P R O L O G

36 9 1
                                        

Pio berjalan melintasi halaman depan sekolah. Yap, lapangan basket. Pio menggoreskan pensil hitamnya dibuku sketsa putih miliknya itu. Matanya tertuju pada sekumpulan siswa perempuan yang tak lain adalah para anggota tim basket putri. Pio terus saja menggambar objek yang di depan matanya kini.

"Basket cuma buang buang waktu." Pio bergumam.

"Awaas!" Cara memberi peringatan dari kejauhan.

BRUK!

• • •

"Makanya kalau ada tugas ngerjainnya jangan di pinggir lapangan basket." Cara berjalan memberi segelas air putih.

"Bebas dong, lagian lo siapa ngelarang gue." Pio berusaha bangkit dan meraih segelas air putih dari tangan Cara.

"Gue kapten di tim basket putri SMA Andakara." Cara meninggikan suaranya.

"Oh, terus apa yang bisa lo banggain dari kapten basket?" Pio menaikkan alis kanannya, menatap Cara tajam.

"Ya, setidaknya gue punya prestasi dibidang itu. Bukan kayak lo yang sukanya ngeremehin orang tanpa nunjukin kemampuan lo." Cara sudah benar benar naik pitam.

"Apa lo bilang? Kemampuan gue? Udah dua tahun gue jadi juara umum disekolah dan berkali kali menang olimpiade fisika dan lo bilang gue gak punya prestasi?" Pio melempar senyuman liciknya pada the most wanted girl di Andakara.

"Sepintar apa sih lo, . Sampai bisa ngeremehin orang." Cara memutar bola matanya, jengkel.

"Lo liat aja nanti." Pio beranjak dari kasur, lalu pergi meninggalkan Cara.

"Pio! Hari ini lo pulang sendiri, kan. Barengan yuk."

"Pio, ajarin gue dong. Tugas fisika gue susah banget."

"Pio, kantin bareng yuk."

Pio memutar kepalanya 90 derajat, melihat Cara kini memperhatikan pio yang sedang dihalangi oleh pengagumnya. Pio tersenyum licik, puas. Lalu berjalan menuju kelas tanpa memperdulikan banyaknya wanita yang berada di belakangnya.

Arrogant'sWhere stories live. Discover now