Kadang cinta memang bisa datang kapan saja, tanpa direncana
Kadang cinta memang bisa datang dimana saja, karena terbiasa
-Faradilla Devinda
∆∆∆
Suara pensil berulang kali diketuk di atas meja. Memecah suasana hening yang menyelimuti ruang lima kali ini. Siapa lagi kalau bukan Farel, cowok sok ganteng di kelasku yang sedang berpikir keras untuk menyelesaikan ujian akhir semester ini. Posisi duduk yang tentu saja tepat di depan meja guru jadi membuatnya tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Afarel Danendra, tolong jangan berisik!" Tegur Bu Lis, begitu kami memanggilnya. Guru pengawas yang mendapat giliran menjaga di kelasku ini merupakan satu-satunya guru termuda nan imut di sekolahku yang masih berstatus single.
Sudah setahun lebih beliau mengabdi ilmunya pada kami--siswa kelas sepuluh--yang tentunya diterima baik oleh muridnya. Bu Lis sangat terkenal di kalangan siswa kelas dua belas, hampir seluruh murid cowok selalu menggodanya dengan kata-kata manis--yang tidak seharusnya diberikan untuk guru. Pernah sekali beliau minta berhenti mengajar dari kelas dua belas dan lebih memilih kelas sepuluh, tapi ternyata keduanya tidak berbeda. Kalangan murid cowok tetap menggoda Bu Lis, dengan notabene bentuk kasih sayang yang berbeda dari guru lainnya.
"Maaf, Bu. Lagian soalnya susah banget, coba deh Bu Lis yang bantu kali aja pikiran saya nggak buntu lagi." Celetuk Farel diikuti tawa murid yang ada di ruangan itu, kecuali aku.
"Sudah, diam semuanya! Jangan ada yang bersuara lagi, kerjakan atau nama kalian saya coret," ancam Bu Lis.
"Bu Lis lucu deh kalo lagi marah, kayak ada manis-manisnya gitu," kini giliran Daffa yang berbicara.
Bu Lis berdiri dari duduknya, "Daffa Megantara, mau nama kamu Ibu coret?" Tanyanya pada Daffa yang hanya dibalas gelengan kepala.
"Waktu mengerjakan tinggal sepuluh menit lagi, selesai atau belum selesai lembar jawaban harus sudah terkumpul." Tutur Bu Lis.
Akhirnya sepuluh menit lagi ujian akhir semester yang sudah kulalui selama satu minggu ini selesai juga. Senang rasanya aku bisa mengerjakan semuanya dengan mudah dan lancar tanpa ada hambatan.
Kenalkan, namaku Faradilla Devinda. Teman-teman memanggilku Fara sedangkan keluargaku memanggilku Aya. Bukan ada maksud lain, hanya saja mereka terlalu akrab dengan nama itu ketika masih TK aku tidak bisa menyebut nama 'Fara'. Inilah aku, seorang cewek penyuka kentang yang kali ini sedang mengerjakan ujian dan duduk di barisan paling belakang--bangku keberuntungan.
Kalau yang tadi namanya Afarel Danendra, seorang cowok--lebih tepatnya memporak-porandakan hatiku--yang sudah aku tau keberadaannya sejak SMP. Dulu kami memang tidak sekelas dan tidak saling mengenal, entah ada hal apa yang membuat kami satu sekolah lagi, sekelas pula. Dia cowok ternyebelin dan ter-sotoy yang aku kenal sekarang.
∆∆∆
Seseorang menepuk bahuku pelan ketika aku baru saja mendaratkan tubuhku di kursi taman dekat kantin. "Akhirnya ujian kelar juga,"
Siska Dealuna, dia sahabatku sejak kami bertemu di awal ajaran kelas tujuh. Dia temanku sejak SMP, tapi tidak terlalu akrab dulunya karena beda kelas. Siska cewek yang bisa aku akui bestfriendable--apalah itu--memang baik luar biasa. Baiknya benar-benar baik sampai aku tidak bisa mendeskripsikan apapun tentangnya, walaupun kadang dia nyebelin sih.
"Iya nih, suntuk banget tadi di kelas pengen keluar," sahutku.
Siska melirik sesuatu yang sedang aku pegang. "Baca novel lagi, Far?"
Aku mengangguk, "capek otak gue, pengen istirahat sambil baca novel."
Siska ber-oh ria. Dia mulai memasang earphone ditelinganya.
Aku memang gemar sekali membaca novel, sejak masih kecil nenekku selalu membelikan beberapa majalah anak seperti 'Bobo' dan buku 'Kecil-Kecil Punya Karya' untuk kubaca. Dengan membaca aku merasa bebas memilih akhir cerita yang sesuai, entah itu berakhir sedih atau senang.
Kalau Siska hobinya mendengarkan musik dan bernyanyi, tidak salah lagi kalau suaranya benar-benar merdu saat didengar.
"Liat tuh si Farel, dia bikin ulah lagi nggak?" Tanya Siska seraya menunjuk sosok cowok yang sedang mengantri untuk membeli siomay.
"Kayak biasa sih, tapi kali ini dia godain Bu Lis. Emang gak punya malu tuh anak," ceritaku pada Siska yang matanya masih terpaku pada jajaran anak-anak di kantin.
"Tapi lo suka kan," Siska terkekeh sambil menyenggol pelan lenganku. "Cie yang jatuh cinta diem-diem, gue heran deh sama lo kenapa sih bisa suka sama cowok kayak dia?"
Hening sesaat. Lagipula apa alasanku suka sama dia, tapi cinta memang tidak butuh alasan kan.
"Tau deh, dia itu beda gitu dari yang lain," jawabku asal tapi jujur.
"Beda gimana? Lo tau kan sikapnya dia sehari-hari itu, ganjen abis!" Siska melepas earphone yang tadi dipakainya dan fokusku pun tidak lagi pada novel fiksi yang sedang kubaca.
Aku menghela napas. "Apa gue gak pantes ya suka sama dia?"
"Bukannya gak pantes, Far, cuma lo tuh terlalu baik aja gitu buat dia. Elonya gimana dianya gimana, sifat kalian tuh beda 360 derajat tau nggak," jelas Siska panjang lebar.
Mengingat aku sedang membicarakan Farel dengan Siska, aku jadi teringat kejadian selama ujian akhir berlangsung.
Setiap pagi guru pengawas selalu memberikan dua lembar daftar hadir pada setiap siswa yang harus ditanda tangani secara bergilir. Nomor absen Farel yang berada di atas namaku membuatku tau bagaimana tulisan tangan dan tanda tangannya. Hingga akhir-akhir ini tulisan tangannya berulang kali mengisi note dengan isi: 'Amel besok nonton yuk' 'Amel jelek' 'Halo Amel semangat ya'.
Nasya Amelinda, sebenarnya dia sudah punya pacar, entah mengapa Farel tidak henti mengganggunya. Kalau dilihat dari mata Farel sih mengganggu Amel ada maksud tersendiri. Dan itu yang membuatku geram, terkadang menyalahkan perasaanku sendiri.
Kenapa aku bisa suka dengan seorang Farel.
∆∆∆
TBC!
3-2-2017
VOCÊ ESTÁ LENDO
Intuisi
RomanceFara menyayangi Farel, tapi Fara beranggapan Farel tidak peka dan menyukai Amel yang jelas-jelas milik Bima. Disisi lain ada Riki teman masa kecil yang juga menyayangi Fara. Lalu siapa yang Fara pilih, Farel yang bisa mengubah hidupnya atau Riki yan...
