Chapter One

11 5 0
                                        


Butiran salju mulai turun menimpa kota Sydney. Orang orang yang masih berada di jalanan mempercepat langkah mereka menuju rumah.Seorang gadis berusia 18 tahun berlari menerobos kerumunan orang. Dia tidak sedang berusaha sampai di rumah lebih cepat, melainkan berusaha menjauh dari rumah itu.

Beberapa orang menatap gadis itu heran, namun tak dipedulikannya. yang dia pedulikan ssat ini hanyalah berlari dan mencoba menenangkan diri.

Dengan tidak sengaja gadis itu menabrak seorang lelaki yang sedang membawa segelas coklat panas. Tubuh gadis itu hampir menyentuh trotoar jik lelaki itu tak menahannya.

coklat panas itu pun tumpah mengenai baju gadis berambut pirang ini. Dengan sigap lelaki tersebut menirk tubuh gadis dihadapannya agar bisa bangkit. Namun sepertinya pergelangan kaki gadis itu terkilir, sehingga membuatnya hampir terhempas lagi ke trotoar lagi.

Namun lelaki itu segera meraih lengannya dan mengistihatakan dipundak nya.

"M-maaf, maaf kan aku" gadis itu tak berani menatap lelaki di depannya. "Tak apa, kenapa kau sangat terburu buru?"

Kini mereka tengah duduk di sebuang bangku taman. Gadis itu hanya menggeleng. Lelaki itu berjongkok di depan gadis pirang ini.

"Apa yang kau lakukan?" bukannya menjawab pertanyaannya, lelaki ini justru mengangkat kaki gadis pirang ini. Reflek gadis ini mendorong pundak lelaki di depannya dan meringis kesakitan.

"Kau bodoh. Kaki ku terkilir dan kau malah mengangkatnya"

Lelaki itupun berdecak dan mengangkat suara "aku tahu, aku hanya ingin melihat seberapa parah. Kurasa kau tak akan bisa berjalan nanti"

Gadis ini hanya mendesah pasrah. Jadi dia akan duduk disini sampai kakinya sembuh? Ia tak akan menyukai ini. "Kau mau ku antar?"

"Tidak, terimakasih. Tak usah repot rep-"

"Aku tak merasa direpotkan. Ayolah, jangan sok bisa kau ini" potong lelaki ini.

"Baiklah jika kau memaksa" lelaki ini memutah bola matanya. Bukan karena jawabn gadis ini, namun sedari tadi ia tak mau menatap matanya. Itu terlihat tidak sopan kan?

Lelaki itu mengangkat dagunya sehingga mata mereka bertemu. Terlihat mata gadis ini memerah. "Kau tidak sopan, tuan" ucapnya ketus.

"Apa kau menangis?"

"Bukan urusan mu"

"Baiklah terserah mu. Sekarang naiklah ke punggungku" lelaki itu kini berjongkok memunggunginya.

"Kau yakin?"

"Tentu saja, cepatlah"

Gadis itu sekarang berada diatas punggung lelaki tadi. "Katakan dimana rumahmu?" namun gadis itu menggeleng.

"Jangan bawa aku pulang, kumohon" ucap gadis itu memelas.

"Maksudmu? Lalu kau mau kemana?"

"Aku ikut denganmu, tapi jangan bawa aku pulang saat ini" Air matanya mulai mengalir kembali dn suaranya pun bergetar.

Lelaki itu menghela nafas panjang. "Sepertinya kau sedang ada masalah dengan keluargamu. Tapi tolong tahan air matamu untuk saat ini. Aku tak mau orang orang berpikir buruk tentang ku"

Gadis itu tertawa hambar dan menghapus air matanya. Pria itu mulai melangkah menjauh dari bangku taman itu. Gadis ini pun mengistirahatkan dagunya pada pundak lelaki ini.

Senyap, tak ada yang berbicara. Hanya ada aroma coklat yang tadi tumpah di baju gadis ini dan suara kerumunan orang yang semakin sepi. Salju juga mulai menutupi dedaunan dan jalanan.

"Um, ngomong ngomong sejak tadi aku tak tau nama mu. Haruskah aku memanggilmu gadis pirang?"

Gadis itu tertawa dan menjawab ocehan lelaki ini "Emily, Emily Jase Deakin"

Lelaki tadi mengangguk paham. "Baiklah, em. Aku Louis, Louis William Tomlinson"



Yeee... This is my new story. Masih sama kok, perannya Louis Tomlinson. Tapi ceritanya beda ya.

Thanks for reading. All The Love xxxx

Maaf gaje :V

Don't forget leave your vomment(s)

Leave - LTWhere stories live. Discover now