"Aigina, Terserah apa yang kamu minta. Asal jangan pernah meminta sebuah cinta,"
Abraham mengangkat tangannya ke udara sebagai pertanda Ia sudah menyerah. Berbeda dengan Aigina, Perempuan itu masih ingin melanjutkan aksi Adu mulut mereka. Sehingga, Ia menjawab.
"Baiklah, Aku ingin kamu memakaiku malam ini. Bisa?"
Pria itu memicingkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Aigina. Memang, tubuh mungil yang ada dihadapannya saat ini terlihat sungguh menggoda. Tapi, tidak bisa dipungkiri, Ia sungguh membenci perempuan itu. Sangat membencinya. Akhirnya, Dia hanya mengacuhkan Aigina untuk kesekian kali.
"Tidak akan, Aigina. I'm never touch you. Kita berdua menikah bukan karena kita saling mencintai. Kita menikah atas dasar keinginan keluarga kita,"
Abraham berbicara sambil berjalan menuju ke Ruang Kerjanya. Banyak sekali hal - hal yang harus dia selesaikan hari ini. Bahkan, Kertas yang berada diatas meja kerjanya lebih penting daripada berbicara dengan Aigina. Perempuan itu bisa membuat Abraham naik darah tiga kali lipat.
"Abraham, aku ingin merasakannya," Ucapnya untuk ketiga kali.
Melihat Abraham berjalan ke ruang kerja. Dia pun mengikuti langkah kaki Abraham dan membiarkan tubuhnya tidur santai diatas kursi empuk yang tersedia.
"Apa kertas itu lebih menggoda daripada aku, Pak Menteri?"
Abraham masih belum menjawab. Ia memang mendengar ucapan Aigina secara jelas. Tapi, dia berusaha fokus dengan pekerjaannya untuk membiarkan Perempuan yang ada dihadapannya berbicara apapun hingga dia lelah sendiri.
"Abraham Jupiter Galaxis, Anda memang tidak mendengarkan saya atau memang berpura-pura tidak mendengarkan?"
"..."
"Abraham, kamu adalah seorang Menteri. Dan, bidangmu adalah dibagian Hukum dan HAM. Seharusnya kamu menjadi orang terhormat dan melayani rakyat untuk negara, kan?"
"..."
"Pak Menteri, saya mau bertanya. Apa ada sanksi yang seharusnya diberikan kepada seorang Pejabat Negara yang tidak melayani rakyatnya?"
"..."
"Saya disini sebagai rakyat. Dan, anda adalah Pejabat Negara. Tapi–"
Mendengar ucapan Aigina yang sangat menganggu konsentrasi Abraham. Ia pun membuka suara,
"Aigina, bisakah kamu keluar dari ruanganku? Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku."
"Aku akan keluar sekarang kalau kamu memenuhi keinginanku."
"Apa yang kamu inginkan? Banyak sekali keinginanmu, Aigina."
"Kamu, didalam tubuhku, Abraham. Sekali saja?"
"Tidak akan pernah, Aigina."
"Kenapa tidak? Apa kamu termasuk orang-orang yang menyukai sesama jenis, Abraham?"
"..."
Abraham tidak menjawab. Ia masih menatap Aigina secara intens. Kemudian, berjalan menuju Aigina dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Diluar dugaan Aigina, Pria itu pun mengangkat tubuhnya dengan sekali gerakan.
Abraham menempelkan tubuh Aigina diatas tubuhnya. Lalu, dia berkata.
"Aku normal, Aigina. Kamu bisa merasakannya, kan?"
YOU ARE READING
PRIMROSE
Romance#3 OF GALAXIS Saya mempunyai berbagai cara untuk mencintai. Namun, Takdir mempunyai bermacam - macam hal untuk memisahkan. Saya juga mempunyai berpuluh ribu cara untuk tidak menjadi abu. Tetapi, Takdir sudah menjadikanku arang terlebih dahulu. Disi...
