Umumnya semua anak setelah pulang sekolah akan bermain atau pulang ke rumah bersama teman -teman mereka. Kegiatan sekolah yang jenuh dan pelajaran yang terus berulang itulah yang dirasakan kebanyakan siswa. Beban yang mereka tanggung,seperti buku buku tebal yang mengisi beban di pundak mereka, yang sudah terbiasa ,dijalaninya sehari hari.
Termasuk Rikka , ia sebenarnya tidak terlalu suka terhadap pelajaran di sekolahnya . Tetapi ia masih menikmati hal hal yang bisa dia dapatkan di sekolahnya. Klub sekolah yang menyenangkan hingga teman teman yang baik terhadapnya.
" Rikka , ayo makan siang mumpung belum telat nih." Kata Miya sambil menarik tangan ku.
Miya atau biasa yang disebut pon pon oleh teman sekelasku. Entah , mungkin mereka menamainya begitu karena rambutnya yang seperti popcorn yang mengembang bukan di panci melainkan di atas kepala. Orang orang dari kelas lain sering memperolok nya dengan nama itu, tetapi ia tetap menyikapinya dengan positif.
" Sebentar miya aku baru mencatatnya." sambil menengok ke arah papan tulis , yang sebentar lagi akan dihapus oleh saoki.
" Ayo saoki ,hapus papannya biar miya mau makan dengan ku." pinta miya semangat.
" YOOOOO." " MIIYAAA" Aku tak tahu harus berbuat apa lagi kesekian kalinya miya terus saja menggangu ku saat mencatat. " Kalau kamu menggangu ku mencatat kali ini aku tidak mau lagi makan dengan mu!" " Sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu, nyatanya kamu masih mau makan denganku, wehhhk."
"Ayoo." Kali ini dia benar benar menarik tanganku menuju kedepan pintu, tanpa putusnya semangat yang ia dapatkan ,ia terus saja menarik tanganku yang terus meronta.
" Yuhuuuu, kita sampai di kantin kamu mau makan apa ?" " Hmmm." Kataku masih kesal .
" Wahh, tuan putri kali ini juga tidak mau makan ya, mau makan bekal ku? sekalian tak suapin."
" Gak usah repot re.." Oh tidak miya kali ini menjejalkan sesendok nasi punyanya..
" Miy.......uhukhuk." Nasi yang diberikan miya , mengganjal di kerongkonganku. " Sekarang tuan putri lupa tatakrama ya, nih minum." katanya tanpa muka bersalah.
" Hei hei ada apa ini ,kok ribut?" Ucap kenta "Gak papa kok, sini duduk."
Yap, temanku satu ini tidak beda dengan miya,ia adalah laki lak. Dengan perawakan yang terlihat kurus, dan rambut yang hampir dicukur habis. Sebenarnya ia ingin masuk klub basket, sayangnya ia tidak di terima , kasihan.
" Ada apa rik?" Tanyanya padaku. " Tak ada apa apa." Aku masih terus berpikir tentang latar belakangya dulu. " Rikka , kenapa sih kamu bawa pensil segala di kantin , gak guna banget sih. Lagian gak ada bukunya." " Tanya aja tuh sama miya."
" Sudah sudah lanjutin makannya aja." Aku saat ini hanya bisa melihat dua temnku menyantap makanan mereka. Sedangkan aku , lupa membawa uang di tas, karena miya terburu buru menarikku keluar kelas.
Bel berbunyi , aku dan lainnya menuju kelas untuk pelajaran selanjutnya.
....................................................
" Yossh. sudah selesai ." pelajaran terakhir memang membuatku mengantuk. Tak lupa kuregangkan tanganku keatas, yang sedari tadi menahan kantuk.
" Ayo rikka, kamu mau bonceng sepedaku gak?" Tanya miya sambil mengeluarkan sepeda. Setelah pulang sekolah anak anak biasanya mengikuti ekskul hingga sore, sesbenarnya miya hari ini ekskul tetapi kalli ini ia bolos dan lebih memilih pulang dan bermain dengan adiknya.
" Gak usah, aku mau ke suatu tempat dulu sebelum pulang." " Yahh, kalau itu maumu ya sudah."
Waktu yang dinanti , sepulang sekolah menuju tempat istirahatku di halte tua.
Menunggu ,ya menunggu bukan untuk jemputan melainkan hal menarik lainnya yang tidak bisa di dapatkan.
YOU ARE READING
About Story In The Old Bus Stop
General FictionKetika ,seorang anak yang berbeda dengan anak lainnya,bukan berarti berbeda fisik maupun lainnya. Waktu pulang sekolah yang di harapkan semua anak, untuk pulang ke rumah maupun bermain di taman. Tak ada hal yang ia lakukan sepulang sekolah, s...
