga yang tentunya sangat menguras energi.
"Ke kantin, yuk?" ajak Atta pada kedua sahabatnya sambil beranjak dari tempat ia duduk.
"Yuk!!" Jawab Puji, dan Galuh dengan kompak, juga penuh semangat, sambil beranjak bangkit menyusul Atta yang sudah berdiri lebih dulu.
Sesampai ketiganya di kantin, Atta bersama dengan Puji, dan Galuh langsung mengambil minuman dingin yang berada di dalam lemari pendingin.
"Uugh... segarnya," ucap Atta dengan tangan mengusap leher saar rasa hausnya terpuaskan oleh sebotol minuman dingin.
Tak jauh dari posisi ketiganya berada, tampak seorang lelaki paruh baya duduk terpelongo melihat tingkah mereka bertiga.
"Pak, aku pesan mie goreng pake telur, plus ekstra cabe, ya?" ucap si Galuh sambil menggerakkan kakinya ke tempat yang akan mereka duduki.
"Siap bos!" jawab lelaki paruh baya tersebut dengan sigapnya.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan yang diminta oleh Galuh pun telah siap.
"Mari makan!!" ajak Galuh dengan suara toanya yang kontan mengundang perhatian seisi kantin.
Atta berdecak gemas seraya menggelengkan kepala menanggapi kelakuan sahabatnya yang satu itu, "Luh, toanya dikurangin dikit bisa kali. Malu-maluin aja kamu,"
"Dih, ngapain mesti malu coba? Punya suara toa itu--" perkataan Galuh terhenti saat Puji membekap mulut sahabatnya itu dengan telapak tangannya yang berukuran sedikit lebih besar dari cewek pada umumnya.
"Makan tinggal makan aja bawel amat sih," gerutu Puji tanpa mau melepas bekapannya dari mulut Galuh.
"Yeh, si Puji. Gimana dia mau makan kalo mulutnya kamu bekap kayak gitu?" sambar Atta geli, tangannya ia gerakkan untuk menampol dahi Puji yang tertutup poni.
Puji langsung memasang cengirannya, lalu berujar, "Iya juga, ya." Kemudian, Puji pun melepas bekapannya dari bibir Galuh.
"Awas berisik," ancamnya pada Galuh.
Galuh hanya merespon ancaman Puji dengan dengusan sebal. Akhirnya, ia pun mulai meletak titik fokusnya pada makanan pesanannya, kali ini tanpa bersuara, dan penuh kekhusyukan.
"Luh, kamu udah baca doa makan apa belum? Awas, ntar ada setan yang ikut makan," goda Atta sambil cekikikan. Gadis itu kemudian menopang dagu dengan telapak tangan mungilnya di atas meja kantin, tatapan matanya yang lembut tak lepas dari Galuh yang sedang mengunyah.
"Belum, sengaja nggak baca doa pas makan. Nanti aja baca doanya pas minum, biar setan yang ikut makan langsung keselek." jawab Galuh kelewat santai.
Puji langsung saja menautkan alisnya ketika ia mendengar penuturan Galuh. Sementara, Atta hanya tertawa terbahak-bahak ketika penuturan ajaib Galuh masuk ke indera pendengarannya. Ia sama sekali tak peduli dengan tatapan-tatapan sinis yang ditujukan padanya karena tertawa terbahak-bahak, karena ia tak pernah merasa ketawanya mengganggu sama sekali.
"Terserah deh, Luh." gumam Puji acuh tak acuh.
"Emang suka-suka saya, kok." timpal Galuh sewot.
"Dih, sewot." gidik Puji sembari memutar bola matanya jengah.
"Kamu tuh yang sewot, kenapa malah jadi ngatain saya yang sewot?" protes Galuh tak terima.
"Udah, udah. Saya yang salah," sela Atta menengahi kedua sahabatnya. Jika tak segera dileraikan oleh Atta, acara saling sahut omongan antara Puji, dan Galuh tak akan pernah berhenti, bahkan akan makin memanas nantinya. Sehingga nanti berujung pada acara saling meneriaki satu sama lain.
YOU ARE READING
Pertemuan Singkat
Short StoryBegitu indah kenangan yang kau ukir di hatiku, hingga ku tak mampu menghapusnya sampai saat ini. Kau hadir dalam waktu yang sangat singkat, dan meninggalkan ku dalam waktu yang teramat panjang. Hanya rasa sakit yang terasa saat ku melihatmu pergi me...
