Sepercik Perhatian

99 4 7
                                        

Setiap manusia diciptakan berbeda, tidak ada yang benar-benar sama. Termasuk cara seseorang menunjukan rasa perhatiannya.

***

Hari itu menunjukan pukul lima sore. Nara masih betah dan belum beranjak dari kasur sejak pulang sekolah tadi. Keseharian yang monoton dalam hidup Nara terkadang membuatnya bosan. Untung saja gadis itu masih memiliki teman kecil sampai saat ini masih bertempat tinggal di samping rumahnya. Keluarga yang tidak utuh dan harmonis membuat Nara menjadi sosok yang cuek dan tidak peduli. Gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar dibanding harus keluyuran ke sana ke mari.

Sejak kecil, Nara hanya tinggal bersama ibunya. Hingga saat ini, Nara tidak tahu alasan kedua orang tuanya bercerai. Apa mereka tidak memikirkan masa anaknya? Apakah mereka tidak memikirkan Nara yang kurang kasih sayang? Entah lah, hanya mereka dan Tuhan yang mengerti jawabannya. Gadis itu masih setia telungkup di atas kasur sambil memainkan ponselnya, hingga terdengan ketukan pintu kamarnya.

"Siapa?" gadis itu berteriak masih dengan posisi yang sama, bahkan hanya kepalanya saja yang menoleh ke arah pintu.

"Ada Rega diluar,"

Ternyata ibunya.

Kemudian gadis itu merubah posisinya menjadi duduk, "iya, tunggu bentar,"

Nara segera melangkah ke lemari pakaian, dan mengambil sebuah kaos bergambar Mickey Mouse yang dipadukan dengan celana jeans ¾ paha. Ia menuruni tangga sedikit tergesa, tangan kanannya masih setia menggenggam ponsel. Setelah tiba di lantai bawah, gadis itu berjalan santai menuju pintu utama. Nara berhenti tepat di depan pintu sambil memperhatikan Rega yang masih menyender sambil memainkan ponselnya.

"Kenapa, Ga?" gadis iu berjlan menghampiri Rega. Rega memasukan ponselnya ke saku celana saat menyadari kedatangan Nara.

Raga adalah satu-satunya orang yang selalu mengerti kondisi Nara, dan ia juga teman kecil Nara yang masih bertahan hingga detik ini.

"Temenin gue, yuk," kata Rega.

"Kemana?"

Rega dan Nara adalah dua makhluk langkah yang pernah ada di bumi. Keduanya terkesan cuek dan tidak peduli. Rega dengan sikap dinginnya, sedangkan Nara dengan sikap cuek dan ketidak pedulian terhadap sekitar. Serta watak keras yang mendominan pada dirinya. Namun keduanya berteman dekat bahkan bersahabat sejak kecil. Bagi Nara, Rega adalah sosok yang mengerti dirinya sejak dulu. Bahkan orang tuanya sendiripun tidak semengerti Rega. Bagi Rega, Nara adalah sosok gadis yang sejak dulu selalu mencuri perhatian, entah itu dalam hal kecil atau besar sekalipun. Intinya, Nara selalu berhasil membuat Rega mengabaikan sekita dan hanya tertuju padanya.

"Taman komplek." Jawab Rega.

"Tunggu," gadis itu berbalik kemudian masuk ke dalam rumah. Tak lama, Nara kembali, kemudian gadis itu keluar rumah sambil menarik baju Rega. "Ayo,"

Rega yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mendengus jengah. "Bisa gak, lo gak usah tarik-tarik baju gue." tanpa mengucapkan kata apapun, Nara melakukan apa yang dikatakan Rega barusan.

Gadis itu menunduk mengamati langkah kaki keduanya. "Lo mau ngapain sih ke taman?"

Orang yang ditanya menolehkan kepalanya ke samping kiri. "Pengen aja,"

Rega mengernyit saat menyadari Nara terus jalan menunduk. "Lo ngapain sih nunduk mulu? Nyari gopean?"

Perkataan Rega sukses membuat Nara mendongak, gadis itu menatap Rega dengan kesal. "Tai."

Laki-laki itu terkekeh kecil saat mendengar ucapan gadis disebelahnya.

Hening selama perjalanan akhirnya berakhir ketika Rega mengajukan pertanyaan saat mereka tiba di taman komplek.

Short StoriesWhere stories live. Discover now