1 ¦ Annita Iswarana

40 2 0
                                        


Author pov

"RANAA!! BANGUN!"suara menggelegar dari lantai bawah terdengar jelas bahkan sangat jelas di kamar Rana. Suara menggelegar seperti itu hanya dimiliki Rendra, kakak Rana. Rendra Irlaxena. Pria dewasa yang sangat menyayangi adiknya. Berani berbuat nekat hanya untuk melindungi adiknya agar tidak tergores sedikitpun.

Rana masih memeluk selimut dikamarnya. Terpaksa membuka matanya karna suara berisik dari kakaknya membuat gendang telinganya pecah. "Duhhh... IYA. SABAR DIKIT NAPA??"teriak Rana tak kalah keras walaupun tidak dapat mengalahkan suara kakaknya. Rana berjalan menuruni tangga dari kamarnya menuju ruang tengah dimana suara raksasa itu berasal. Rumah Rana memang tidak bisa dibilang kecil. Ayahnya memiliki beberapa perusahan di Indonesia dan di negara negara Eropa. Bundanya membangun dan mengelola dua restoran terkenal di dalam negri. Orang juga tidak akan heran dengan rumah gedung yang dimiliki keluarga ini.

"Kakak, kalau manggil adiknya jangan teriak teriak gitu dong! gak enak kalau tetangga denger."suara Irna mendekati Rendra. Irna ibu dari dua anak ajaib. Wanita berumur setengah baya yang melahirkan dua anak ajaib dan mampu membesarkan mereka ditengah kesibukan karirnya. "Kalau kamu gitu terus, bisa bisa kita diusir dari sini."ucapnya lalu meninggalkan Rendra dan memilih meneruskan masaknya di dapur.

Akhirnya noona yang ditunggu, turun dari tangga. "Apa?"tanya Rana sinis kepada kakak tampannya.

"Dih, jutek banget"jawab Rendra santai mendekati adik kesayangannya. "Jangan jutek jutek! nanti gak ada yang mau lhoo"ejeknya.

"Ishh"Rana yang tidak peduli dengan ocehan kakaknya dipagi hari, memilih menghampiri bundanya yang sedang memasak didapur. "Pagi bun.. masak apa?"senyum Rana melebar ketika melihat masakan bundanya.

"Makanan kesukaan kamu sama kakak kamu sayang.."suara lembut dari sang bunda memudarkan emosi Rana kepada Rendra.

"Ihhh, kakak tu jangan sering sering dimasakin makanan kesukaannya bun!"rengek Rana sambil melirik kakaknya yang tengah duduk bersama ayahnya. "Kakak kan rakus. Apa aja juga dimakan". Karna merasa disindir Rendra pun melirik ke arah dapur dan menggeleng gelengkan kepala.

"Ssstttt! Udah. Kalian tu selalu ribut, pusing yang dengerin. Mending kamu bantuin bunda masak."perintah Irna karna bosan dengan pertengkaran kedua anaknya yang sebenarnya menjadi peramai dirumahnya. Dengan senang hati Rana membantu bunda tercintanya.

Didapur terdengar ramai karna ada dua wanita yang sedang bertarung dengan peralatan dan bahan bahan masakkan. Sedangkan di ruang tengah. Hanya keheningan menyelimuti kedua pria yang sedang sibuk dengan majalah masing masing. Sebelum akhirnya Johan sang ayah membuka suara.

"Rendra.."panggil sang ayah memecahkan keheningan.

"Ya?"jawab Rendra menutup majalah yang tadi ia baca dan menoleh menatap ayahnya.

"Gimana kuliah kamu?"

"Lancar, gak ada masalah. Kenapa yah?"

"Enggak. Ayah cuman mau tanya, apa kamu bisa memegang salah satu perusahaan ayah? ya, paling tidak kamu memegang satu yang di Indonesia"

"Emmm.."Rendra tampak berpikir dengan tawaran ayahnya.

"Itupun kalau memang tidak mengganggu kuliahmu"tawar Johan kembali sedikit lebih meringankan.

"Boleh deh yah, aku juga harus belajar meneruskan usaha ayah" jawab Rendra dengan senyum lebar diwajahnya.

"Syukurlah"senyum Johan pun tak kalah lebar karna berhasil membujuk anak sulungnya.

Setelah perbincangan itu makanan pun datang dan mereka menyantap makanan masing masing dalam diam.

●●●

Me My Brother And My HeartStories to obsess over. Discover now