This suspense is terrible. I hope it will last.
-Oscar Wilde-
"Ruas tol dalam kota dilaporkan ramai lancar," kata penyiar radio dalam segmen info lalu lintas. Hanya suaranyalah yang mengisi keheningan di dalam itu. Kalau saja radionya mati, siapa pun bisa merasakan betapa kentalnya ketegangan di dalam mobil itu.
Kayla, cewek yang memakai kardigan kelabu, piyama pink bermotif kucing, dan sandal jepit, adalah salah satu penyebab ketegangan di dalam mobil. Lengannya disilang. Matanya menatap pepohonan yang berlompatan di luar jendela dan mobil-mobil yang terbalap oleh mobil papinya.
Haris Bhatara, papi Kayla sesekali melirik spion tengah untuk mengawasi raut wajah putri bungsunya. Tapi raut wajahnya tidak berubah sejak dua jam yang lalu. Ia tetap marah.
Lisa Bhatara, mami Kayla juga tidak kunjung merubah raut wajahnya yang tetap datar. Walau pun begitu, papi tahu, di dalam hatinya mami merasa sebal.
"Tumben sepi," komentar papi, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ucapannya tidak dihiraukan oleh mami maupun Kayla. Keduanya tetap diam.
"Kayla, ngomong sesuatu, dong!" kata papi. "Percuma ngomong kalau nggak didengar," sahut Kayla. Mami memutar kepalanya dengan cepat. "Maksud kamu apa, Kayla?" tanya mami dengan tajam. "Mam, aku kan udah bilang aku nggak mau pergi, aku mau di rumah, but you blackmailed me instead!" jawab Kayla. "Blackmailed?!" Mami berseru.
"Mami bilang aku keluar cuma buat sarapan bubur dan aku bisa pulang setelah itu. Mami bilang aku nggak perlu ikut mami sama papi buat jemput mereka di CGK, tapi kenyataannya kita sarapan di rest area!" Kayla berseru. "Yang aku tahu, itu namanya blackmailing!"
"Mana mami tahu papi mau sarapan bubur di rest area!" Mami balas berseru.
"Papi!" Kayla berseru dengan nada menyalahkan. "Papi nggak tahu soal perjajian kamu sama mami!" Papi mengangkat kedua tangannya ke udara. Mami dan Kayla menjerit. "Jangan lepas setirnya!" teriak Kayla. Pada saat yang bersamaan mami berteriak, "awas truk!"
Papi kembali memegang kemudi. Mami dan Kayla menghela nafas dengan lega. Suasana kembali hening selama beberapa saat.
"Yang bener aja sih, pap? Siapa sih orang yang pakai piyama ke bandara?" tanya Kayla. "Kamu," jawab papi. Kayla memutar bola matanya.
"Kenapa aku harus ikut sih? Berdua juga kan bisa," gumam Kayla. "Kasian nanti Bagas nggak ada temen," jawab mama. "Bagas siapa?" tanya Kayla. Mami menoleh, menatapnya dengan tatapan nggak percaya.
"Itu temen kamu kan!" mami berseru. Kayla menggeleng, ragu-ragu. "Ih, masa nggak tau!" mami berseru, frustasi. Kayla mengernyit, berusaha mengingat-ingat. Tapi gagal. "Nggak tau," jawab Kayla.
"Dulu kita ke rumahnya waktu kamu SD, waktu kita ke US!" mami berusaha mengingatkan. Kayla mengernyit. Yang ia ingat dari kunjungan ke Amerika Serikat hanyalah Disney Land. "Nggak inget," jawab Kayla. Mami tersenyum masam.
"Udah, nanti lihat aja deh, pasti inget," kata papi.
***
Cowok itu mengangkat kopernya dari ban berjalan lalu menatap orang tuanya yang sedang berbincang-bincang dengan penuh semangat. Seratus persen berlawanan dengan suasana hatinya saat itu. Masalahnya, liburan ini memaksanya batal ikut Football Summer Camp.
Bagas mengedarkan pandangannya. Ia menangkap basah beberapa cewek sedang menginspeksinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bagas bergidik. Mengerikan.
"Ayo, Bagas, jangan lama-lama jalannya! Pasti mereka udah nungguin kita," kata mama. Bagas diam saja. "Masih ada tahun depan untuk summer camp, jangan marah terus sama mama," kata mama sambil merangkul Bagas. Agak sulit karena Bagas lebih tinggi darinya.
"Ma, aku udah kuliah tahun depan," kata Bagas. Mama menatap Bagas, berkedip dengan bingung. "Tahun ini kan kamu..."
