Prolog

62 10 1
                                        


"cek responitas mata pasien"

"siapkan peralatan infuse"

"bagaimana tekanan darahnya?"

"120/80 mmHg dok"

"normal. Tapi suara jantungnya tak terdengar bersahabat, pindahkan dia keruangan X-ray sekarang!"

"baik dok"

Hampir seluruh bangsal terisi oleh percakapan yang sama dengan percakapan yang baru saja dilakukan oleh seorang dokter mungil disalah satu balik tirai UGD yang menjadi pembatas antara pasien yang satu dengan yang lain.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 23.19, namun tak terlihat sedikit pun tanda bahwa hari ini akan mengisinkan dokter-dokter piket itu untuk beristirahat. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya pasien yang berdatangan dengan kasus pertolongan yang berbeda-beda, mulai dari yang teringan hingga yang tersulit untuk ditangani. Bahkan juga ada yang sampai menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali.

Dari luar ruangan terdengar jelas suara sirene ambulance yang hendak terparkir tepat dipintu masuk rumah sakit. 4 orang perawat kini berlari menghampiri crank pasien yang baru saja diturunkan dari kabin ambulance. Seketika koridor rumah sakit mulai dipenuhi dengan decitan roda yang kecepatannya tak bisa diperkirakan. Dan suara decitan itu beringingan dengan suara teriakan dari salah seorang perawat yang tengah mendorong crank itu agar sampai di ruang UGD dengan cepat.

"beri kami jalan..." teriakan perawat itu kepada semua orang yang dirasanya menghalangi jalannya

"luka tembak disebelah kiri ulu hati, tekanan darah 90/50 mmHg, dan juga begitu banyak luka memar disekujur tubuhnya" jelasnya sesaat setelah tiba disalah satu balik tirai yang masih kosong.

Dari kejauhan sana, jelas terlihat salah seorang dokter dengan lihai memainkan senter kecil -yang selalu duduk manis disaku jas kebesarannya- dimata pasien untuk mengecek tingkat responitas saraf mata pasien. Terlepas dari kegiatan itu, kini tangannya bekerja sama dengan stetoskop untuk mengitari dada bidang pasien untuk mendengar seberapa buruk keadaan dibalik kulit pasiennya.

"suster piket, siapkan ruang operasi sekarang!" perintah dokter itu secara tiba-tiba

"admin hubungi dokter Nugroho!" sambung dokter itu lagi tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari lubang yang dibuat paksa oleh ujung peluru yang kini bisa dipastikan tengah bersarang dalam tubuh pasien.

Helaan nafas beratnya terdengar jelas, sembari memantapkan perhatiannya kepada layar monitor tanda vital pasien yang menunjukkan semakin menurunnya tekanan darah dan juga ketidak stabilannya detak jantung pasien.

"Nugroho sialan, kenapa kamu malah gak ada disaat sepenting ini" omel kasar dari dokter itu "pindahkan pasien keruang operasi sekarang!" sambungnya seraya bergegas mengganti pakaiannya dengan perlengkapan operasi.

                                                                                       ¶ ¶ ¶

"Bistoury" Terdengar helaan nafasnya lagi namun kini lebih ringan, yang ia barengi dengan anggukan kecil seraya meyakinkan dirinya bahwa dia pasti bisa menyalamatkan pasiennya.

"kaza"

"klem"

Tangan mungil dokter itu kini dengan gesitnya menjepit kedua sisi bagian yang terbelah agar memberinya ruang yang cukup besar untuk mengintip dimana peluru itu bertahtah.

SREEEETTTTTT

"sorry... tadi aku terjebak macet" ujar dokter Nugroho yang baru saja tiba diruang operasi. alih-alih mendapat sambutan, perkataan maafnya saja hanya disambut dengan tatapan kesal oleh dokter itu.

Mr. Gangster & Ms. DoctorStories to obsess over. Discover now