Seorang bocah kecil hidup sendiri. Kamu pernahkah tahu bocah kecil yang selalu kesepian, trauma psikologis yang selalu menghantui. Dunianya terpojok sepinya hantaman logika yang terkuras pemikiran.
'Kamu pernah tatap wajah kecil itu,'
'Barangkali.'...
Embusan angin membawa kesan, diri bertemu diri dalam cermin. Seorang anak kecil tengah bersiap dalam dandanan ke sekolah. Cermin penyempurna raga siap ia tatap, meski hanya sesaat. Sang ibulah yang pasti sigap membenahi setiap detail, setiap inchi kerapihan baju seragam sekolah, serta tak lupa sebuah pelukan hangat penyemangatnya sekaligus penambah gairah di saat ia mulai tak bersemangat.
Bocah kecil yang kini berusia delapan tahun itu, bernama Tama. Kini masuk di kelas dua. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya beserta seorang kakak perempuan yang usianya lima tahun lebih tua darinya, Tania namanya.
Tepat, di kota Jakarta mereka tinggal. Tinggal di rumah baru dengan dihuni empat nyawa dengan detakkan jantung di setiap kegiatan mereka—konstan nan mengalun. Tanpa sadar, rumah baru bercat merah bergaya klasik itu menemukan caranya berinteraksi. Sekian lama tanpa ada yang menyinggahi, lima dasawarsa terlupakan. Pun sejarah tercipta semenjak itu. Menyimpan duka.
~~~
Desir angin pagi, seolah mengikuti musik mengalun sebait dua bait yang dilantunkan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pun seulas senyum mengembang di wajah seorang Ibu, di samping buah hatinya. Jari-jemarinya lincah menari di atas tuts piano, mencoba mengajarkan Tama sebait lagu pada pagi sebelum dirinya berangkat ke sekolah. Iringan lembut melody sederhana terkisah dalam setiap kalimat diary Tama; kehangatan keluarga.
"Sepagi ini Mama udah main piano." Dengan sedikit menggerutu Tania terbangun.
"Ayo bangun, Kak!" teriak Ibunya.
"Kita nyanyi bersama, Kak!" imbuh Tama kecil tengah di samping ibunya.
Setelah semua berkumpul selesai sarapan. Tama dan kakaknya berangkat ke sekolah, Ayah mereka pun mengantarkan mereka sembari pergi bekerja sebagai pegawai kantor layaknya masyarakat pada umumnya. Tak ada yang spesial di keluarga mereka, bukanlah konglomerat, bukanlah pengusaha yang sukses, atau apa pun yang buat keluarga ini terkenal, malah mungkin keluarga ini akan hilang dalam prasasti sejarah bila harus tertulis terperinci.
Karena, mungkin ini yang sangat tragis. Buat Seorang Tama harus merasakan apa yang dinamakan kehilangan, bila hanya seorang tak apa, akan tetapi ....
* * *
15, Oktober 2005.
Hari itu, hari gembira buat Tama. Akan tetapi, belum tentu dengan suratan takdirnya. Ibu yang sendirian saat kedua anaknya bergelut mencari ilmu, suaminya yang juga sibuk mencari nafkah keluarga. Wanita dua putra itu pun hanya sendiri dalam lamunan. Saat kesendirian itu, ia mulai berberes rumah. Rumah yang baru ia tempati seminggu lalu itu, masih banyak ruang yang belum ia telusuri. Dengan kata lain, masih ada tempat yang belum ia masuki. Wanita yang sudah berkepala empat itu, pun bergeming di depan pintu. Tempat itu belum pernah tersentuh, mungkin bisa buat kamar tamu, pikirnya.
Tanpa buang waktu, ia terus membersihkan sudut ruang tanpa pandang debu yang mengepul bak pasir di gurun. Gemuntang ... terdengar, setelah tanpa sengaja siku wanita empat puluhan itu menyenggol sebuah bufet kecil. Bufet kecil yang ada di sudut ruang enam kali enam itu, memuntahkan seluruh isinya.
"Sedikit lagi akan selesai, ini berantakan lagi, huft...," keluhnya. "Wah, tunggu dulu. Apa itu?" longoknya sambil mendaratkan tubuhnya untuk mengambil sesuatu. Senyum Ibu Tama itu pun mengembang, setelah melihat sebuah boneka rajutan. Benar, Ibu Tama menemukan boneka rajutan. Ia pun melihat detail setiap boneka yang sedikit koyak. Akhirnya untuk membunuh waktu yang kian bosan sendirian, ia mulai mengambil benang dan jarum untuk segera memperbaiki. Ia bahkan tak mengindahkan lagi beberes yang belum ia selesaikan. Dia pandangi boneka rajutan itu, dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Tanpa buang waktu, dia perlahan memulai menjahit membenahi koyakan boneka rajutan tersebut. Tanpa rasa lelah tangan yang lembut itu terus aktif memperbaiki sedikit demi sedikit robekan itu.
Suara deting sang waktu dalam keheningan. Sesekali wajah Ibu Tama menoleh melihat.
"Hem ... waktu masih lama sebelum Tama pulang. Boneka ini pasti akan segera aku selesaikan." Semangat berapi-api terpancar di kornea mata indahnya. Tinggal beberapa rajutan, akan sempurna.
"Auw." Diiringi darah segar menetes. Dalam kepanikan yang mendera membuat ibu Tama tanpa sengaja menekan terlalu kuat jarinya, sehingga menggoreskan luka. Menodai boneka rajutan ....
Rupanya Ibu Tama tertusuk jarum yang dia gunakan. Satu tetes noda membekas merah. Dia kelabakan, pikirannya pecah, buyar segala usaha membahagiakan sang anak. Noda darah itu ingin segera dia hilangkan, sebelum waktu Tama pulang, dan menelan segala kejutan yang dia buat. Berlarilah dia ke arah dapur, ia ulir kran tempat cuci piring, tanganya ia basahi, guna mebersihkan noda darah tersebut. Dalam benaknya hanya terpikirkan bila dengan air darah tersebut akan hilang. Setidaknya hanya samar tersembunyi.
"Gimana ini, ceroboh sekali aku. Aku harus hilangkan, pakai apa ya...? Hem ... pakai air samar, masih terlihat. Coba ah, kututupi," ngedumel sendiri. Ibu Tama pun berinisiatif untuk menutupi noda darah itu dengan: manik-manik yang lebih besar, untuk boneka rajutan--nya.
Sendiri, bukan berarti sendiri. Kalimat itu hanya ungkapan kesepian. Nyatanya di sana menanti seseorang yang mau memungut dan mendekap selalu, percayalah?