1. Satu

109 10 19
                                        

Aku tahu aku cantik, pintar, dan berbakat. Aku sadar semua perhatian tertuju padaku. Tapi, aku bukan putri. Aku tidak manja. Aku butuh yang lebih menantang.

-Aurelia Aurita

***

Aku segera turun dari mobil yang berhenti di depan gerbang sekolah. Setelah mengucapkan salam dan pamit pada ayahku, aku memasuki gerbang sekolah. Aku melangkah kaki santai sambil memasukan tangan ke saku jaket biru muda yang kukenakan. Aku berjalan menuju mading (majalah dinding) dekat ruang guru, di sana tertera 9 kertas yang menunjukkan setiap siswa/i akan memasuki kelas sesuai kriteria.

Hmm... kelas 8Ibnu Sina. Setahuku itu kelas biologi ketimbang fisika, kataku dalam hati. Aku membalikkan badan dan melihat sesosok lelaki bertinggi sedang berdiri di sampingku. Aku sedikit terkejut, namun aku menyapanya. "Assalamu'alaikum, Riki,"

Lelaki itu menoleh, "Wa'alaikum salam,"

"Kamu, masuk kelas apa, Rik?" Tanyaku pada Riki.

"Kelihatannya sama denganmu, Aurel," jawabnya sambil tersenyum.

"Alhamdulillah. Kita bisa latihan bareng lagi, dong,"

"Iya, Aurel," Riki kembali melihat mading dan raut wajahnya berubah masam. "Aufa Zul Fikri," katanya pelan.

"Siapa, Rik? Aku gak denger tadi,"

Riki menggeleng, "Bukan apa-apa, ayo ke kelas,"

Muhammad Rifqi Maulana atau di panggil Riki ialah saingan sekaligus sahabatku sejak kelas 7. Dia sangat humoris dan dapat di percaya. Dia menyukai anime dan manga. Dirinya selalu jadi langganan OSIS bidang Mading karena gambarannya selalu terpampang di sana. Selain itu, dia adalah ketua dari grup marawis baru-baru ini semenjak kenaikan kelas.

Aku dan Riki berjalan menyusuri tepi lapangan. Kemudian menaiki tangga menuju lantai dua. Setelah melewati tiga kelas, sampailah kami di kelas 8Ibnu Sina, kelas unggulan. Di pertengahan atau lebih tepatnya depan kelas 8Al-Farabi, aku tak sengaja menabrak seseorang di hadapanku.

"Maaf...," kata orang yang menabrakku kemudian pergi.

"Gak kenapa-napa kan Rel?" Tanya Riki.

Aku menggeleng, "Gak. Cuma kaget saja. Oh, ya, dia siapa, kamu kenal,"

Riki memicingkan matanya. Menatap tajam pada kaca di hadapannya. "Aufa Zul Fikri, kandidat baru Drum Band Wijaya Kusuma!"

***

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih terpaksa berhenti karena hujan mendadak turun. Segera aku berlari terburu-buru di tambah kemacetan di tangga membuatku sedikit kehujanan. Kemudian aku jalan biasa di lantai dua dengan langkah berat.

Tap... aku merasa seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan melihat sahabatku di sana. "Lina! Bikin kaget aja,"

Lina tertawa pelan, "Kaget, ya, loe,"

"Siapa yang kaget, orang gue kedinginan," jawabku.

"Yaudah, sana balik. Nanti ke kelas gue setelah perkenalan,"

"Iya,"

Azizah Nur Maulina adalah sahabatku dari kelas 7 selain Riki. Dia selalu ada di saat suka dan duka. Lina sangat baik dan sikapnya yang memberontak membuatku betah jika mengobrol dengannya. Walaupun tomboi, dia gadis terpopuler kedua setelahku. Bukan bermaksud sombong, dia sangat berbakat dalam sastra dan sering mengikuti ajang perlombaan seni sastra. Dan dia adalah Wakil Ketua Tim Paskibraka yang terkenal galak.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Feb 12, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Bisunya Langit CintaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora