Prolog

32 9 0
                                        

"Jangan aneh-aneh." Remaja berambut ikal mengingatkan, suara beratnya terdengar mengancam jika saja situasi mereka sedang berada ditengah-tengah perang.

Gadis tersebut hanya mengangkat bahu acuh dan menjulurkan lidah dan berlari pelan menuju rumah sederhana yang sudah ditutupi oleh tanaman rambat.

Sadar bahwa kata-katanya tidak digubris, remaja berambut ikal tersebut menghela nafas kemudian mengikuti langkah kaki gadis tersebut tak lepas memperhatikan punggung kecil tersebut.

Gadis tersebut sudah mengentikan larinya setelah melewati halaman berumput setinggi lutut orang dewasa dan kini berjalan memasuki ruangan dengan hentakan pada daun pintu. "Jess pulaaang." Teriak gadis yang memanggil dirinya Jess.

Remaja tersebut mengangkat sebelah alisnya namun tidak menghentikan langkahnya menyusul Jess yang kini sudah memasuki rumah kecil tersebut.

Jess melemparkan tasnya pada sofa coklat diruang yang menyambut mereka pada pintu utama, tak lama badannya pun mendarat mulus pada sofa tepat disamping tasnya mendarat.

Remaja tersebut berdiri diambang pintu dengan kedua tangan pada kantung hoodie dan mulut yang ditutup oleh masker berwarna hitam. Kaki dengan balutan sepatu kets tersebut tampak enggan memasuki ruangan berdebu tersebut, berbanding terbalik dengan Jess yang tak peduli dengan debu yang sudah berterbangan disekelilingnya sejak ia bantingkan dirinya pada sofa.

Jess menangkap pergerakan remaja yang memiliki usia lebih tua satu tahun darinya melangkah mundur, disaat itulah badannya bangkit dan melangkah lebar kearah pintu segera menarik tudung hoodie tersebut dan menyeretnya masuk.

Langkah remaja tersebut tersaruk-saruk mundur mengikuti tarikan gadis kelebihan energi dibelakangnya namun tidak menolak, atau terlalu malas untuk melakukan perdebatan yang mungkin saja dapat terjadi.

"James! Ini rumah baru kita, kalo kamu lupa." Ingat Jess setelah dirinya berhasil membuat remaja tersebut duduk pada sofa yang sebelumnya ia tempati. Sedangkan remaja yang dipanggil James hanya menatap tajam pada Jess tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

Sadar tidak ada kata-kata tajam ataupun kalimat berupa penolakan keluar dari mulut James yang tertutup masker, bibir Jess melengkung hingga sudut matanya dan mengelilingi pandangannya pada ruangan dimana mereka berada.

Tidak terlalu besar, jika perhitungan Jess benar ukuran ruangan ini sekitar dua kali dua meter kemudian ia temukan jalan masuk menuju ruangan lain dan terpekik tertahan membuat James melirik sinis Jess "Gak usah lebay," namun tidak digubris sama sekali oleh Jess sampai akhirnya gadis tersebut menjelajah rumah baru mereka.

"James! Ini keren, sumpah! Ini bakal jadi rumah yang indah buat kita!"

Kita? Sekali lagi James menarik dan menghembuskan nafasnya pasrah.

SHADOWSWhere stories live. Discover now