Aku samarkan [Bie]

21 3 2
                                        


Bie, aku samarkan nama mu, ya. Yang teliti pasti tau maksud dari panggilan ku ini, kamu jangan.

Dari aku, gadis yang belum genap berusia tujuh belas tahun. September ini, Bie. Kamu tidak perlu mengingat, tidak penting. Hehe, basa basi yang terlalu basi ini Bie.

Aku, Dee. Gadis yang terlalu tidak peduli terhadap sekitar, bisa se-peduli ini kepada kamu, Bie. Bisa me-respond baik tingkah laku kamu, padahal kamu baru Bie.

Aku ceritakan Bie, dulu.

Saat itu, kita -eh aku dan kamu- maksudku, Bie. Masih menjadi anak baru gede, yang mudah terbawa arus zaman modern. Mudah memainkan perasaan, juga sok tahu tentang cinta. Padahal tau apa ya, Bie. Hehe

Satu atau dua kali aku pernah memergoki kamu memperhatikanku, Bie. Saat di jam istirahat, aku sedang memakai sepatu. Kamu juga sama, berada di koridor depan kelas kamu, yang dekat dengan ruang guru itu, Bie. Sekarang sudah tidak dipakai menjadi ruang kelas lagi.

Atau yang ini, kamu mengingatnya?

Di hari Rabu, saat itu masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah. Aku datang terlalu pagi, sebab, aku ada tugas Organisasi. Kamu mencegatku di samping sekolah, meminta nomor ponselku, aku tidak memberinya, aku tidak menghafalnya.

Malamnya, melalui sosial media aku memberimu nomor ponselku. Saat itu, kamu menjadi anak pondok yang dibatasi untuk bermain ponsel. Menghubungiku hanya di hari Jum'at. Tapi, itu cukup untukku.

Hari-hari aku lalui dengan mengukir cerita bersama kamu. Aku butakan mataku dari kelakuan burukmu. Aku tulikan pendengaranku dari pembicaraan buruk tentangmu. Aku acuhkan mereka, Bie. Yang peduli terhadap hatiku yang mudah rapuh.

Sebelumnya, aku pernah jatuh cinta, Bie. Lima bulan lebih aku berhubungan dengan dia, masa laluku. Aku pernah sulit melupakannya. Tapi, kedatangan kamu mampu membuatku mudah menghapus segala ingatanku tentang dia.

Aku, Dee. Selalu percaya kepadamu, Bie. Percaya, jika kamu hanya menaruh perasaanmu kepadaku, tapi aku salah, Bie. Kamu bertukar tawa dengan perempuan lain, disaat kamu sedang berbincang denganku.

Atau yang ini, Bie?

14 Juni 2014.
Ada apa dengan tanggal itu, Bie?
Kamu melupakannya?

Ya, tepat sekali, Bie. Hari perpisahanmu. Hari terakhir kamu di sekolah ini. Hari terakhir aku bisa melihatmu setiap hari. Hari terakhir kita dekat, sebelum jarak menjauhkan.

Aku bahagia kamu lulus, Bie. Tapi, aku juga sedih. Sebab, aku tidak bisa lagi melihatmu dalam dekat.

Kamu tidak memahami sikapku, saat itu? Tidak bisa membaca apapun setiap pergerakanku, Bie? Payah.

Aku duduk dengan gelisah di bangku nyaris paling belakang, melihatmu tertawa bersama teman seangkatanmu, Bie. Aku khawatir.

Foto itu, pertama kalinya aku bersebelahan denganmu, Bie. Berdebar tidak karuan. Kamu memberiku bingkisan dengan sampul kertas berwarna biru. Sebuah kerudung, yang juga berwarna biru -warna kesukaanku. Juga, kamu selipkan selembar kertas berisi tulisan tanganmu.

Di kertas itu, ada tulisan apa, Bie? Lupa? Huh sudah aku duga.

Baik, aku lupa kelanjutan nya, Bie. Langsung yang ini saja, ya.

Aku, Dee. Pertama kalinya menerima teman laki-laki dirumah. Juga ditemani temanku. Saat itu, hari ke-tiga lebaran Idul Fitri. Aku tidak bisa menceritakan nya lagi, Bie. Terlampau bahagia.

Yang ini juga.

Tepat di lima belas September, ulang tahunku. Kamu yang kebetulan sedang berada di kota ini, menemuiku.

Kita papasan dijalan menuju sekolahku, aku kaget. Ko kamu ada disini?

Malamnya, kamu kembali bertandang ke rumahku. Dengan membawa satu buah coklat, sebagai formalitas kado ulang tahunku, juga sebagai salam perpisahan.

Kamu lupa? Baik, tidak apa-apa.

Hari-hari aku lalui untuk menunggumu, sesuatu hal yang sangat tidak pasti. Aku bodoh, Bie. Sangat.

Tapi, aku tetap menunggumu. Sampai hari itu tiba. Kenyataan pahit menghampiriku, kamu benar-benar tidak datang, Bie. Kamu semakin jauh. Tidak bisa aku gapai.

Kamu menghancurkan harapanku. Kamu melepaskan angan yang aku genggam erat.

Sejak saat itu, kamu benar-benar membuat aku berhenti menunggu. Juga, menutup rapat pintu hatiku -yang rapuh ini.

Bie, Aku Dee. Gadis pecandu senja juga penikmat rindu yang berteman sepi. Izinkan aku, menjadikan kamu sebagai inspirasi untuk aksaraku.

Sekian dan sampai jumpa kembali denganku, Dee.
06 Feb 2017

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 11, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BieWhere stories live. Discover now