"Senior," Bagas menyela tanpa menatap mamanya. "Senior?" mama dan papa bertukar pandang. "Beneran?" tanya mama. Bagas tersenyum masam sebagai jawaban. Orang tuanya terlalu sibuk untuk mengingat ia sudah kelas berapa.
"Bagas, I know you're upset, 'cause I'd be upset too if I were you," papa memulai, "but.."
"But that's not an excuse to be mad at you and mom," Bagas melanjutkan kata-kata papanya. Ia hafal betul kata-kata itu, kata-kata yang diucapkan berulang kali oleh papanya selama empat puluh delapan jam terakhir.
"Senyum dong, kan mau ketemu Kayla," kata mama. "Kayla siapa?" tanya Bagas. Lalu mama menatapnya dengan pandangan kaget, seakan-akan Bagas telah mengkhianatinya. "Kayla siapa?" Bagas mengulang pertanyaannya lagi.
"Temen main kamu waktu kecil!" mama berseru. Bagas memiringkan kepalanya seakan-akan melakukan itu bakal membantunya mengembalikan ingatan masa lalu. "Nggak inget," katanya.
"Ya ampun! Yang dulu, yang berkunjung ke rumah kita waktu kamu SD!" mama berseru lagi. "Oh," Bagas berseru, "nggak tau."
"Dulu kalian sering main bareng! Waktu bayi!" mama mulai frustasi. "Ya mana inget!" Bagas ikutan frustasi. "Udah, udah, nanti juga Bagas inget setelah ketemu Kayla," papa menengahi.
"Itu mereka!" mama berseru sambil melepas kacamata hitamnya begitu melihat tiga orang yang ia kenali. "Lisa!" teriak mama sambil berlari ke arah sahabatnya sejak SMA. "Marissa!" sahabatnya balas berteriak, berlari ke arah mama. Sementara itu, papa berjalan cepat ke arah sahabatnya. "Haris! Apa kabar?" tanya papa sambil mengulurkan tangannya. "Irwan!" om Haris menjabat tangan papa kuat-kuat sambil tersenyum lebar.
Bagas menatap seorang cewek yang berdiri tidak jauh dari mereka. Dari caranya melipat lengan, Bagas menyimpulkan cewek itu nggak ingin berada di sana, sama seperti dirinya. Bagas pun menghampirinya.
"You must be Kayla," tebak Bagas. "Do I know you?" cewek itu menatap Bagas dengan pandangan penuh tanya sekaligus galak. "Bagas," Bagas mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri. "Oh, how do you do?" Kayla bergumam sambil menjabat tangan Bagas. Raut wajahnya langsung berubah. "How do you do," sahut Bagas.
"Kayla, salam dulu sama tante Marisa dan om Irwan!" tante Lisa berseru. Kayla menurut sambil menyugingkan sebuah senyum palsu. "Kayla, tambah cantik aja!" puji mama.
"Mirip maminya dong," kata tante Lisa. Mama ketawa.
"Bagas juga tambah ganteng!" puji tante Lisa. "Bagas ganteng ya, Kay?" tanya tante Lisa dengan nada menggoda. "Hm," jawab Kayla, tersenyum tipis.
"Mirip mamanya," kata mama, menirukan tante Lisa. "Berarti lo ganteng dong," kata tante Lisa sambil menyeringai. Mama ketawa lagi.
"Ayo, mau langsung ke Bandung?" om Harris angkat bicara. "Langsung aja deh, capek," sahut mama. Sementara itu papa mengangguk tanda setuju.
"Jam segini masih ada tukang ketan bakar nggak ya?" tanya papa. Om Harris melirik jamnya. "Nggak ada! Besok aja, kita ke Dago nyari tukang ketan bakar," jawab om Haris.
Om Haris memimpin mereka menuju mobilnya.
Bagas berjalan di sebelah Kayla, sesekali mencuri pandang. Ia bertanya-tanya, ngapain cewek itu pakai piyama ke bandara? Dia tinggal di bandara?
"Nggak usah liatin piyama gue," kata Kayla, galak. Bagas kembali menatap lurus ke depan. "Gue di-blackmail mami," Kayla menjelaskan. Meskipun Bagas nggak mengerti apa maksudnya, ia tetap mengangguk dan bilang, "ooh, iya."
***
YOU ARE READING
Summer
Teen Fiction"And when the rain Beats against my windowpane I'll think of summer days again And dream of you" A Summer Song - Chad & Jeremy Authornya nggak bisa menjelaskan isi cerita makanya nulis lirik lagu. Udahlah langsung baca aja kuyy!!
