Dengungan-dengungan suara nan abstrak tanpa hentinya membelai-belas gendang telinga, sebuah resiko yang mau tak mau harus pula di terima ketika memasuki tempat ini. Pusat keramaian terbesar, tempat menawar dan ditawar, kegiatan jual beli yang sudah mendarah daging antara penjual dan pembeli, tempat ini mereka sebut pasar.
Dengan menenteng sebuah keranjang anyam, rambut-rambutnya berayun-ayun seakan hendak menggapai isi keranjang tersebut: daun bawang yang mencuat, jingga-jingga yang tersusun rapi di dalam, tercium juga bebauan bawang yang khas, serta beberapa buah-buahan yang sempat terlihat jika nampak dari dekat.
Dengan bawaan barang yang banyak itu, terlihat jelas dia telah hengkang dari tempat keramaian–pasar itu. Dia adalah seorang gadis, berambut putih kepirangan, dengan gaun putih yang hampir setiap hari menjadi pilihan model pakaiannya. Meski beban yang ditentangnya terlihat berat, tangan-tangan mungilnya tampak kuat mengangkat. Demikian juga kedua ujung bibirnya, yang tanpa lelah dan tanpa kecuali tersenyum kepada siapapun. Atau pipinya yang seringkali merona ketika dirayu oleh ibu-ibu yang bersama anak mereka.
Di atas tanah yang menjadi jalannya, gadis itu hendak berpulang. Rumahnya tak seberapa jauh dari tempat sebelumnya, hanya beberapa blok hingga melewati gerbang kota, hingga jalan besar berubah menjadi jalan setapak yang mengarah ke sebuah padang rumput hijau. Disana berdiri sebuah bangunan nan kokoh, meski sebagian besar dasarnya adalah kayu-kayu hutan. Namun disanalah sang gadis pirang itu tinggal, di rumah megahnya.
Biasanya sang gadis akan meloncat-loncat dengan riang beberapa langkah sebelum kaki mungilnya menginjak teras rumahnya, entah kenapa kali ini dia terlihat murung; berjalan dengan pelan dengan sedikit gemetaran. Kepala dan pandangan yang biasanya lurus ke depan sekarang hanya memperhatikan kaki-kakinya yang berayun.
Sampailah sang mungil ke atas terasnya, terik matahari senja sekarang bukanlah apa-apa bagi atap yang siap melindungi. Langkahnya dilanjutkan, hingga kedua kakinya berhenti berayun tepat di depan sebuah pintu cat putih. Dia terdiam, terpaku menatap gagang pintu depan rumahnya. Hingga kemudian sebuah desahan panjang selesai, tangan mungil yang berhias cincin perak bermata rubi kemudian menyapa besi itu.
"Selamat datang."
Tiada siapapun yang menyambut sang permaisuri, tiada prajurit-prajurit gagah berseragam, tiada letusan-letusan meriah bunga-bunga api, tiada nyanyian megah yang menyertai. Kecuali, seorang lanang nan gagah bersamaan dengan senyumannya yang khas dan selalu terlukis di wajahnya. Tanpa jeda yang lama, tangannya menyambar yang ada di tangan sang gadis. Benda putih berkilau nampak pula bersarang di jari sang lanang.
Mereka adalah sepasang insan yang telah menikah.
Sang Adam meninggalkan senyumnya kepada sang rusuk, sebelum akhirnya meninggalkannya untuk membopong belanjaan agar terparkir di tempat seharusnya.
Sang gadis itu singkat tersenyum dengan rona merah melekat pada kedua pipi putihnya, lalu berlalu memasuki rumah mengikuti sang lelaki, namun sesampai kakinya berada di jalur antara dapur dan kamar, mereka berpisah.
Tak lama kemudian, sang Adam keluar dari ruangan, melangkah dengan tempo yang seperti tak biasanya. Dari mulutnya kerap kali keluar bunyian sepatah kata–panggilan–hingga akhirnya sumber dari suara itu menutup setelah sebuah pintu kayu berdecit dan terbuka.
Tarian lambai gorden putih tersentuh oleh angin, cahaya matahari dan tiupan bayu masuk keluar di bingkai jendela yang terbuka. Sekeliling sepasang mata menyapu seluruh ruangan; sebuah ranjang sederhana berseprei keabu-abuan rapi terparkir tepat di tengah-tengah ruangan, seikat bunga di dalam sebuah vas bening mungil juga terlihat bersidang di meja kecil di samping kasur. Semuanya sederhana di ruangan yang sederhana ini, kecuali suatu hal yang sangat amat spesial–sang dara, yang terlihat duduk di kursinya menghadap jendela.
