Alasan kenapa aku memilih jalan ini, adalah untuk menemukan jati diriku yang sebenarnya. Ini adalah sebagian dari ceritaku yang rumpang. Inilah ceritaku dalam melawan semua yang berbau negatif di kota yang bisa dikatakan sedang terancam. Terancam kejahatan. Terancam korupsi. Terancam apapun yang akan mengakibatkan kota ini akan runtuh.
Selama masih ada seseorang sebagai pemegang kunci kota, tidak ada satupun yang berani menginjak-injak kota ini. Kotaku yang tercinta. Kota tempat kelahiranku hingga beranjak dewasa. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak kota ini.
Gresik, 2017.
"Status target?"
"Sekitar 2 blok dari tempatmu sekarang."
Kedua orang yang saling berbicara lewat alat komunikasi jarak jauh yang disebut mini-talkie yang terpasang di telinga mereka masing-masing sedang mengincar seseorang.
"Target ditemukan. Haruskah kuserang langsung atau secara diam-diam?"
"Beri dia sedikit salam, dong. Nggak sopan banget."
"Cih!"
Seorang remaja dengan berpakaian hoodie hitam bertopeng membawa tongkat baseball yang terbuat dari kayu onyx itu menghampiri orang aneh berbadan besar dengan rantai terlilit di sekitar tangannya yang tergabung dengan kail besar, sedang memakan manusia di dekat tempat sampah gang kecil.
"Butcher, ya?"
Orang aneh itu langsung menoleh ke arah belakang. Tidak melihat apa-apa, dia meneruskan makan malamnya. Tak lama kemudian, dia penasaran. Siapa yang memanggilnya. Dia pun menghentikan makan malamnya sejenak dan menelusuri suara tadi.
"Sebelah sini."
Suara itu makin dekat, tetapi orang aneh itu kebingungan.
"Ketika ada berita kasus orang hilang dan mutilasi, aku jadi penasaran..."
Makin dekat, orang aneh itu melihat keatas tempatnya berdiri.
"Ternyata selama ini kaulah pelakunya!"
BRUAK!!!
Pukulan keras menghantam kepala orang aneh itu dan darah mulai bercucuran keluar dari kepalanya.
"Masih kuat, ya?"
"Beraninya... Mengganggu... Makan malam BUTCHER!"
Orang aneh itu mengaum bagaikan serigala kelaparan. Pukulan demi pukulan dihantamkan oleh pemukul itu. Dia mengejar pemukul tadi tapi penglihatannya mulai kabur. Dia pun tergeletak pingsan tepat di tempat berdirinya pemukul tadi. Setengah sadar, orang aneh itu berkata...
"Siapa... Kau...?!"
Menginjak-injak kepala sang Butcher tadi, pemukul itu mengatakan...
"Aku punya tempat yang bagus untukmu. Lebih bagus dari gorong-gorong tempat makan malammu."
"Butcher... LAPAR!!!!"
"Penjara Randu Gede mungkin cocok untukmu. Kau bisa dapat makan enak di sana dan berhenti berkeliaran di sekitar sini. Satu lagi..."
"Grrrr....."
Setengah sadar, dia masih berusaha untuk menerkam pemukul itu tapi orang aneh itu tak berdaya.
"Akulah pemegang kunci kota ini. The Crow." Crow mengutarakannya dengan nada penuh dendam.
Sementara The Crow melihat korbannya pingsan, kepolisian datang untuk membawa Butcher ke Penjara Randu Gede untuk dimintai keterangan terkait kasus yang dilakukannya.
"Sudah berapa lama dia pingsan?" Tanya seorang detektif dari kepolisian.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu. Tapi denyut nadinya juga masih normal. Bawa ke Penjara Randu Agung sebelum dia sadar. Sejauh ini dia yang paling berat penanganannya bagi polisi."
"Baiklah. Terima Kasih untuk bantuannya."
"Jangan berterima kasih dulu."
"Mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk berterima kasih."
"Kabari aku jika ada kasus yang sekiranya berat untuk ditangani."
"Baiklah."
Ini masih permulaan. Masih banyak kasus kejahatan di luar sana yang masih menunggu untuk dipecahkan.
Next : Case 1 - Pemuda Bodoh.
YOU ARE READING
STALKER - In The Name Of Justice
ActionAlasan kenapa aku memilih jalan ini, adalah untuk menjaga kehormatanku sebagai laki-laki. Semuanya dimulai di sini. Di kota sunyi, terabaikan, dan tergolong kota ter-korup di Indonesia untuk saat ini.
