Bahagia itu sederhana, memiliki banyak teman misalnya. Tapi, apa mereka benar-benar teman?
Memangnya, kau tau apa?
Begini, aku memang sedikit pendiam? Buktinya, saat teman-teman pertama melihatku, mereka pikir aku ini pendiam dan terkesan judes. Tapi, tak apa, lah faktanya begitu.
-----
Sekolah, tempat dimana kamu bisa jadi siapapun. Salah satunya, pendengar yang baik. Terutama, saat ibu guru menjelaskan rumus fisika bagaikan mendengar dongeng dari antah berantah yang membawa ke alam mimpi, dengan sangat cepat.
"Na?"
"Hm"
"Eh, Na. Saya ngantuk nih, itu apa sih, kok minyak tumpah aja diitung segala."
"Elah, si eneng pake nanya. Dah sana dengerin."
Sedangkan Nana dengan cueknya memasang headsheat. Persetan dengan dongeng antah berantah ibu gurunya juga gertakan dari teman sebangkunya. Akhirnya, Lili, teman sebangkunya hanya diam. Aku baru menyadarinya ketika bel pulang, ternyata Lili telah tertidur dan membuat danau buatan di atas meja. Memang, Lili ini ya, bikin temen pengin pergi jauh darinya.
Hari ini, Jumat. Hari yang dinanti setiap pelajar, bahwa dua hari ke depan mereka akan liburan, yang meski tak panjang. Tak menyia-nyiakan waktu, banyak siswa langsung bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Hanya tersisa beberapa anak yang sibuk ekstrakurikuler atau memang betah di sekolah. Begitu pula aku, bergegas pulang. Sebelumnya aku menuju parkiran dan membawa sepeda.
Terik matahari yang menyengat tak mengalahkan semangat yang berkobar untuk sampai ke rumah. Terlebih jalanan sepi saat kaum pria menjalankan kewajibannya. Di depan gerbang, anak-anak saling menyapa sembari berpamitan pulang. Sampai aku tertuju pada seseorang yang sedang membaca buku dengan jaket hitamnya. Aku berdecih, sombong sekali dia, mengingat hal yang pernah terjadi di masa lalu dan merasa tak ada apapun setelahnya.
Aku mengayuh sepedaku dan bersikap acuh melewatinya.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Na!! Kalau jalan itu liat-liat. Ada temen gak disapa." Suara cempreng yang sudah kuhafal setiap oktafnya memaksaku untuk menengoknya. Iya, Lili. Memang siapa lagi? Temanku kan hanya dia.
"Ada apa, Li?"
"Nggak, sini temenin saya dulu, belum dijemput."
Aku hanya mendengus dan memarkirkan sepeda di trotoar. Sedangkan Lili hanya terkekeh melihat tingkahku.
Seperti biasa, dengan cepat Lili mengambil alih handphoneku dan menyalakan mode teathring. Aku hanya membiarkannya, untung temen, kalo bukan udah ditimpuk pake tempat minum legendaris. Ehe.
Duduk bersandar sambil mengamati teman-teman memang menyenangkan. Apalagi, kalau ada yang dijemput pakai teman setianya, siapa lagi kalau bukan sepeda. Aku sesekali melirik laki-laki yang ada di depanku. Ternyata yang dilihat justru balik melihat. Ia seperti menatapku dan mengangguk untuk izin pamit, mungkin? Hey, kapan pulang bareng lagi. Batinku.
***
Rumah, tempat untuk melanjutkan pekerjaan sekolah yang mungkin bisa dibilang menggunung. Di depan pintu rumah, aku disambut oleh kakakku dengan senyum yang mengejek dan tangan direntangkan. Memang, Ia baru pulang dari aktivitas kuliahnya. Tapi, siapa peduli, aku kan orangnya cuek. Aku hanya melengos tanpa membalas pelukannya itu.
"Nanaa!! Kamu itu ya, ada kakak ganteng gini baru pulang dari merantau gak disapa. Dasar. Awas aja. Tunggu pembalasanku."
Aku hanya menjulurkan lidah di depannya. Yang terjadi justru, kakakku menarik belakang tasku hingga aku terjungkal ke belakang.
"Zaidaaarr!!!"
"Siapa suruh, cuek sama manusia terganteng di rumah ini. Rasain tuh, kamu sih."
"Iya deh, Selamat siang Kakak terganteng. Jangan ganggu adek lagi ya, mau tidur dulu. Lelah bang, baru berjihad."
"Dih, paling di kelas juga cuma tidur."
Aku mendengus, dan membiarkan abangku menjerit alay meneriaki namaku. Kadang aku berfikir sebenarnya yang cewek itu aku atau dia? Aneh. Kembali ke kamar, aku segera bersiap berganti pakaian sebelum melirik ke depan jendela untuk menutup korden. Tunggu, di sana ada lelaki yang sangat kukenal walau dari punggungnya. Untuk apa dia kemari, bukankah rumahnya di desa seberang?
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berbalik dan melihat keadaan sekitar. Dan matanya melirik ke arah jendela rumahku.
"Nana?"
"Eh, Ara."
-------
P.S.
Cerita pertama saya, untuk mengisi kegabutan. Semoga menyenangkan. Haha.
YOU ARE READING
Beetwen
Teen FictionKalau, jauh di mata dekat di hati, itu sudah biasa. Tapi, dekat di mata jauh di hati, bagaimana? #teenfict #teenfict #teenfict
