Senja Yang Tak Lagi Sama

116 13 8
                                        

Lidah ombak berburu menjilat bibir pantai. Buih putih menghapus jejak yang pernah terukir di pasir putih. Rona jingga mentari yang terbenam menghasilkan semburat kenyamanan, menembus cakrawala, dan tak akan mampu ditolak oleh setiap mata yang memandang.

Disinilah kita. Berlatarkan senja dan ditemani kenangan yang tak akan pernah terhapus oleh deburan ombak. Tak akan pernah lekang oleh waktu, tak akan berpaling dari keindahan. Memori tentang dua orang penikmat senja dan pemintal asa yang handal.

"Apa kamu masih ingat, Nara, semua kenangan yang pernah kita ukir di pantai ini, ditemani senja yang seakan tak ingin pergi?" Tanyanya disela keheningan yang berselimut kenangan.

Aku menunduk. Merasakan buih putih hasil deburan ombak yang mengenai kakiku. Aku menghela napas. "Aku ingat semuanya, dim. Tak ada satu memori tentang kita yang tak membekas di hati dan luput dari ingatanku, dim."

Ingatan tentang senja kala itu kini berputar di ingatanku. Ketika dua orang penikmat senja bertemu dan memberikan cahaya untuk satu sama lain disaat sang mentari menghilang dibalik samudera. Matanya yang teduh dan senyumnya yang menenangkan seakan memberi kehangatan disaat pendar sang rembulan tak memberikan itu.

Aku ingat apa yang ia katakan kala itu.
"Bersama senja ini, ku hapuskan semua sendu dan ragumu. Bersama senja ini juga, ku dekap seluruh asamu. Dan bersama senja ini juga, ku ingin kau jadi milikku."

Namun, sebuah suara tiba-tiba menginterupsiku. Mengembalikanku ke masa ini. Ke senja yang tak seindah senja yang dahulu.

"Baguslah kalau begitu."

Suaranya dingin. Bibirnya berucap namun matanya masih menatap langit seakan tak ingin berpaling dari keindahannya. Kulihat sosok laki-laki itu menghela napas. "Aku tak pernah menyangka perpisahan itu akan terjadi diantara kita."

"Tak akan ada pertemuan tanpa perpisahan, dim," ucapku tenang.

Namun, sosok itu malah mendengus geli. "Ya. Seharusnya waktu itu aku memikirkan seribu kemungkinan terburuk yang akan terjadi, bukan kebahagiaan yang akan kudapatkan. Karena bahagia hanya bersifat sementara."

Kata-katanya barusan seakan menghunus ribuan belati tepat ke dasar hatiku. Tak kuragukan kebenaran kata-kata yang ia ucapkan. Karena memang pada hakikatnya kepercayaanlah yang akan menyakiti kita pada akhirnya.

"Kau tahu, dim, ini bukan yang aku inginkan. Namun, inilah jalan yang memang harus dilewati. Jarak yang membentang, setumpuk penyesalan, dan setangkup harapan adalah hal yang menggelisahkan."

Tanpa kusadari, air mata mengaliri pipiku. Tembok pertahananku runtuh detik itu juga. Semua usaha yang kulakukan agar air mata ini tidak turun, sia-sia sudah. Namun, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan menangkup wajahku, mendengakkan wajahku. Dimas. Ia berdiri dihadapanku dan menghapus air mata yang mengalir membasahi pipiku.

Matanya. Matanya yang selalu teduh, senyumnya yang selalu menenangkan, meyakinkan kalau semua baik-baik saja. Dimas yang barusan seperti merasa menyesal telah memilihku menjadi mentari sehabis senjanya, tersenyum seakan meyakinkan semua akan baik-baik saja? Kemana Dimas yang tadi dingin kepadaku?

Tiba-tiba dimas menarikku kedalam dekapannya. Aku bisa merasakan kehangatan dari dekapan yang ia berikan.

"Dunia ini terus berputar, Ra, dan kita juga harus terus berlari. Setiap manusia memiliki jalurnya masing-masing. Diantara mereka mungkin ada yang menemukan pelari yang searah dengannya. Namun, persimpangan tidak mungkin dihindari, Ra. Tidak mungkin tidak ada persimpangan diantara mereka.

Persimpangan ini bukan akhir dari segalanya, Ra. Mungkin diakhir persimpangan ini, kita akan bertemu lagi. Kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, sejauh apapun jalan yang memisahkan kita, pasti kita akan bertemu lagi, Ra. Percayalah, skenario Tuhan akan selalu berakhir indah, Ra."

Masih belum bisa aku mengerti tentang senja sederhana yang begitu damai ketika ia menyatukan kita, pun saat ia berubah memisahkan kita. Senja dan pantai menjadi dua hal yang akan selalu muncul dan terlihat luar biasa indah dalam puisi sang pencinta, namun juga akan terlihat sangat menakutkan dalam balada hidup sang nestapa.

Namun, realita seakan menamparku. Aku melepas pelukan dimas.

"Semua luka ini ada karena aku, dimas," ucapku sambil menatap kedalam mata teduhnya.

Menepis pelukanmu adalah inginku, Dimas. Melepaskan genggaman tanganmu dan beranjak pergi adalah pilihanku. Membiarkanmu berjalan menjemput senja seorang diri adalah keegoisanku. Semua luka ini memang ada karena aku.

"Bukankah kamu tadi bilang bahwa ini bukan inginmu? Kenapa kamu sekarang menyalahkan dirimu sendiri, Nara?" tanyanya. Alisnya dinaikan sebelah. Disaat wajahnya seperti itu, Nara tak bisa memungkiri bahwa Dimas lebih tampan dari biasanya.

Aku menghelas napas. "Karena, aku baru sadar. Semua ini memang salahku."

Dimas mengelus pipiku. Getaran aneh tiba-tiba menjalari tubuhku. "Ini bukan salahmu. Ini adalah takdir yang memang harus dijalani. Walau bagaimanapun, keadaan tidak bisa dipaksakan, Nara."

Kata-kata Dimas membuatku mengerti mengapa melepaskan menjadi suatu keharusan. Ya, karena keadaan memang tidak bisa dipaksakan.

Aku menatap Dimas, lalu tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus. Dimas balik tersenyum.

"Kamu adalah pelari yang handal. Kamu harus terus berlari, ada ataupun tidak ada aku disampingmu. Kesempatan ini bukan kesempatan yang akan datang dua kali, Ra. Beasiswa untuk sekolah di luar negeri ini tidak mungkin datang dua kali."

Dimas menarikku kembali kedalam pelukannya. Pelukan yang akan selalu aku rindukan.

"Dim, terima kasih untuk cinta yang begitu luar biasa lebih dari siapapun. Senja dan pantai akan selalu menjadi saksi semua kisah ini. Kita mengawali semuanya disaat langit mulai menjingga dan kita mengakhiri semuanya disaat malam mulai mendekap."

Dimas mengecup puncak kepalaku. "Sama-sama, Gadis Senja. Terima kasih juga atas semua senja yang pernah kita lalui bersama. Ya, satu-satunya hal yang kita sepakati adalah senja yang meneduhkan. Senja dan pantai mungkin memang tercipta sebagai renungan dan tempat bersandar bagi jiwa yang lelah. Aku akan selalu berterima kasih kepada senja karena disinilah aku menemukan mentari sehabis senja, dan juga kesinilah aku akan mencari jika aku merindukan gadis senja."

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jan 31, 2017 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Give Away WdS : Senja yang tak lagi samaHistórias para pegar e não largar. Descubra agora