Prolog + Ch.1-1: Dua orang melankolis

33 3 3
                                        

Deandra's point of view:

Matahari sudah berada diatas langit menjadi penghujung pagi, aku tengah berdiri di depan jendela ruangan perpustakaan umum, menunggu kamu datang menjemputku dengan mobil mustang kesayanganmu seraya memandangi orang-orang dan kendaraan yang sekedar numpang lewat. Aku juga sempat melihat beberapa gadis berjalan dengan sepatu roda dengan pakaian mini mereka-atau bahkan hanya mengenakan bikini. Tipikal gadis musim panas, ah, aku jadi teringat Millen, kembaranku, si sanguinis, juga sang gadis yang amat populer.

Aku berjalan ke arah tangga, aku rasa aku akan mengelilingi perpustakaan ini sampai kamu datang, kakiku mulai memapaki kotak yang tertata miring ini, tepatnya menaiki tangga. Aku belum pernah ke ruang atas sebelumnya tapi firasatku mengarahkanku kemari.

Aku sudah berada di ruangan atas, kedua bolamataku mengitari ruangan ini, ruangan ini bernuansa klasik, tidak seperti di bawah. Disini tembok-temboknya dihias dengan beberapa lukisan namun tetap terlihat sederhana, warna kursi dan mejanya juga berbeda, warnanya coklat tua tetapi di bawah lebih terang dan warnanya lebih mengarah ke kuning. Terdapat dua kursi bulat di masing-masing ujung ruangan ini, dua kursi tersebut terbuat dari rotan dan di tengah-tengahnya diletakkan bantal, dua kursi itu berada dekat dengan kaca, dan kursi yang dilengkapi dengan meja berada di tengah ruangan. Lain halnya di bawah, tidak ada kursi bulat hanya kotak.

Aku berjalan kearah rak-rak buku, aku melihat lebih banyak buku sastra dan novel disini, hanya sedikit buku politik atau teknologi, berbeda dengan di bawah yang sama sekali tidak ada buku novel atau sastra di dalam raknya. Mengingat ada janji denganmu hari ini, maka kuputuskan untuk membacanya esok hari.

Aku menundukkan kepalaku agar bisa melihat jam yang berada di tanganku, kedua mataku memandang kedua jarum jam disitu, yang sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh. Kakiku pun akhirnya berjalan menuruni tangga, berharap kamu sudah datang, ternyata belum. Dua puluh menit sudah kuhabiskan untuk menunggumu, padahal janjimu menjemputku pada pukul tepat satu, tapi sekarang sudah lewat dua puluh menit. Cintaku, kamu dimana?

Aku berjalan ke arah kursi kotak, hanya bertopang dagu menunggu kamu datang, aku bisa saja pulang, tapi aku ingin tahu apakah kamu ingat dengan janjimu atau tidak sama sekali. Aku meletakkan sikuku di atas meja, menjadikan kedua tanganku bantalan, aku masih menunggu kamu disini.

Maxime's point of view:

Aku terjebak kemacetan di dalam mobilku, padahal aku sudah janji untuk mengajaknya keluar untuk kencan hari ini, tapi sungguh aku benar-benar terjebak disini, Deandra pasti sudah marah atau pulang karena lama menungguku. Oh, ayolah! Jangan hancurkan kencan pertamaku dengannya, aku tidak mau kencan pertamaku gagal. Aku hanya bisa pasrah sambil menunggu mobil di depanku maju.

Setelah sekian lama mobil di depanku akhirnya maju, lalu begitu pula mobilku, akhirnya aku bebas dari kemacetan ini. Astaga! jam berapa sekarang? Mataku melirik kearah jam di mobilku, pukul satu lewat tiga puluh menit. Ya ampun! Aku harap Deandra masih berada disana. 

Deandra's point of view

"Nona, bisakah anda bangun? Maaf tapi anda tidak bisa tidur disini." Seseorang menepuk-nepuk pundakku, memanggilku dan mencoba membangunkanku, nampaknya dia seorang wanita, mungkin lebih baik aku bangun dan segera melihat wajahnya. Aku takut dia akan memanggil penjaga dan mengusirku. 

"Maafkan aku, aku hanya menunggu seseorang disini," jelasku kepadanya, seraya bertopang dagu. "Aku sedang menunggu kekasihku, aku rasa dia tidak akan datang, padahal hari ini hari kencan pertama."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 09, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PuzzledWhere stories live. Discover now